Hans Panjaitan
Hans Panjaitan karyawan swasta

kecebong

Selanjutnya

Tutup

Analisis Pilihan

Begitu Bodohkah Oposisi?

6 Oktober 2018   12:57 Diperbarui: 6 Oktober 2018   13:14 1532 2 1
Begitu Bodohkah Oposisi?
(Foto: dok Twitter Fadli Zon)

Berita tentang Ratna Sarumpaet yang ujug-ujug tampil babak belur mungkin belum akan dilupakan banyak orang hingga tahun 2018 ini berakhir. Bahkan memori "wajah bonyok" ini akan terbawa-bawa hingga pilpres tahun depan. 

Sebab peristiwa babak belurnya wajah Ratna jelas bukan hanya masalah dia seorang, namun diduga sudah merupakan skenario besar dari sebuah kelompok besar dengan tujuan yang sangat besar.

Logikanya, untuk apa sih seorang nenek usia 70 tahun merasa perlu melakukan operasi plastik pada wajahnya? Apa lagi selama ini tidak ada yang aneh atau yang ganjil pada wajah Ratna. 

Dalam usianya yang sudah sepuh, dia tetap energik, wajah bercahaya, bahkan tampak garang kalau sedang berbicara di forum-forum. Artinya, tidak ada masalah dengan wajah perempuan yang menjadi salah seorang juru kampanye pasangan capres Prabowo-Sandi ini. Kondisi dari salah seorang pejuang pihak oposisi ini baik-baik saja. 

Oposisi yang semakin kehilangan ide untuk menyerang pemerintah Jokowi, tentu semakin galau, frustasi dan putus asa. Segala hoax dan isu murahan, fitnah segala macam yang mereka sebarkan di medsos tidak bergaung, tidak berdampak.

Justru sebaliknya rakyat makin simpati kepada pemerintah yang begitu cepat dan sigap bergerak terutama ketika terjadi bencana gempa di Lombok (NTB), hingga belum lama ini gempa yang lebih dahsyat dan tsunami melanda Palu, Donggala (Sulawesi Tengah), dan sekitarnya.

Lepas dari itu, kita memang harus akui bahwa pihak oposisi sangat ahli dalam membuat segala macam hoax dan propaganda yang bisa menyesatkan publik. Bagi warga yang aktif di media sosial semacam Facebook pasti bisa merasakan hal ini. 

Bagi mereka tidak ada satu pun tindakan pemerintah saat ini yang benar. Semua salah, dan bahkan menuding Jokowi pembohong dan penipu, dengan alasan tidak ada satu pun janji-janji kampanye Jokowi yang dipenuhi. 

Entah rumus apa yang mereka gunakan sehingga berani mengatakan ini. Bahkan ketika kasus Ratna Sarumpaet terkuak sebagai pembuat hoax terbaik, seorang oknum dari kubu oposisi yang gemar berpakaian ala orang Arab, TZ, masih mencuitkan status di medsos bahwa bohong Ratna Sarumpaet itu belum apa-apa dibanding bohongnya Jokowi. Dasar ghendeng!

Masyarakat jaman now sudah cerdas dan tidak percaya bahwa peristiwa babak-belurnya wajah Ratna ini merupakan sesuatu yang ujug-ujug terjadi. Pasti ada skenario besar di balik itu, yang titik start-nya dimulai dari operasi plastik ini. 

Guna mengurai misteri ini, kita harus mempertanyakan motif seorang nenek-nenek usia 70 tahun melakukan  operasi plastik. Jawaban yang paling mungkin dalam kasus ini adalah: untuk mendapatkan wajah bonyok atau babak belur. Sebab teorinya memang demikian, wajah yang baru mengalami operasi plastik akan tampak bagaikan orang yang baru saja dihujani  pukulan keras dan bertubi-tubi. Wajah orang yang baru melakukan operasi plastik akan tampak bagai korban penganiayaan berat dan sadis. 

Selanjutnya, wajah bonyok atau babak belur inilah yang akan dijual oleh pihak-pihak yang menciptakan skenario ini, disertai kalimat atau kata-kata yang membuat orang-orang dengan lekas dapat menyimpulkan atau menduga tentang siapa pelakunya. 

Di tahun politik yang sangat panas, ketika seorang juru kampanye dianiaya orang-orang tak dikenal, maka yang pertama dituding dan dicurigai sebagai pelaku pastilah pihak lawan. Apalagi "korban" ini dikenal sangat nyinyir dan dibenci pihak lawan. 

Sampai di sini, para perancang skenario masih bisa dikatakan jenius dan brilian. Namun ketika mereka memilih operasi plastik untuk memperoleh wajah lebam-lebam seperti orang yang baru dianiaya, mulailah tampak betapa bodohnya mereka. 

Mestinya mereka berpikir juga tentang kemungkinan orang-orang yang terlibat dalam proses operasi di rumah sakit itu "buka mulut" jika kasus ini ramai dan menjadi polemik di tengah-tengah masyarakat. Sebab tidak mungkinlah membungkam mulut semua orang di rumah sakit yang sudah mengetahui proses bedah plastik ini.

Kemudian, cepatnya mereka menggelar konferensi pers,  juga memperlihatkan kebodohan itu.  Mereka tampak begitu bernafsu memberitakan peristiwa itu supaya masyarakat luas segera tahu karakter sebenarnya dari pendukung capres yang terus bekerja itu. 

Semua tahapan-tahapan itu dilakukan serba terburu-buru dengan harapan segera mendapatkan hasil yang signifikan, yakni tergerusnya simpati rakyat banyak terhadap petahana, dalam hal ini pemerintah, secara khusus lagi Jokowi.  

Namun semua skenario ini berantakan dengan sangat memalukan. Bahkan aktor, eh..., aktris utamanya yang sudah dalam posisi OTW ke luar negeri ditangkap petugas di dalam pesawat.  Semoga si "pencipta hoax terbaik" ini segera mendapatkan pelayanan yang baik dari hamba hukum yang segera memprosesnya.

Semoga saja peristiwa ini ada hikmahnya, dan publik semakin tahu tentang siapa atau kelompok mana yang sejatinya gemar atau hobby membuat hoax dan menyebarkannya di medsos, lalu menuding orang lain sebagai pembuat hoax. Pengakuan Ratna Sarumpaet bahwa dia adalah pencipta hoax terbaik, dengan sendirinya sudah menjawab banyak hal tentang hoax.