Hans Panjaitan
Hans Panjaitan karyawan swasta

kecebong

Selanjutnya

Tutup

Budaya Artikel Utama

Agama Bukan untuk Diperdebatkan dan Dipertentangkan

22 Mei 2018   11:35 Diperbarui: 23 Mei 2018   16:12 2358 9 6
Agama Bukan untuk Diperdebatkan dan Dipertentangkan
Sumber ilustrasi: depositphotos.com

Saya menyambut gembira dan sumringah ide "brilian" pengelola kompasiana yang telah memecah beberapa rubrik sehingga menjadi lebih spesifik. Misalnya "Humaniora" yang telah dibelah menjadi beberapa subrubrik: budaya, bahasa, filsafat, sejarah, sastra, sosial, pendidikan. Yang menarik, subrubrik "agama" nihil. Hal ini sangat dimengerti, mengingat pengalaman Kompasiana di masa silam. Bagi Kompasianer yang sudah aktif ketika situs ini baru muncul beberapa tahun lalu, pasti ingat tentang rubrik "agama". 

Rekan-rekan mungkin kerap berinteraksi di sana dulu--kalau tidak menulis artikel, ya berkomentar. Bagi saya rubrik agama ketika itu sangat populer, bahkan paling populer di antara sekian rubrik Kompasiana kala itu. Banyak artikel di rubrik agama yang dihujani komentar dalam waktu yang sangat lama. Namun kebanyakan bukan komentar positif yang sifatnya mencerahkan atau membangun kerukunan beragama, namun justru jadi ajang hujat dan caci-maki. Panas terus! Maka saya maklum ketika akhirnya rubrik agama itu diganti namanya menjadi "humaniora", yang belum lama ini kemudian dipecah lagi menjadi beberapa subrubrik, minus "agama".

Agama memang menjadi topik yang sangat "seksi" untuk dibahas, dan juga diperdebatkan khususnya di media-media sosial. Dan uniknya, perdebatan antara orang yang berbeda agama seringkali berubah menjadi debat kusir, yang tidak jelas ujung pangkalnya.

Itu terjadi karena masing-masing ngotot bahwa agamanyalah yang benar, dan yang lain itu sesat atau palsu.

Bah?!

Panas dan tegangnya "diskusi" soal agama berubah menjadi aksi saling ejek dan hina, bahkan ada yang main ancam. Tapi untunglah semua itu hanya terjadi di dunia maya, media sosial. Tidak bisa dibayangkan apabila debat yang panas membara itu terjadi di sebuah tempat di mana kedua belah pihak berdekatan secara fisik. Bisa-bisa yang terjadi adu jotos, dan bahkan bisa lebih mengerikan dari itu. 

Hal ini sudah memberikan pelajaran berharga bahwa tidak ada manfaatnya memperdebatkan agama, yang pada dasarnya hanyalah "keyakinan" orang per orang. Dan yang namanya keyakinan, tidak bisa dipaksakan kepada orang lain. Biarkan orang lain dengan keyakinannya, dan kita tetap dengan keyakinan kita sendiri. Hidup rukun dan damai, saling menjunjung toleransi. 

Hidup tertib dan beradab. Sebab perbedaan (agama) itu kemauan Tuhan Yang Mahakuasa jua. Kalau Tuhan mau, adalah sangat mudah bagi-Nya menjadikan semua orang di jagad raya ini satu jenis. Lalu kenapa ada orang yang berambisi mengubah ketetapan Sang Pencipta itu?

Agama itu menganjurkan kepada kebaikan. Agama itu mengajarkan pengikutnya untuk berperilaku baik, santun, menghormati sesama manusia, dan menghargai ciptaan Tuhan yang lain.

Agama itu indah. Tetapi mengapa agama kerap menjadi sumber konflik? Banyak peristiwa mengerikan terjadi di muka bumi ini karena faktor agama. Banyak orang melakukan hal-hal yang sangat tercela dengan mengatasnamakan agama. Banyak pihak yang menjual agama demi mencapai tujuan politik. Agama disalahgunakan untuk mencari pengikut sebanyak-banyaknya. 

Selanjutnya, para pengikut dimanfaatkan untuk melakukan hal-hal yang sering kali malah tidak ada kaitannya sama sekali dengan ajaran agama. Agama itu mengarahkan para pengikutnya untuk melakukan hal-hal yang baik. Namun mengapa ada saja orang yang rela melakukan perbuatan yang merugikan dan membahayakan sesama manusia, gara-gara mengikuti ajaran seseorang oknum yang mengatasnamakan agama?

Peristiwa bom di Surabaya beberapa waktu lalu, yang dilakukan oleh sekeluarga. Itu bukan hanya menyakiti para korban dan keluarga mereka, namun juga pihak keluarga pelaku sendiri. Semua orang merasa terluka dan tersakiti oleh peristiwa yang seharusnya tidak melibatkan orang-orang beragama, sebab tidak ada ajaran agama yang menganjurkan perbuatan sadis seperti itu. Pertanyaannya, mengapa hal itu sampai bisa terjadi? Antara lain karena agama itu bagi mereka hanya sebatas ajaran yang bisa diperdebatkan.

Agama tiada guna diperdebatkan. Debat agama adalah suatu hal yang sia-sia, dan bodoh! Misalnya, agama A mengajukan pertanyaan tentang agama B. Pasti bisa dijawab oleh penganut agama yang bersangkutan atau ahli agamanya dengan mudah. Sebaiknya bila seseorang mencela dan mempertanyakan doktrin agama lain, penganut agama lain pun bisa melakukan hal yang sama. 

Jadi tidak akan ada yang menang atau kalah. Yang terjadi adalah saling klaim bahwa dirinya atau kelompoknya lah sebagai pemenang debat, dan artinya, agamanyalah yang benar. Kita lupa, bahwa seberapa benar pun sesuatu itu menurut kita, tetap bisa dipatahkan dan dibantah oleh pihak lain dengan mudah. Dan kebenaran sesuatu agama tidak bisa diklaim hanya oleh karena debat semata. 

Maka, ketimbang sibuk dan lelah memikirkan agama orang lain, kenapa tidak melakukan ajaran Tuhan: untuk mengasihi sesama manusia dan ciptaan-Nya?

Kalau kita hanya sibuk memperdebatkan agama, lalu kapan kita punya waktu melakukan anjuran agama?