Mohon tunggu...
Harfei Rachman
Harfei Rachman Mohon Tunggu... A Kompasianer who Could Never Be verified

Lelaki tak beredukasi tinggi yang memiliki selera film dari Frank Capra, Kurosawa, sampai Tarkovsky.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Babak 4: "Negeri Para Perundung"

23 Agustus 2018   21:45 Diperbarui: 24 Agustus 2018   10:16 0 0 0 Mohon Tunggu...
Babak 4: "Negeri Para Perundung"
ilustrasi: @anitanurfitriany

Mataku terpaku padanya, tubuhku mematung disaat dia bernyanyi lagu Fine on the Outside, soundtrack dari film When Marnie was There. Malam itu terlalu syahdu dan terlalu indah bagai menatap lukisan Starry Night-nya Van Gogh. Mirisnya malam pertamaku bersamanya, adalah malam terakhir aku merasakan sisi lain dari seorang Lala.

"Hiro, elu gak perlu takut sama hal-hal yang mengusik hidup elu." katanya setelah bernyanyi di tempat karaoke yang berada di Jakarta Pusat. Sesambil menyeruput cocktail miliknya. Lala kembali melamun. Matanya lalu berkaca-kaca, dan dia menangis layaknya seorang anak kecil. Aku hanya bisa memandangnya, aku tak sampai hati menyentuhnya menanyakan kenapa dia menangis. Sambil sesenggukan, Lala memberikan sebuah mikrofon kepadaku. "Bernyanyilah untukku." katanya.

Sejujurnya, aku tidak bisa bernyanyi, namun malam ini kupaksakan untuk bernyanyi, sekedar untuk melipur lara seorang dara di sampingku. Lalu aku memilih salah satu lagu yang berjudul I'd Rather Dance with You milik Band asal Norwegia, Kings of Convenience. Aku mencoba menyanyikan lagu itu ke depan Lala, karena aku tau dia adalah fans berat Kings of Convenience. Sambil bercanda, sesekali aku bergoyang kaku seperti di video klipnya. Lalu Lala sesekali melihatku, dan tertawa lepas melihatku. Lalu aku kembali bernyanyi lagu yang lain, yaitu Stay out of Trouble. Dan di saat ku bernyanyi, aku menekankan suaraku saat berada di lirik ini.

 I wish I had your scarf still,
that once embraced,
and kept me warm.
I wish you could be with me,
in these last days when I am still hopelessly poor.


Sambil bernyanyi, ku tatap wajah Lala. Ekspresi yang tak ku mengerti. Dia menatapku, matanya kembali berkaca-kaca. Setelah lagu itu selesai, kami diam tanpa kata dan tak pernah bertemu lagi setelah itu.

Sebelumnya Baca: Babak 3: "Biru dan Arwah Lelaki Tua."

"Tulisan ini kutemukan dalam kamar Lala, sekitar dua tahun yang lalu." kata Akbar di sebuah kafe di bilangan Jakarta Barat. "Setelah itu, aku mencoba menemui Hiro dan minta menjelaskannya kepadaku. Tetapi Lala menahanku dia bilang dia takkan pernah menemuiku bila aku berurusan sama Hiro lagi." kata Akbar. Arnold dan Alisa mencoba menyimak, sesambil menengguk kopi arabica, Alisa pun berbicara "Lalu apa yang terjadi?"

"Aku tetap mencoba membuat perhitungan dengan Hiro, selama ini kami selalu berseteru dalam beberapa hal. Dan aku dan teman-temanku sering merundung dia sejak SMA. Aku dan kedua temanku, Kemal dan Felix sering mempermainkan Hiro saat di sekolah. Namun pada suatu hari.." Akbar memberhentikan bicaranya. Sambil bergetar, dia berkata "Akhirnya malam itu tiba, malam yang menjadi karma buat kami terjadi."

"Kala malam itu,malam perpisahan SMA di daerah Puncak, kami bertiga mencoba mengerjai Hiro. Kami mencoba memukuli dia hingga babak belur dan meninggalkannya di dalam hutan. Tetapi yang terjadi esoknya, saat perjalanan pulang, dia hadir di antara barisan kami. Dia sempat melihat kami sambil tersenyum, dan yang tidak masuk akal, di wajahnya tak ada bekas darah atau memar satu-pun." sesambil menceritakan, lalu Akbar memperlihatkan sebuah bekas jahitan di kakinya. 

Sambil bergetar, dia berkata "Lalu karma buruk itu terjadi kepada kami. Pada malam itu kami bertiga bersama-sama memiliki mimpi yang sama yaitu seekor Macan Putih datang menyergap kami bertiga. Dan gilanya lagi, dia berbicara bahasa manusia dan berkata KALIAN AKAN MENERIMA KARMANYA!" 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x