Mohon tunggu...
Harfei Rachman
Harfei Rachman Mohon Tunggu... Freelancer - An Un-educated Flea

Aku, pikiran yang kamu takkan bisa taklukkan.

Selanjutnya

Tutup

Film Pilihan

Balada Satirisme dalam Merebut Kekuasaan ala "The Favourite"

8 Februari 2019   18:04 Diperbarui: 8 Februari 2019   19:02 378
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Di dalam kisahnya, The Favourite adalah sebuah cerita berlatar-belakang abad 18 di Inggris Raya, kisah ini bermula Ratu Anne yang dilanda oleh berbagai penyakit, salah satunya dia mengidap gout dan telah mengalami keguguran sebanyak 17 kali dan ditinggal oleh suaminya.

Sepanjang pergulatannya melawan berbagai penyakitnya, dia ditemani oleh teman masa kecilnya, Lady Sarah Churchill atau yang juga dikenal sebagai Duchess of Marlborogh.

Nah ternyata di antara kedua wanita ini, tumbuh hubungan yang kuat. Yang terkadang membuat iri satu istana, terutama Robert Harley, anggota parlemen sekaligus seseorang yang paling berpengaruh dalam urusan pajak dan perang dan juga Sidney Godolphin, pejabat istana yang juga dikenal adalah pemilik bebek tercepat se-Inggris raya. 

Lalu datanglah Abigail Hill, yang memiliki ikatan darah dengan Lady Sarah yang yang mencoba memperbaiki nasib dengan mencari pekerjaan di istana. Namun sampai disana, dia diperlakukan sebagai pekerja kasar, atau bahasa lainnya pelayan istana.

Terjadi sebuah momen ketika Abigail ketika memberikan sebuah tumbuhan obat untuk Ratu Anne yang awalnya membuat Lady Sarah memberikan hukuman ke Abigail, namun ketika Sang Ratu malah merasakan tubuhnya membaik dengan tumbuhan itu, hukuman ke Abigail lalu dihentikan dan Abigail menjadi pelayan utama Lady Sarah dan membuat hubungan keduanya membaik. Namun intrik di dalam film ini baru menandakan awal cerita.

Ya mungkin anda akan dibuat terperangah dari adegan-adegan awal The Favourite yang memanjakan mata namun banyak mengandung arti dan terkesan satir. Tapi bila anda sudah terbiasa menonton film-film Yorgos Lanthimos, yaitu The Lobster (2015) dan The Killing of Sacred Deer (2017) atau mungkin filmnya terdahulu, Dogtooth (2009) anda akan pelan-pelan memahami namun tetap tidak bisa menebak kemana langkah alur film ini akan berakhir.

Penikmat film akan terbiasa oleh adegan per adegan yang ditawarkan Yorgos yang terkadang membuat penontonnya terkadang mengernyitkan dahi. 

Campuran film drama di Inggris awal abad 18 yang dibawakan secara kontemporer ditambah eksplorasi yang kekinian ala Yorgos Lanthimos membuat film ini terkesan unik dan menarik. Dan kekuatan lain dari film ini muncul dari interaksi antara ketiga karakter utama diantara Ratu Anne, Lady Sarah, dan Abigail Hill.

Akting dari Olivia Colman, Rachel Weisz, hingga Emma Stone sangatlah menonjol dan peran mereka di film ini lebih berkembang dan memiliki motif tertentu ketimbang karakter-karakter yang lainnya di film ini (yang sebenarnya sudah memiliki porsi yang pas). 

Olivia Colman yang mungkin namanya belum setenar Rachel Weisz dan Emma Stone mampu menjadi sosok Ratu Anne yang ditakuti namun terkadang terlihat rapuh bahkan terkadang labil membuktikan akting Olivia Colman layak untuk diapresiasi dan pantas untuk menang di Golden Globes 2019 dan masuk nominasi Oscar sebagai peran utama wanita terbaik.

Ditambah lagi keanggunan dari akting Rachel Weisz yang menjadi sahabat Ratu Anne sejak kecil, berbeda dengan Olivia Colman dan Emma Stone, terlihat akting Rachel Weisz sangatlah lebih matang dan terkesan dingin, namun ketika seperempat film akan berakhir, anda takkan menyangka apa yang dilakukan oleh Lady Sarah telah mengubah persepsi saya di awal film.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Film Selengkapnya
Lihat Film Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun