Travel Artikel Utama

Jakabaring Membuat Jakarta Antara Ada dan Tiada

10 Juli 2018   02:23 Diperbarui: 11 Juli 2018   19:25 4001 8 7
Jakabaring Membuat Jakarta Antara Ada dan Tiada
dokpri

Selama 5 tahun belakangan ini saya begitu bangga jadi warga DKI Jakarta. Di ibukota inilah berbagai perubahan keren terjadi. MRT mulai dibuat, Transjakarta dibereskan armadanya jadi brand bus Eropa, trotoar jadi lapang dan bersih, sungai bersih dari sampah. Dan sebagainya. Rasanya kalau kita ke daerah selalu ingin bilang "Makanya pilih pemimpin yang mau kerja."

Saya tidak punya niat menjelekkan pemimpin DKI Jakara saat ini. Lebih baik kita beri beliau kesempatan kerja dengan tenang untuk bisa membuktikan dirinya sebagai pemimpin. Namun ya kenyataannya agak lain, saat ke Palembang, semua kebanggaan sebagai warga ibukota itu sirna. Warganya hampir semuanya tahu dan antusias dengan perhelatan ini, sementara warga DKI Jakarta jangankan di dunia nyata, di media sosial saja senyap.

Saya, dengan penuh berat hati, mesti mengakui Sumatera Selatan jauh lebih siap menyambut Asian Games 2018.

Dari hal paling sederhana saja, kebersihan dan ketertiban misalnya, Palembang sudah jauh lebih berbenah, sementara Kota Tua, Jatinegara, dan Tanah Abang di Jakarta makin semrawut. Trotoar mulai banyak terlihat dan rapi. Sementara trotoar Sudirman, malah belum siap sebulan jelang perhelatan karena terlalu rajin bongkar pasang desain sekedar untuk nambahin jalur motor.

Penginapan atlet di Jakabaring banyak yang sudah jadi dan siap huni, berdiri dengan cantik menghadap matahari terbit. Jauh lebih bagus dari yang sudah ada di Senayan atau yang saat ini disiapkan di sekitaran Waduk Sunter.

dokpri
dokpri
LRT? Sudah 100% siap. Tinggal nunggu seremonial peresmian dan launchingnya saja. Setiap warga yang saya temui sudah tak sabar mau coba. "Siap mau coba naik bolak balik keliling Palembang, makasih Pak Jokowi!" kata seorang gadis cantik berjilbab dari sekitaran Mal OPI. Mal OPI didirikan dekat sekali dengan Jakabaring, mungkin maksudnya supaya jadi tempat rekreasi dan membeli oleh-oleh para atlet sebelum dan setelah bertanding. Mal ini ramai dan sesak, sama sekali tidak menujukkan gejala kelesuan ekonomi seperti yang dituduhkan politisi oposisi kita.

Saya disarankan oleh teman perjalanan saya, Thomas J Bernadus, untuk membeli beberapa peralatan penunjang perjalanan di mal OPI, termasuk power bank karena terus terang HP saya rakus baterai, apalagi sering dipaksa LIVE berjam-jam untuk dokumentasi perjalanan dengan sinyal 4G. Alhamdulillah dapat powerbank dengan kapasitas 20.000 mAH.

"Di sini murah, kaya gituan bisa dapat sekitar 400 ribuan saja," kata Tommy. Sebagai perbandingan, powerbank dengan kapasitas sama mesti saya beli dengan harga 600 ribuan di toko serba 10 ribu di Pasarbaru, Jakarta.

Tommy juga menyarankan membeli charger USB 4 colokan untuk ngecharge di hotel. Namun saya tolak karena dari laptop sudah ada dua slot USB dan dari charger drone ada dua lagi. Ditambah lagi dengan charger di mobil ada 5 slot, jadi rasanya mubazir kalau membeli charger lagi.

Keputusan ini agak saya sesali karena akhirnya membuat saya sering terpaksa harus menghidupkan mobil dan menghabiskan bensin untuk ngecharge berbagai gadget sekaligus. Padahal kalau dibeli, saya bisa numpang di mana saja di kafe-kafe untuk ngecharge.

Balik ke topik Jakabaring Sport City ..

Jadi pada mau menikmati Jakabaring? Walaupun yang terkenal megah stadionnya, saran saya justru datanglah ke Jakabaring Rowing Lake. Ini adalah danau di bagian timur Jakabaring Sport City. Danau di sini airnya bening dan ada taman yang menghadap tenggara. Jadi saat matahari terbit di pagi hari, kita bisa menonton

dokpri
dokpri
Lazimnya proyek baru dibuka, pasti ada saja petugas yang sok kuasa menanyai izin ini itu saat kita memotret. Namun Jakabaring sama sekali beda! Saat ada petugas mengetok kaca mobil saya, saya sempat menghela napas panjang, saya pikir dia akan bertanya ini itu saat saya mengambil gambar. Ternyata tidak! Dia malah ngomong begini.

dokpri
dokpri
"Maaf bang, tolong parkirnya lurus aja biar nanti terlihatnya rapi dan mudah keluar lagi," lalu memberi aba-aba kepada saya untuk memutar mobil sedikit. Alamak, ternyata mereka sudah disiapkan untuk melayani pengunjung dan akhirnya membantu saya untuk parkir! Jauh sebelum Asian Games dimulai, ternyata Palembang sudah sangat siap, bahkan ke kultur ramah para penjaganya.

Bahkan warga satu persatu memenuhi jalanan di sekitar Jakabaring dengan sepeda, dari cara membawa sepeda yang tidak lagi kebingungan dengan jalurnya, menandakan mereka memang sudah terbiasa di sini dan menggunakan venue ini jauh sebelum saya datang. Semua sudah serba siap!

Berbagai venue lainnya seperti panahan, stadion renang, dan lainnya juga sangat rapi dan bersih. Wisma atletnya juga mengundang decak kagum.

dokpri
dokpri
Di sini juga terdapat helipad, mungkin untuk keperluan helikopter liputan dan kondisi darurat. Dan dari sini saya dan Tommy mendapat kesempatan mencoba drone untuk mengambil beberapa gambar. Tidak ada petugas yang komplen atau reseh menanyakan izin. Mereka tampaknya malah senang kalau ada yang mendokumentasikan dan mempromosikan Jakabaring.

Menjelang malam sebelum pulang, kami merapat ke bagian depan yang ada sign neon besar, menandai venue keren ini. Setiap pengunjung yang saya tanyai selalu berkata siap membantu Pakde Jokowi meramaikan Asian Games 2018. Tentunya dengan membeli tiket dan menonton pertandingan. Bahkan ada pula yang dengan lucu menambahi sendiri kalimat siap dukung dua periode tanpa diminta, hahaha.

"Salam Pak Jokowi, kami siap ramaikan Asian Games dan cobain LRT. Dua periode ya pak..."

Mereka juga berebut minta kaos #JKWadalahkita yang kebetulan saya pakai dan memang tersedia stoknya di bagasi mobil Toyota Calya saya. Mau tak mau karena sudah mau memberi testimoni ya tak bisa saya tolak permintaannya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2