Hanny Setiawan
Hanny Setiawan profesional

Twitter: @hannysetiawan Gerakan #hidupbenar, Solo Mengajar, SMI (Sekolah Musik Indonesia) http://www.hannysetiawan.com Think Right. Speak Right. Act Right.

Selanjutnya

Tutup

Catatan

Belajar Jihad Kristen dari Ahok

1 November 2013   10:38 Diperbarui: 24 Juni 2015   05:44 7888 34 31

Wawancara sehari yang lalu, 30-10-2013, di Mata Najwa Show antara Najwa Shihab dan Ahok bisa disebut sebuah momentum yang luar biasa.  Secara utuh kita melihat arti nasionalisme bagi seorang kristen yang hidup di Indonesia.  Nilai-nilai kehidupan yang hakiki dan universal di pertunjukkan dengan sederhana dalam perkataan dan perbuatan.   Ahok sedang memainkan kartu yang sangat penting dalam sejarah perjalanan bangsa Indonesia. Kartu Ahok adalah kartu minoritas ganda (double minority).  Kartu yang sudah lama mati di percaturan NKRI, sekarang menjadi suatu yang menyala hidup kembali.  Api kebangkitan nasional (revival fire) itu sudah menyala kembali, karena Ahok membukakan arti apa itu mati!

Tidak bisa dipungkiri dengan pernyataan Ahok untuk menulis pesan "Mati adalah Keuntungan" di pusaranya, bahkan dalam tiga bahasa bila perlu, membuka ruang diskusi, polemik, sekaligus pujian dan inspirasi.  Paling tidak bagi saya yang selama 28 tahun terakhir hidup di bayang-bayangi kata-kata yang sama, meyakinkan sekali lagi ada #PanggilanPulang ke bunda pertiwi.  Panggilan untuk mengerjakan Indonesia bagi semua orang yang masuk kategori double minority.  Dan menghidupkan kembali juga, perkataan alm.  my italian godfather, Salvatore Chisari "Per me infatti il vivere è Cristo e il morire un guadagno" , kalimat  bahasa Itali yang artinya adalah "Hidup adalah Kristus, Mati adalah Keuntungan"  Ya, itulah kalimat Paulus ketika dia di penjara untuk jemaat Filipi.  Kalimat yang sama menggelegar kembali melalui Ahok.

Orang yang memeluk nilai "Mati adalah Keuntungan" bisa dikategorikan seorang yang berjihad.  Memang tidak lazim terdengar bahkan di kalangan kristen sendiri, tapi sebenarnya itulah kekristenan yang sebenarnya, kita hidup untuk mati.   Salib adalah simbol dimana semua keinginan untuk diri sendiri (hawa nafsu) itu sudah tidak ada lagi, yang ada hanya hidup untuk Kristus.   Hidup untuk Kristus sendiri artinya Hidup untuk Tuhan dan hidup untuk orang lain.  Kepentingan pribadi selalu menjadi yang terakhir dalam daftar keinginan.

Jihad kristen adalah perang suci melawan hawa nafsu dan menghidupi misi nilai-nilai universal humanisme (Kasih, sukacita, damai sejahtera, keadilan, dsb) sebagai wujud ucapan syukur atas kasih yang tidak terbatas yang sudah diberikan.   Seharusnya tidak berlebihan kalau saya menyebut Ahok seorang pejihad kristen terlepas dari semua kekurangan dia sebagai manusia.   Dia sedang  perangi semua keinginan memiliki kekayaan dengan cepat dan haram dan berjuang menjalankan misi kemanusiaan Indonesia, yaitu keadilan sosial bagi seluruh republik.

Orang yang menghidupi misi tidak begitu mementingkan hasil akhirnya, yang penting adalah menjalankan misi itu sendiri.  Sebagai contoh, banyak pahlawan Indonesia yang tidak mengalami kemerdekaan 17-8-1945 tapi karena mereka ada dalam misi mengenyahkan penjajah untuk kedaulatan wilayah nusantara, mereka layak disebut pahlawan.   Itulah sebabnya mati adalah keuntungan.

Seharusnya kita semua setuju bahwa hidup sesuai konstitusi, dan memperjuangkan keadilan sosial bagi republik adalah suatu misi suci bersama warga negera Indonesia.   Kita semua perlu #turuntangan bersama-sama mengerjakan #PanggilanPulang suci untuk negeri biarpun resikonya adalah mati.

"Per me infatti il vivere è Cristo e il morire un guadagno"






Pendekar Solo

Kelanjutan Artikel Ini Bisa Dibaca Disini:
Belajar Jihad Kristen dari Ahok (2)