Mohon tunggu...
Hans Panjaitan
Hans Panjaitan Mohon Tunggu... Pemerhati segala hal

Baik-baik saja

Selanjutnya

Tutup

Politik

TKA Hendak Menguasai Indonesia?

8 Mei 2018   15:11 Diperbarui: 8 Mei 2018   15:31 806 0 0 Mohon Tunggu...

Isu keberadaan tenaga kerja asing (TKA) kini menjadi salah satu andalan kelompok #ganti presiden. Sebelumnya mereka menghembuskan isu PKI yang bangkit kembali. Banyak pihak yang dituding mereka sebagai antek PKI. Di medsos, tanpa lelah-lelah mereka memposting statemen bahwa PKI sudah mulai mengonsolidasikan diri, dan siap merebut kekuasaan. Namun ketika ditantang balik, untuk menunjukkan bukti-buktinya, dan diminta menyebut alamat markas PKI itu, mereka jawabnya muter dan bingung sendiri. Bila sudah mentok, dan habis akal, mereka marah-marah, memaki-maki, dan ujung-ujungnya kita yang dituduh PKI.

Menjadi menarik ketika isu TKA ini dibahas oleh Prof Dr Yusril Ihza Mahendra dalam acara ILC (Indonesia Lawyer's Club) edisi 1 Mei 2018. Dia membandingkan keberadaan TKA yang datang ke negeri kita dengan TKI yang berduyun-duyun mencari kerja ke luar negeri, seperti Malaysia, Hongkong, dll. Katanya, negara-negara lain mendatangkan TKI karena mereka butuh untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan seperti pembantu rumah tangga. Jadi, menurut Yusril, TKI hanya soal kebutuhan bagi negara lain. Sementara buruh-buruh asing, khususnya China, tidak dibutuhkan di negeri kita, karena ada banyak penduduk yang bisa mengerjakan itu.

Ada benarnya juga statemen Yusril di atas. Tapi Yusril kan tidak tahu alasan perusahaan Tiongkok membawa sendiri tenaga kerja mereka ke sini. Bisa saja soal penerapan teknologi dan kendala bahasa. Kalau instruktur lapangan tidak bisa berbahasa Indonesia atau Inggris, bagaimana dia memberikan instruksi kepada pekerja domestik yang pasti tidak mengerti bahasa Tiongkok? Itu bisa menjadi salah satu alasan di antara banyak alasan.

Yang paling menggelikan adalah kekhawatiran Yusril bahwa keberadaan TKA Tiongkok itu berpotensi membahayakan. Alasannya, mereka bekerja di sektor pertambangan, jauh di daerah pedalaman. Di sana mereka bisa saja melakukan koloni. Apalagi, menurut Yusril, warga Tiongkok itu dari usia 18-23 wajib militer, maka buruh Tiongkok yang datang ke negeri ini praktis tentara, atau mantan tentara. Dan kalau mereka melakukan sesuatu, bangsa kita menjadi tidak berdaya dan terpecah-belah. Berdasarkan asumsi itulah Yusril menyesalkan tindakan pihak berwenang dalam hal ini pemerintah yang seolah-olah membuka pintu masuk bagi orang-orang asing untuk datang ke negeri ini.

TKA terutama yang berasal dari Tiongkok menjadi isu yang seksi untuk digoreng dalam konteks pilpres kali ini. Mungkin karena isu lain sudah mental. Padahal, apa sih yang dikhawatirkan dari TKA Tiongkok yang hingga kini jumlahnya tidak seberapa dibandingkan TKI yang "menyerbu" ke banyak negara? Menurut Menteri Tenaga Kerja Hanif Dhakiri, berdasarkan survei World Bank, TKI ada sekitar 9 juta per akhir 2017. Sebanyak 55 persennya ada di Malaysia, 13 persen di Saudi Arabia, 10 persen di China atau Taipei, dan di negara-negara lain. 

Bandingkan dengan data TKA di Indonesia per akhir 2017 sebesar 85.974 orang. Dan jumlah TKA tidak sebanding dengan TKI yang berada di luar  negeri.  TKI di Hongkong sudah lebih dari 150.000 orang. Di Makau sekitar 20.000 orang. Di Taiwan sekitar 200.000 orang. Sementara jumlah TKA asal China yang kerja di Indonesia sampai akhir 2017 sekitar 24.800-an (kompas.com, 23 April 2018).

Jadi, berdasarkan data-data di atas, jelaslah sudah tidak ada sebenarnya yang dikhawatirkan soal keberadaan TKA, sebab jumlahnya memang tidak seberapa, dan keberadaan mereka hanya untuk bekerja, cari nafkah. Kalau sudah habis kontrak, pulang ke negerinya. Sebab itu jangan mau dibodohi oleh oknum-oknum yang sudah bergelar profesor sekalipun, sebab nyata-nyata mereka itu tak kalah bodoh sebab memberikan cek kosong kepada masyarakat demi kepentingan syahwat politik.

Soal kekhawatiran Yusril bahwa TKA asal Tiongkok berpotensi menjadi ancaman terhadap kedaulatan negara kita, karena bisa saja melakukan sesuatu, misalnya kolonisasi. Bagaimana dengan keberadaan ormas-ormas radikal yang terang-terangan mengusung agenda mengubah ideologi negeri ini menjadi berdasarkan agama? Bukankah keberadaan mereka itu sudah jelas lebih membahayakan eksistensi NKRI yang bhinneka? Negeri ini diperjuangkan oleh para pahlawan bangsa dan pendiri bangsa sebagai negara yang menjadi hunian bagi semua elemen bangsa yang terdiri dari beragam agama, bahasa, dan budaya. 

Sejak dahulu kala, masyarakat yang beragama budaya dan keyakinan itu hidup rukun dan damai. Dengan realita itulah para pejuang dan pendiri bangsa menyepakati NKRI sebagai hunian yang aman dan nyaman bagi semua anak bangsa, apapun keyakinan dan latar belakang suku/rasnya. Semua warga bersatu di dalam naungan Pancasila dan UUD 1945.

Fenomena akhir-akhir ini, di mana sekelompok orang yang membawa-bawa nama agama secara berkala melakukan aksi demo, mereka terang-terangan memaparkan misi mereka untuk mengubah dasar negara. Kalau di masa Orde Baru itu disebut makar. Mereka itulah yang berpotensi besar memecah-belah bangsa ini, dan pada akhirnya menghancurkan NKRI. Sayang sekali, agaknya Yusril tidak melihat sampai ke sini, dia hanya sibuk membela salah satu ormas yang sudah dibubarkan oleh pemerintah karena tidak sehaluan dengan cita-cita NKRI.

 sibuk 

VIDEO PILIHAN