Mohon tunggu...
Hariadhi
Hariadhi Mohon Tunggu...

Ya har har

Selanjutnya

Tutup

Travel Pilihan

Ingin Bantu Lombok? Berwisatalah di Tengah Bencana

31 Agustus 2018   11:43 Diperbarui: 31 Agustus 2018   11:53 0 2 0 Mohon Tunggu...
Ingin Bantu Lombok? Berwisatalah di Tengah Bencana
dokpri

Bukan, saya bukan menganjurkan wisata bencana ke Lombok. Bukan maksudnya manteman disarankan mengeksploitasi penderitaan para pengungsi untuk foto-foto pencitraan tanpa meninggalkan bantuan.

Saat terjadi gempa Lombok, saya sedang menyiapkan tour #1000kmJKW yang kedua. Sebelumnya di Sumatera yang bisa dibaca di tulisan-tulisan saya sebelumnya. Untuk trip kedua ini saya menjelajahi Jawa, dari Jakarta hingga Jawa Timur. Singgah sebentar di Jogja untuk membantu meramaikan event Literasi Digital Inklusif di Sleman. Saat Mas Kokok Dirgantoro saya ceritakan rencana ini, ia tertarik. 

Kebetulan memang ingin bertemu teman-teman Jogja juga, katanya. Mas caleg sugih dari PSI ini lama terkapar karena sakit sehingga membuat teman-temannya khawatir. Jadi sekalian menyambung kembali tali silaturahmi, saya bawa Mas Kokok untuk menikmati perjalanan darat mengunjungi kebun bawang di sekitar Brebes, pasar tradisional, hingga makan jamur di Muntilan, menuju Temanggung. Lalu menghirup kopi dan bertukar cerita tentang tembakau super mahal di Srintil. Berakhir dengan kunjungan ke fasilitas pengolahan biogas. Semua tempat atas request Mas Kokok sendiri. 

Lepas dari mengantar Mas Kokok ke bandara untuk pulang ke Jakarta, saya jadi bengong sendiri. "Lah mau ngapain lagi nanti sampai di Banyuwangi?" Soalnya terus terang saya tidak punya plan jelas di Jawa. Di Sumatera saya hapal titik-titik yang mau diceritakan. Tapi Jawa? Banyuwangi sama Banyumas saja saya tertukar dan  jadi bahan tertawaan haters di twitter. Hahaha. 

dokpri
dokpri
Butuh sekitar setengah hari perjalanan dari Banyuwangi ke Lombok. Setelah menyeberang ke Bali, seorang teman kuliah bernama Hetty yang menjadi seniman di sana menyisipkan lima lembar uang merah. "Terserah mau diapakan," katanya. Saya janjikan uang tersebut tidak akan saya gunakan untuk kepentingan pribadi, tapi disalurkan ke pengungsi Lombok. 

Sampai di Padang Bai, mobil diperiksa polisi karena mengularnya mobil bantuan untuk Lombok. Petugas yang memeriksa terkejut melihat saya dengan tampang slengekan "Dari Jakarta ini? Sendirian". "Iya pak, bawa titipan bantuan dari teman-teman." Sambil mengacungkan jempol, ia mengembalikan SIM dan STNK saya. Ya, bantuan ke Lombok tidak pernah kurang, justru bertumpuk dan antri. Di pelabuhan Lembar, sudah jelas tertera peta dari BNPB, menjelaskan titik-titik mana saja bantuan mesti disalurkan. 

dokpri
dokpri
Perlahan-lahan, setelah berkeliling Lombok, saya jadi sadar, harusnya saat ini Lombok masuk fase pemulihan atau pasca bencana. Betul ada gempa-gempa susulan, namun sebenarnya gempa kecil yang sudah tidak semenakutkan yang pertama, walaupun kita semua tetap harus waspada. 

Saat saya bertanya ke teman-teman yang sudah lebih dulu terjun, jawaban mereka dari hari ke hari tetap sama. "Terpal kurang, kirimkan beras, minyak goreng, pembalut, dan lainnya." Nah lho.. sampai minggu-minggu setelahnya masih saja minta hal yang sama, berarti ada yang janggal dengan Lombok ini. 

Sesampai di Mataram, saya tanyakan ke Ibu-Ibu penjual nasi pepes tai minyak di  Gomong. "Ya ada.. gempa sebenarnya jarang. Tapi hampir tiap gempa warga ditipu penjahat." Saya berkerinyit. "Pernah saya sedang jualan, sekampung lari semua ke atas. 

Ternyata mereka baru saja melihat ada orang pakai motor klakson-klakson. 'Air naik...! Air naik..!' katanya. Balik-balik motor sudah hilang 6 buah." Katanya terkekeh, miris. Saya jadi menyadari jahat dan kejinya menyebarkan berita bohong dan ramalan-ramalan gempa yang selama ini kita lakukan di media sosial. 

Warga Lombok mengungsi sebagian besar bukan karena tidak punya rumah. Memang ada yang homeless karena rumahnya runtuh. Namun bukan itu problem utama di Lombok. Sebagian warga justru beraktivitas normal, ada di rumah saat siang, sebagian kecil yang bertani tetap menggarap kebun dan sawah, yang berdagang di pasar tetap ke pasar, tapi balik lagi ke pengungsian saat sore hari. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
  9. 9