Mohon tunggu...
Hannatul jannah
Hannatul jannah Mohon Tunggu... Guru - Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan

Kun 'Aliman wa la Takun Jahilan

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan

Pengaruh Motivasi dalam Pembelajaran Peserta Didik

23 Oktober 2019   09:28 Diperbarui: 23 Oktober 2019   09:34 3289
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Pendidikan. Sumber ilustrasi: PEXELS/McElspeth

Belajar adalah suatu kegiatan yang dilakukan secara sadar dalam upaya mencapai tujuan. Vernon S Gerlach dan Donald P. Ely dalam bukunya Teaching and Media A systematic Approach  yang dikutip dari Amna Emda (2018:173) mengemukakan bahwa belajar adalah perubahan perilaku, sedangkan perilaku itu adalah tindakan yang dapat diamati. 

Abdillah dalam Amna Emda (2018:173) mengemukakan bahwa belajar adalah suatu usaha sadar yang dilakukan oleh individu dalam perubahan tingkah laku baik melalui latihan dan pengalaman yang menyangkut aspek-aspek kognitif, afektif dan psikomotor untuk memperoleh tujuan tertentu. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa belajar akan membawa perubahan-perubahan pada individu yang belajar, baik dari ilmu pengetahuan, keterampilan, sikap, minat, watak dan juga penyesuaian diri.  

          Dalam dunia pendidikan terutama dalam kegiatan belajar bahwa kelangsungan dan keberhasilan proses belajar mengajar tidak hanya dipengaruhi oleh faktor kecerdasan  intelektual saja, namun kecerdasan emosional juga tidak kalah penting dalam menentukan hasil belajar seseorang. Diantara kecerdasan emosional adalah kemampuan memotivasi diri sendiri, mengatasi frustasi, mengontrol keresahan diri, mengatur suasana hati, berempati dan bekerjasama. 

           Amna Emda (2018:176) mengatakan bahwa motivasi mempunyai fungsi yang sangat penting dalam dalam proses kegiatan pembelajaran, sebab motivasi merupakan suatu dorongan yang dapat menimbulkan perilaku tertentu yang terarah kepada pencapaian suatu tujuan tertentu. Perilaku atau tindakan yang ditunjukkan seseorang dalam upaya mencapai tujuan tertentu sangat tergantung dari motif yang dimiliknya. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Arden (1957) dalam Amna Emda (2018:175)  bahwa kuat lemahnya atau semangat tidaknya usaha yang dilakukan seseorang untuk mencapai  tujuan akan ditentukan  oleh kuat lemahnya motif yang dimiliki orang tersebut.

            Misalkan saja ada seorang siswa  yang mendapatkan tugas matematika dari gurunya di sekolah dan siswa tersebut merasa termotivasi untuk mengerjakan tugas tersebut. Sehingga hal tersebut sangat memungkinkan sekali anak tersebut berhasil mengerjakan tugas dari gurunya dengan baik. Contoh tersebut akan berbeda hasilnya apabila dibandingkan dengan siswa yang tidak merasa termotivasi untuk mengerjakan tugas yang diberikan. Siswa tersebut akan menyepelekan atau tidak menganggap penting adanya tugas tersebut. Sehingga anak tersebut tidak akan mampu mengerjakan dengan baik tugas yang diberikan.

           Motivasi juga berfungsi sebagai penggerak, yang artinya motivasi ini berfungsi untuk menggerakkan tingkah laku seseorang. Besar kecilnya motivasi yang ada pada diri siswa akan menentukan cepat dan lambatnya suatu pekerjaan atau perbuatan yang dilakukan oleh seseorang siswa tersebut. Karena motivasi ini juga sangat menentukan tingkat keberhasilan atau kegagalan seseorang.

          Kita lihat banyak di antara para pelajar/siswa yang terbilang cerdas, rajin berangkat ke sekolah namun sekadar untuk menggugurkan kewajibannya sebagai seorang siswa dan karena perintah orang tua saja, mengisi absensi, mendengarkan guru menyampaikan materi, mengerjakan tugas serta menyelesaikan setumpuk pekerjaan rumah (PR) yang dibebankan guru-guru kepadanya. Sedangkan mereka sendiri tidak tahu sebenarnya apa yang menjadi target masa depannya. Mimpinya masih kabur, visi hidupnya ngawur, dan cita-citanya masih terkubur. Hal ini sangat menyedihkan karena melakukan sesuatu hanya megalir tanpa mempunyai motivasi akan sangat sulit untuk mencapai keberhasilan yang maksimal.

           Selain itu, motivasi juga berfungsi sebagai penyeleksi perbuatan. Artinya siswa ketika mempunyai motivasi maka akan menentukan perbuatan-perbuatan mana yang harus dilakukan dengan tepat guna mencapai tujuan itu dengan menyampingkan perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuan. Dengan adanya motivasi diharapkan bisa menjadikan siswa untuk memprioritaskan mana aktifitas yang harus dilakukan terlebih dahulu.

           Hamzah Uno (2008:45) mengatakan menurut teori motivasi Hierarki Kebutuhan, Abraham Maslow menyatakan bahwa pada saat seseorang telah mencapai dan memenuhi kebutuhan tertentu, maka mereka ingin bergeser ke tingkat yang lebih tinggi. Dalam dunia belajar siswa yang sedang lapar tidak akan termotivasi secara penuh dalam belajar. Setelah kebutuhan yang bersifat fisik terpenuhi maka meningkat pada kebutuhan tingkat berikutnya adalah rasa aman. Sebagai contoh adalah seorang siswa yang merasa terancam atau dikucilkan baik oleh siswa lain maupun gurunya maka ia tidak akan termotivasi dengan baik dalam belajar. Ada kebutuhan yang disebut harga diri, yaitu kebutuhan untuk merasa dipentingkan dan dihargai. Seseorang siswa yang telah terpenuhi kebutuhan harga dirinya maka dia akan percaya diri, merasa berharga, marasa kuat, merasa mampu, dan merasa berguna dalam hidupnya . Kebutuhan yang paling utama atau tertinggi yaitu jika seluruh kebutuhan secara individu terpenuhi maka akan merasa bebas untuk menunjukkan seluruh potensinya secara penuh.

            Sedangkan Hamzah Uno (2008:47) mengatakan bahwa dalam teori Motivasi Berprestasi, Mc Celland menekankan pentingnya kebutuhan berprestasi, karena orang yang berhasil dalam suatu hal adalah orang yang berhasil mengerjakan segala sesuatu. Ia menandai sifat-sifat dasar orang awam berikut dengan kebutuhan penacapaian yaitu, selera akan keadaan yang menyebabkan seseorang dapat bertanggungjawab secara pribadi, kecenderungan menentukan sasaran yang pantas dan memperhitungkan risikonya, dan keinginan untuk mendapat umpan balik yang jelas akan kinerja. Siswa yang memiliki motivasi berprestasi tinggi adalah siswa yang memiliki keinginan untuk benar -- benar sukses yang berasal dari dalam diri sendiri, siswa yang bekerja keras baik dalam diri sendiri maupun dalam bersaing dengan siswa lain dan siswa yang datang ke sekolah memiliki berbagai pemahaman tentang dirinya sendiri secara keseluruhan dan pemahaman tentang kemampuan mereka sendiri khususnya. Mereka mempunyai gambaran tertentu tentang dirinya sebagai manusia dan tentang kemampuan dalam menghadapi lingkungan.

           Motivasi adalah sesuatu perubahan energi di dalam pribadi seseorang yang ditandai dengan timbulnya efektif dan reaksi untuk mencapai tujuan. Bahri Djamarah (2008:49) mengatakan bahwa motivasi dari dasar pembentukannya dibagi menjadi dua, yaitu motivasi yang datang dalam diri individu itu sendiri (motivasi intrinsik) dan motivasi yang dating dari lingkungan (motivasi ekstrinsik).

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun