Hans Panjaitan
Hans Panjaitan karyawan swasta

kecebong

Selanjutnya

Tutup

Humor

Nasi Goreng Pembawa Damai

25 Mei 2018   14:12 Diperbarui: 25 Mei 2018   14:22 660 0 0
Nasi Goreng Pembawa Damai
pinterest.com

Aku paling tidak suka melihat nasi berlebih di malam hari. Kalau bisa, aku selalu berusaha menghabiskan. Atau kalau perlu dihibahkan ke orang lain yang membutuhkan, daripada nanti terbuang sia-sia. Maka aku rewel kalau istri memasak nasi dalam takaran yang lebih, yang membuat nasi bersisa di malam hari. Sepiring kecil pun nasi bersisa, aku pasti ngomel. Kalau istri sedang tidak suka diomeli, maka pertengkaran pun tidak terhindarkan. Dan itu sudah bagaikan siklus yang membuat lelah lahir dan batin.

Maka daripada rumah tangga sering berkecamuk gara-gara sepiring nasi sisa, aku mulai berpikir untuk mengolah nasi sisa itu menjadi nasi goreng. Ide brilian en jenius ini hadir ketika aku membaca  status seorang teman di medsos, bunyinya: "Daripada mengutuki kegelapan, lebih baik nyalakan sebatang lilin". Joss!

Aku tahu, teman itu hanya mengutip kalimat dahsyat itu dari seorang filsuf. Namun tetap saja aku kagum dan memuji pilihan kata-kata bijak temanku itu. Dan aku mencoba menerjemahkan kata-kata nan agung itu sebagai solusi untuk masalah rutin di rumah tangga: Daripada berantam gara-gara sepiring nasi sisa, mendingan kuolah  jadi nasi goreng di pagi hari. Plong!

Ketika malam hari ada nasi sisa sepiring, aku malah tersenyum sumringah. Istriku heran plus bingung. Padahal, dari gelagatnya dia sudah siap berdebat. Dari tadi dia tekun menonton acara debat di televisi. Ruhut Sitompul vs Fahri Hamzah. Nyonya rumah tampaknya sudah siap mempraktekkan gaya debat kedua orang itu. Namun karena diam-diam aku sudah punya solusi, situasi rumah pun jadi aman dan terkendali.

Esok harinya pukul 05.00, aku bangun dengan riang. Istriku yang sudah bangun beberapa menit sebelumnya ikut-ikutan bersukacita. Sungguh suasana yang sangat kondusif untuk memulai aktivitas di pagi hari, terutama bagi kita-kita yang berkarir di luar rumah. Istriku pamit kerja. Aku sendiri sibuk mengeluarkan bumbu-bumbu dapur seperti bawang merah tiga siung, bawah putih satu siung, cabe merah empat biji, jahe. 

Setelah kukupas dan bersihkan, aku mengiris-iris semuanya lalu masukkan ke gelas. Kemudian aku ambil dua butir telor dari kulkas dan pecahkan ke dalam gelas bergabung dengan irisan bumbu-bumbu tadi. Tambahkan sesendok teh garam, dan merica. Lalu kocok. Cok... cok... cok...

Eh, masih ada yang kurang. Daun bawang, untung masih ada di kulkas, kutarik bersama daun seledri yang masih segar. Cuci bersih dulu. Lalu kupotong-potong dan gabung dengan adonan telor. Langkah selanjutnya adalah menyalakan kompor, menyiapkan wajan, dan minyak goreng. Setelah minyak panas, adonan telur bercampur daunan itu ku taburkan ke wajan. Nyesssssssssssssssssssssssssss....!

Beberapa menit kemudian, nasi sisa semalam saya masukkan ke dalam wajan, tapi tentu saja setelah lebih dahulu mengendus status si nasi dengan cermat, apakah masih OK atau sudah basi? Kalau sudah basi, ya sia-sia saja. Kalau nekat makan nasi basi yang sudah digoreng sekalipun, tetap saja tidak baik untuk dikonsumsi. Sakit perut, itu risiko minimal!

Tidak sampai lima belas menit, nasi goreng yang sudah jadi itu kumasukkan ke dalam tupperware yang punya lobang ventilasi. Sebab kalau tertutup rapat, nasi goreng panas itu akan basi beberapa jam kemudian. Setelah mandi dan ganti pakaian, aku masukkan tupperware berisi nasi goreng itu ke dalam tas, dan berangkat ke kantor. Untuk jatah makan siang. Untuk sarapan pagi, aku biasa minum kopi di kantin, dan menyantap makanan ringan seperti roti, gorengan.  

Siang hari, pada jam istirahat, dengan bangga aku memperlihatkan nasi goreng "buatan dalam negeri" itu ke rekan-rekan. Beberapa orang memuji, sebagian meledek. Tidak perduli apa kata orang. Faktanya nasi goreng bikinan sendiri itu nikmat dan lezat! Dan yang lebih penting, aku tidak perlu makan siang di kantin yang bisa menyedot isi dompet paling sedikit Rp 20.000,-

Begitulah. Karena sudah sering bikin nasi goreng di pagi hari, aku jadi merasa ahli. Kalau dulu waktu pertama sekali saya butuh lebih dari 15 menit, kini aku sudah bisa menyiapkan semua dalam waktu lima menit! Bahkan dalam kondisi waktu mepet pun, karena bangun sedikit kesiangan, aku tetap percaya diri menyulap nasi sisa menjadi nasi goreng. 

Dan lama-lama aku pun semakin pandai membuat variasi. Kalau tidak ada cabai dan bawang, aku ambil saja saos sambal dan campurkan telur ayam dan daun-daunan yang relevan dengan itu. Bahkan kalau pas ada daging ayam sisa, bisa dicampurkan pula setelah disobek-sobek menjadi ukuran kecil. Hasilnya, rasanya, tentu makin maknyus...

Aku berharap ada pihak yang menyelenggarakan lomba cepat bikin nasi goreng, dan aku yakin pasti juara. Hihihihihihihihihihihi.............