Mohon tunggu...
Hantiga Sanggar Nugroho
Hantiga Sanggar Nugroho Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa

Menulis adalah senapan dan membaca adalah pelurunya.

Selanjutnya

Tutup

Ruang Kelas

Dinamika Organisasi Mahasiswa dan Politik Kampusnya

15 Maret 2022   03:47 Diperbarui: 15 Maret 2022   05:24 1535 2 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

"Menjadi mahasiswa harus tulus dan berani melawan arus, bukan hanya sekedar ingin cepat lulus."

Mahasiswa sejatinya adalah seorang pembelajar, mahasiswa terus dituntut untuk terus belajar dan berproses. Dalam dunia kampus sendiri banyak tempat atau wadah untuk kita belajar dan berproses, salah satunya adalah Organisasi Mahasiswa (Ormawa). Sebagai salah satu universitas swasta terbaik di negeri ini, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta memiliki banyak organisasi mahasiswa baik di tingkat prodi/jurusan, fakultas, maupun universitas. Universitas yang memiliki slogan "Muda Mendunia" ini bahkan sangat memperhatikan dan memfasilitasi setiap organisasi-organisasi yang ada. Dari segi keberlangsungan, pihak universitas juga memberikan dukungan berupa nilai tambahan dan dispensasi perkuliahan untuk mahasiswa-mahasiswa organisatoris.

Organisasi mahasiswa terbagi menjadi dua yaitu organisasi internal kampus dan organisasi eksternal kampus. Organisasi internal kampus merupakan sebuah organisasi yang didirikan secara formal di dalam kampus, dan memiliki naungan dari kampus itu sendiri. Contoh organisasi internal kampus yaitu, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM), Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ), dll. Sedangkan, organisasi eksternal kampus merupakan organisasi yang tidak berada dibawah naungan kampus, yang mana pergerakan dan perjuangan organisasi ini kebanyakan berada di luar lingkungan kampus, organisasi ini memiliki hierarki kepengurusan yang berjenjang atau bertingkat hingga ke kancah kepengurusan Nasional. Contoh organisasi eksternal kampus yaitu, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia (SEMMI), dsb.

Pada dasarnya organisasi mahasiswa didirikan dengan tujuan yang mulia yaitu bertujuan untuk pengembangan minat, bakat, dan potensi yang dimiliki oleh mahasiswa dengan segala kegiatan di dalamnya. Akan tetapi terdapat sisi lain dalam lingkungan organisasi mahasiswa. Dalam lingkungan mahasiswa organisatoris masih terdapat paradigma berpikir yang kurang tepat, seperti adanya mahasiswa yang anti organisasi internal dan ada pula mahasiswa yang anti terhadap organisasi eksternal kampusnya. Namun ada pula mahasiswa yang terjun dalam keduanya, dan itu merupakan salah satu pengalaman yang berharga karena secara bersamaan ia dapat merasakan dinamika dan dialektika keduanya.

Seiring perkembangan, mungkin terdapat perubahan-perubahan signifikan yang terjadi dalam organisasi mahasiswa dan pola pikir anggota/kadernya. Sekarang organisasi mahasiswa seolah melupakan tujuan mulianya, ormawa hanya fokus pada Recruitment anggotanya secara besar-besaran atau dapat dikatakan lebih mementingkan kuantitas daripada kualitas. Bukan hal yang salah sebenarnya, akan tetapi apabila hal tersebut terus dilakukan akan muncul masalah internal di dalam organisasi itu sendiri. Akan banyak penyelewengan ideologi dan tidak patuhnya para kader/anggota terhadap konstitusi organisasi sehingga akan menyebabkan permasalahan lebih besar yang akan membawa nama organisasi tersebut. Hal tersebut merupakan permasalahan yang harus diperhatikan oleh organisasi-organisasi mahasiswa supaya marwah ormawa tidak terkontaminasi dan terus melahirkan calon pemimpin bagi negeri ini.

Banyak dinamika dan makna di dalam organisasi mahasiswa, banyak pengalaman menarik yang terjadi di dalamnya. Salah satunya adalah politik kampus. Politik kampus ialah pengejawantahan dari gerakan mahasiswa dan berwujud pemerintahan mahasiswa. Kampus menjadi representasi negeri dan kawasan lahirnya generasi intelektual masa depan, memiliki andil yang besar terhadap pembangunan insan yang berkualitas dan kompeten di bidangnya. Politik kampus tidak terlepas dengan organisasi mahasiswa, baik internal maupun eksternal. Organisasi mahasiswa memanglah sarat akan sebuah kepentingan, tak luput perihal kepentingan politik. Karena pada dasarnya menurut Aristoteles manusia adalah makhluk zoon politicon yaitu makhluk yang berpolitik. Setiap tindakannya tidak terlepas dari tindakan politis.

Politik kampus tak luput dengan dinamika Pemilihan Raya (Pemira) kampus. Pada dasarnya pemira sebuah mekanisme demokrasi kampus yang diselenggarakan secara langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil. Sederhananya, pemira merupakan ajang demokrasi di perguruan tinggi untuk memilih wakil-wakil mahasiswa yang akan duduk di Lembaga Eksekutif, Legislatif, dan Yudikatif baik ditingkat fakultas maupun universitas, seperti Ketua dan Wakil Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM), Ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ), dan perangkat lainnya. Biasanya pemira dijadikan momen sebagai pemanfaatan organisasi-organisasi besar yang penuh dengan sarat akan kepentingan dengan menyebarkan ideologi atau groupthink masing-masing untuk mengikat anggota dan mendongkrak suara dalam pemira nantinya.

"Dalam politik, tidak ada musuh abadi atau teman abadi" kutipan tersebut cukup terkenal dalam dunia perpolitikan, dan memang benar adanya. Politik kampus merupakan pengalaman yang berharga dan penuh makna, salah satunya adalah fenomena dimana teman-teman seperjuangan tidak lagi bersama karena adanya perbedaan pandangan dan pilihan dalam ruang politiknya. Dapat dikatakan politik merupakan kuas yang dapat merias dua wajah dan sikap yang berbeda pada manusia dalam konteks ini adalah mahasiswa. Selama itu banyak perubahan-perubahan yang terjadi dalam hubungan pertemanan seperti adanya penolakan mengerjakan tugas bareng dengan alasan yang tak masuk akal, dan adanya rasa canggung ketika papasan. Banyak metamorfosa yang terjadi yang seharusnya tidak terjadi. Apabila dipikir secara mendalam dalam setiap permasalahan selalu terdapat pembelajaran, dalam hal ini pembelajaran yang dapat diambil adalah "proses pendewasaan" baik proses pendewasaan lahir, batin, maupun pola pikir.

Sebenarnya perbedaan madzhab politik merupakan hal yang lumrah, yang terpenting adalah bagaimana caranya kita menyikapi perbedaan tersebut dan menjaga hubungan pertemanan tetap aman dan nyaman di dalam perbedaan. Miris rasanya apabila terdapat sebuah hubungan pertemanan yang putus di tengah jalan cuma karena urusan politik yang bersifat sesaat. "Yang lebih penting daripada politik adalah kemanusiaan" itulah yang dikatakan oleh almarhum Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Seharusnya memang begitu cara laku paradigma berpikirnya bahwa keharmonisan sebuah hubungan merupakan perihal yang harus diutamakan.

Mohon tunggu...

Lihat Konten Ruang Kelas Selengkapnya
Lihat Ruang Kelas Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan