Mohon tunggu...
HL Sugiarto
HL Sugiarto Mohon Tunggu... Full Time Blogger - Menulis untuk dibaca dan membaca untuk menulis

Hanya orang biasa yang ingin menulis dan menulis lagi.

Selanjutnya

Tutup

Foodie Pilihan

Soto, Riwayatmu Dahulu dan Kini

26 Desember 2019   11:13 Diperbarui: 26 Desember 2019   11:24 146
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Foto : Soto Madura (dokumen pribadi)

Artikel ini berdasarkan editing dan penulisan ulang dari tulisan di Steemit.com (blog pribadi penulis)

Seringkali ketika kita makan di luaran seperti restoran, warung, depot dan rumah makan  akan  menemukan salah satu jenis makanan ini, yaitu soto. Makanan yang sudah lazim menjadi menu santapan banyak orang dan hampir bisa ditemukan di setiap propinsi Indonesia. Akan tetapi kita belum sadar bahwa masakan soto ini memiliki sejarah yang panjang dari sejak jaman kolonial Belanda sampai sekarang, soto telah berevolusi menjadi banyak varian tergantung dari selera masyarakat setempat. 

Foto : Sebaran dan varian soto nusantara (sumber : Lokadata.id
Foto : Sebaran dan varian soto nusantara (sumber : Lokadata.id
Sejarah Singkat Masakan Soto

Soto ternyata memiliki sejarah yang cukup menarik, karena jenis makanan  ini sudah ada  sejak jaman kolonialisme Belanda di Indonesia. Kemunculan soto secara tepatnya tidak diketahui, akan tetapi menurut Sejarawan Universitas Padjadjaran, Fadly Rahman, bahwa soto sudah dipopulerkan oleh kalangan masyarakat Tionghoa yang ada di Semarang sekitar abad ke-19. Dalam bukunya  Denys Lombard,  yang berjudul Nusa Jawa : Silang Budaya, jilid 2, mengungkapkan bahwa pada saat itu soto sudah menjadi bagian dari masyarakat Indonesia khususnya soto ayam dan soto babat.

Kata soto berasal dari kata caodu  dan chau tu , yang artinya 'cau' artinya rumput dan 'du' berarti jeroan. Pada jaman kolonial Belanda memang rata-rata soto dibuat dari jeroan sapi, karena harga daging sapi pada saat itu relatif mahal dan hanya golongan orang Belanda dan orang berduit saja yang bisa membelinya. Terlebih lagi jeroan sapi dianggap barang yang tidak layak dimakan oleh orang-orang Belanda.

Foto : Model foto studio yang menggambarkan penjual soto jaman kolonial Belanda (sumber : collectie.wereldculturen.nl, H. Salzwedel)
Foto : Model foto studio yang menggambarkan penjual soto jaman kolonial Belanda (sumber : collectie.wereldculturen.nl, H. Salzwedel)

Peran serta seorang peranakan Tionghoa juga turut andil dalam penyebaran masakan soto ini, dia adalah seorang pengasuh rubrik “Majalah Dapur” di star weekly sejak tahun 1951-1961 yang mempunyai nama pena Julie. Dalam setiap pekan dia menyeleksi surat-surat permintaan penggemar rubriknya agar membahas masakan tertentu dan pernah ada seorang pembaca yang meminta resep Soto Bandung agar dibahas dalam rubriknya dan secara tidak sadar, rubrik yang diasuh olehnya telah membangkitkan kesadaran orang untuk membuat masakan sesuai dengan cita rasa dan bahan yang ada di daerah masing-masing. 

Penyebaran resep soto  bisa terjadi karena inisiatif Presiden Sukarno, beliau sempat mengutus istrinya, Hartini untuk mengumpulkan resep-resep tradisi nusantara termasuk mengenai masakan soto. Kumpulan resep-resep tradisional nusantar ini akhirnya dibukukan dalam sebuah buku resep berjudul  Mustika Rasa, terbit tahun 1967 yang tebalnya sekitar 1.123 halaman. 

Foto : Penjual soto daging Madura masa kini (Sumber : dokumen pribadi)
Foto : Penjual soto daging Madura masa kini (Sumber : dokumen pribadi)

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Foodie Selengkapnya
Lihat Foodie Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun