hanifa hafiza
hanifa hafiza mahasiswa

because I love my mother, wherever I am I will fight for her happy

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Artikel Ilmiah, Bayi "Premature"

8 Desember 2017   00:05 Diperbarui: 8 Desember 2017   00:12 137 0 0

PERKEMBANGAN BAYI PREMATUR

Oleh

Hanifa Hafiza

email hanifahafiza41@yahoo.co.id

085731484114

                                                                                                                                           

 

ABSTRAK

Basically parenting is the same, no different even if the child is born prematurely. A child with a history of premature delivery, the primary time to pursue optimal growth at birth is the first 2 years, in which the child's growth should be assessed at chronological age. It aims to make early detection of growth problems, if there is a problem can be done immediately intervention / treatment. But it is true, children with preterm labor should be monitored continuously until the age of 7-10 years. 

This is useful for assessing intelligence issues, behavior problems and other issues. Premature infants including high-risk babies are prone to developmental disorders. In fact, 50 percent of premature infants experience various developmental disorders. The shape of the disorder may differ from one another. Skills like that, sitting, standing, walking, chatting or other developments. Babies born prematurely may also experience behavioral disorders due to weakness of the nervous system at birth. Behavioral disorders later can be detected as the baby develops. For example, children are agitated, emotional, and late talking.

Keywords: Premature, High risk

 

ABSTRAK

Pada dasarnya pengasuhan untuk anak sama, tidak berbeda walaupun anak lahir prematur. Anak dengan riwayat kelahiran prematur, waktu yang utama untuk mengejar tumbuh kembang nya optimal seperti bayi lahir aterm adalah 2 tahun pertama, dimana tumbuh kembang anak harus dinilai berdasarkan usia kronologis. Hal ini bertujuan untuk melakukan deteksi dini masalah tumbuh kembang, bila terdapat masalah dapat segera dilakukan intervensi / penanganan. Tetapi memang benar, anak dengan kelahiran prematur harus dipantau terus sampai usia 7-10 tahun. 

Hal ini berguna untuk menilai masalah tingkat kecerdasan, masalah perilaku dan masalah lainnya. Bayi prematur yang termasuk dalam bayi berisiko tinggi, cenderung mengalami gangguan perkembangan. Realitasnya, 50 persen bayi prematur mengalami berbagai gangguan perkembangan. Bentuk gangguannya bisa berbeda satu dengan lainnya. Seperti keterampilan tengkurap, duduk, berdiri, berjalan, bicara atau perkembangan lainnya. Bayi yang lahir prematur juga bisa mengalami gangguan perilaku akibat kelemahan sistem syaraf saat lahir. Gangguan perilaku di kemudian hari pun sudah bisa dideteksi saat bayi berkembang. Misalnya saja, anak gelisah, emosi, dan terlambat bicara.

Kata Kunci      : Prematur, Beresiko tinggi

PENDAHULUAN

Pada masa usia dini anak mengalami masa keemasan (the golden years) yang merupakan masa dimana anak mulai peka dan sensitif untuk menerima rangsangan. Masa peka pada masing-masing anak berbeda, seiring dengan laju pertumbuhan dan perkembangan anak secara individual. Masa peka adalah masa terjadinya kematangan funsi fisik dan psikis yang siap merespon stimulasi yang diberikan oleh lingkungan. Masa anak usia ini merupakan masa peletak dasar untuk mengembangkan kemampuan kognitif, motorik, bahasa, sosio emosional, agama dan moral.

Anak usia dini ialah anak yang berkisar antara usia 0-6 tahun yang memiliki pertumbuhan dan perkembangan yang luar biasa sehingga memunculkan berbagai keunikan pada dirinya. Pada tahap inilah, masa yang tepat untuk menanamkan nilai-nilai kebaikan yang intinya diharapkan dapat membentuk kepribadiannya.  (fadillah, 2014)

Pertumbuhan dan perkembangan anak tidak dapat dilepaskan kaitannya dengan masa kelahiran seorang bayi. Masa kelahiran sangat ditunggu-tunggu, akan tetapi jika kehamilan tidak mencapai 9 bulan lebih 10 hari atau sekitar 36-38 minggu, maka bayi itu termasuk bayi prematur. Bayi prematur adalah bayi yang lahir pada minggu sebelum minggu ke 34 atau minggu ke 35. 

Bayi yang  lahir prematur tumbuh dengan kesehatan yang baik dan fungsi reproduksi yang normal. Namun, para peneliti menemukan terjadinya peningkatan risiko dibandingkan dengan bayi prematur yang lahir mulai 1967-1988. Ditemukan juga bahwa kondisi terbanyak yang dialami bayi prematur adalah masalah lambung, cacat, gangguan mental, dan terlambatnya usia sekolah.

Kelahiran pematur dapat disebabkan karena adanya masalah kesehatan pada ibu hamil maupun pada janin itu sendiri yang merupakan faktor risiko dari terjadinya kelahiran prematur. Ibu dan anak yang dilahirkan dapat mengalami berbagai masalah kesehatan dikarenakan ibu belum siap secara mental dan fisik untuk melakukan persalinan, sedangkan pada bayi belum terjadi kematangan organ janin ketika dilahirkan yang mengakibatkan banyaknya organ tubuh yang belum dapat bekerja secara sempurna. Hal ini mengakibatkan bayi prematur sulit menyesuikan diri dengan kehidupan luar rahim, sehingga mengalami banyak gangguan kesehatan. (Soehermawan, 2002)

PEMBAHASAN

 

Aspek Aspek Perkembangan Anak Usia Dini

Dalam dunia pendidikan anak usia dini (PAUD)  perkembangan anak merupakan hal yang harus diperhatikan karena perkembangan anak secara lanjut akan menentukan proses pembelajaran anak tersebut di jenjang selanjutnya. Berikut ini Aspek-aspek perkembangan anak unia dini (AUD) yang perlu diketahui oleh orang tua dan guru :

  • Perkembangan motorik anak TK

Proses tumbuh kembang kemampuan gerak anak disebut perkembangan motorik. Hurlock (1978) mengatakan perkembangan motorik berarti perkembangan pengendalian gerakan jasmaniah melalui kegiatan pusat syaraf, urat syaraf, dan otot yang terkoordinasi.

Perkembangan motorik ada tiga bentuk yaitu, motorik kasar, motorik halus, dan kesehatan dan perilaku kesehatan.

Motorik halus adalah gerakan yang dilakukan dengan menggunakan otot halus misalnya : mnggambar, menggunting, dan melipat kertas. Keterampilan motorik halus merupakan keterampilan yang menggunakan jari-jemari, tangan dan gerakan pergelangan tangan dengan tepat. Penguasaan keterampilan motorik halus sama pentingnya dengan penguasaan keterampilan motorik kasar.

  • Perkembangan Motorik Halus
  • Perkembangan motorik halus anak usia 4-5 tahun antara lain :
  • Mencontoh bentuk silang (+, X) lingkaran, bujur sangkar, dan segitiga secara bertahap.
  • Menggambar bebas dengan menggunakan pensil berwarna, krayon, arang, kapur tulis, dsbnya.
  • Menggunting kertas mengikuti garis lurus, lengkung, dan gelombang.
  • Melipat kertas secara horizontal, vertical dan diagonal menjadi bermacam-macam benda.
  • Perkembangan motorik halus anak usia 5-6 tahun antara lain :
  • Mencontoh bentuk silang (+,X) lingkaran, bujur sangkar, dan segitiga secara bertahap.
  • Menjiblak angka 1-5.
  • Menjahit sederhana dengan menggunakan tali sepatu, benang wol, tali raffia, dsb.
  • Menjiblak bentuk-bentuk yang telah tersedia (Dewi, 2005).
  • Perkembangan Motorik Kasar
  • Pada usia 4-5 tahun perkembangan kemampuan motorik kasar antara lain :
  • Berjalan mundur dengan tumit berjingkat
  • Melompat dengan dua kaki bersama-sama ke muka dank e belakang, ke kiri, ke kanan dengan alat atau tanpa alat.
  • Menaiki, menuruni, dan berjalan diatas papan titian.
  • Berlari lurus, berjingkat, dan angkat tumit.
  • Meloncat dari ketinggian kurang lebih 60-70 cm kedua kaki mendarat bersamaan.
  • Melempar dan menangkap kantong biji
  • Perkembangan motorik kasar untuk anak usia 5-6 tahun antara lain:
  • Merangkak dengan berbagai variasi.
  • Berjalan : lurus, berjingkat, mengangkat tumit, menyamping, berintangan, membawa cangkir berisi gelas, dbs.
  • Berlari : lurus, berjingkat, angkat tumit, dbsnya.
  • Berjalan diatas papan titian, dengan membawa cangkir berisi air tanpa tumpah, merentang tangan, tangan memegang beban diatas kepala, dan setiap tiga langkah diselingi jongkok.
  • Meloncat dari ketingiian 60-75 cm, sambil menhadap kea rah tertentu.
  • Melompat dengan menggunakan satu kaki dengan alat atau tanpa alat.
  • Kesehatan dan Perilaku Keselamatan
  • Kesehatan dan perilaku keselamatan yaitu memiliki berat badan, tinggi badan, lingkar kepala sesuai usia serta memiliki kemampuan untuk berperilaku hidup bersih, sehat, dan peduli terhadap keselamatannya.
  • Perkembangan Kognitif

Kognitif mencakup aspek-aspek struktur intelek yang dipergunakan untuk mengetahui sesuatu (Singgih D. Gunarsa,1981). Kognitif adalah fungsi mental yang meliputi persepsi, pikiran, simbol, penalaran, dan pemecahan masalah. Perwujudan fungsi kognitif dapat dilihat dari kemampuan anak dalam menggunakan bahasa dan menyelesaikan soal angka-angka (Wieman, 1981). Departemen pendidikan nasional (2002) menjelaskan kemampuan kognitif adalah memecahkan masalah dan menentukan hubungan sebab akibat.

Piaget sebagai contoh tokoh kognitif mengemukakan bahwa perkembangan kognitif dibagi lima tahap yaitu; tahap sensori motorik (usia 0-24 bulan), tahap pra operasional (2-7 tahun), tahap operasional konkrit (usia 7-11 tahun), tahap operasional formal (usia 11 tahun).

Anak usia TK pada tahap kedua tahap pra operasional usia 2-7 tahun dimulai dengan penguasaan bahasa yang sistematis, bermain simbolis, imitasi serta bayangan dalam pikiran. Berpikir praoperasional bercirikan: mampu meniru, antisipasi, egosentris, pemusatan pada satu dimensi, belum berhasil untuk berpikir baik. Anak usia TK mampu meniru tingkah laku yang dilihatnya seperti: bermain perang-perangan mereka menirukan tingkah laku dalam situasi perang, bermain masak-masakan mereka menirukan tingkah laku ibu.  Kemampuan koginitif anak tingkat TK bersifat egosentris artinya cara pandang menurut dirinya sendiri, belum mampu mengambil perspektif orang lain.

  • Perkembangan kognitif anak usia 4 sampai 5 tahun adalah sebagai berikut:

Menyebutkan urutan bilangan dari 1-10

Menyebutkan, menunjuk dan mengelompokkan 5 warna

Menyusun kembali kepingan/pusel sehingga mnjadi bentuk utuh

Memasangkan benda sesuai pasangannya

Mencoba dan menceritakan kembali apa yang terjadi

Menggambarkan orang dengan 2-3 bagian badan seperti kepala, tangan dan kaki

Kemampuan untuk memperhatikan atau berkonsentrasi lebih lama

Bertambahnya pengalaman tentang pengertian dari fungsi, waktu, hubungan bagian dengan keseluruhan

  • Perkembangan kognitif anak usia 5 sampai 6 tahun adalah sebagai berikut:

Menyebutkan bilangan 1 samapai 20

Mengelompokkan benda dengan berbagai cara yang diketahui anak, mialnya mengelompokka warna, menurut bentuk dan menurut ukuran

Mengenal prbedaan kasar dan halus, berat dan ringan, panjang dan pendek, jauh dan dekat.

Mengnal sebab, akibat. Misalnya mengapa kita sakit gigi? Mengapa kita lapar?

Menggunakan alat sekolah secara benar seperti : gunting, pensil, dsb. (Dewi, 2005)

Perkembangan Bahasa Anak

Bahasa diartikan sebagai suatu system symbol dan urutan kata-kata, yang digunakan untuk berkomunikasi dengan orang lain, yang bercirikan infinite  ( tak terbatas, generativity (berlaku umum), displacement (pemindahan), dan rule system. (system aturan) (Rochmad Wahab dan M. Solehuddin, 1998/1999). Pada dasarnya sebagai alat komunikasi tidak hanya berupa bicara, dapat diwujudkan dengan tandan isyarat tangan atau anggota tubuh lainnya yang memiliki aturan sendiri. Bentuk bahasa ada macam bahasa lisan, tulisan, bahasa isyarat, bahasa tubuh, ekspresi wajah, pantomime dan seni

Perkembangan bahasa anak dibagi atas, fase prelinguistik dan fase linguistik. Fase prelinguistik adalah perkembangan bahasa anak usia 0-1 tahun yaitu mulai sejak tangisa pertama samapi anak selesai dengan fase mengoceh. Suara yang mirip erangan untuk  menyatakan kesenangan atau kepuasan dan menjerit untuk menunjukkan keinginannya, suara-suara tersebut sebenarnya berasal dari gerakan alat-alat suara. 

Suara itu sangat tergantung kepada bentuk rongga mulut yang mengubah aliran suara dari paru-paru ke tali suara. Proses ini tidak dipelajari dan berlaku universal, bahka untuk bayi yang tuli. Pada priode ini anak mulai peka terhadap bahasa, anak mulai tahu kalau bunyi tertentu memiliki arti tertentu.

  • Fase liguistik dimulai sejak anak berusia 1 tahun-5 tahun yaitu mulai dari mengucap kata-kata pertama sampai ia dapat berbicara dengan lancar. Periode ini terbagi 3 fase yaitu:
  • Fase pertama kata atau holorase

Masa ini anak menggunakan satu kata untuk menyatakan suatu pikiran yang kompleks, baik berupa keinginan, perasaan, atau kemauannya tanpa perbedaan yang jelas. Misalnya kata "duduk"yang berarti saya mau duduk, kursi tempat duduk atau ibu duduk . orang tua harus mengamati mimic, gerak serta bahasa tubuh yang lain untuk memperjelasnya. Kata yang pertama dikuasai kata benda kemudian kata kerja.

  • Fase lebih dari satu kata

Anak dapat membuat kalimat terdiri atas dua kata. Komunikasi dengan orang lain mulai lancar, mulai Tanya jawab yang sederhana, anak mulai bercerita dengan kalimat sederhana.

  • Fase diferensiasi

Usia anak 2,5-5 tahun keterampilan anak brbicara berkembang pesat. Anak mampu menggunakan kata ganti orang"saya"untuk menyebut dirinya. Anak mampu menggunakan kata dalam bentuk jamak, awalan, akhira. Anak mampu mengkritik, bertanya, menjawab, memerintah, memberitahu, dan bentuk lain untuk satu pembicaraan gaya dewasa.

  • Perkembangan bahasa anak usia 4-5 tahun adalah:

Berbicara lancar dngan kalimat yang sederhana

Menyebutkan sebanyak-banynya nama benda, binatang, tanakan yang mempunyai warna, bntuk, atau mnurut cirri-ciri tententu

Bercerita tentang kejadian disekitarya secara sederhana.

Menyurutkan dan menceritakan isi gambar seri (2-3 gambar)

Bercerita tentang gambar yang dibuat sendiri

Mengikuti 1-2 perintah sekaligus

Membuat sebanyk-banyaknya kata dari suku kata awal yang disediakan dalam bntuk lisan seperti mama, malu, marah.

  • Perkembangan bahasa anak usia 5-6 tahun adalah:

Menirukan kembali 2-4 uruta angka, urutan kata

Mengikuti 2-3 perintah sekaligus.

Menggunakan dan dapat menjawab pertanyaan apa, mengapa, gimana, berapa, bagaimana, dan sebagainya.

Bicara lancar dengan kalimat sederhana

Bercerita tentang kejadian disekitarnya seara sederhana

Menceritakan kembali isi cerita sederhana yang sudah diceritakan oleh guru.

Memberikan keterangan atau informasi tentang suatu hal.

Memberikan batasan berapa kata atau benda misalnya, apakah rumah itu ?

Menyebutkan sebanyak-banyaknya nama benda, binatang, tanaman yang mempunyai warna, bentuk, atau cirri-ciri tententu

Mencerikan gambar yang telah disediakan.

Perkembangan Sosial-Emosional Anak TK

Perkembangan berprilaku yang sesuai dengan tuntutan sosial.hal ini bisa dilihat dari proses kemampuan anak untuk bergaul dengan orang-orang disekitarnya. Menurut Hurlock perkembangan sosial ini merupakan proses belajar menyesuaikan diri dengan norma-noma kelompok dan adat kebiasaan, belajar bekerja sama, saling berhubungan dan merasa bersatu dengan orang-orang sekitarnya.

  • Perkembangan kemampuan sosial anak usia 4-5 tahun adalah sebagai brikut;

Bermain dan berkomunikasi dengan anak-anak lain/teman sebaya

Berani dan mempunyai rasa ingin tahu yang besar

Menunjukkan perhatian untuk mengetahui lebih jauh tentang perbedaan jenis kelamin

Perkembangan kemampuan sosial anak usia 5-6 tahun adalah sbagai berikut

Dapat bergaul dengan semua teman

Merasa puas atas prestasi yang dicapai

Tenggang rasa terhadap keadaan orang lain

Dapat mengendalikan emosi

  • Pada usia 4-6 tahun ekspresi emosi yang sering muncul adalah marah, karena marah merupakan cara yang efektif untuk memperoleh perhatian atau memenuhi keinginan. Anak tk akan marah jika mainannya diganggu, disuruh melakukan sesuatu yang enngan mereka lakukan. Reaksi marah diusia TK umumnya bersifat implulsif seperti; memukul, menggigir, menyepak, meninju, meludah, atau menyodok.

Kegembiraan adalah emosi yang menyenangkan. Emosi kegembiraan pada TK selalu disertai dengan senyuman, tertawa, dan suatu relaksi tubuh sepenuhnya. Anak TK juga mngekpresikan kebahagiaan dengan aktivitas otot misalnya, anak melompat-melompat, bertepuk tangan dsbnya.

Perkembangan Moral Anak TK

Moral yang berarti tata cara, kebiasaan, dan adat. Perilaku moral berarti perilaku yang sesuai dengan kode moral kelompok sosial. Perilaku tak bermoral adalah prilaku yang tidak ssuai dengan harapan masyarakat. Perilaku amoral lebih disebabkan ketidakacuhan terhadap harapan kelompok sosial dari pada pelanggaran sengaja terhadap standar kelompok. Perilaku anak kecil lebih pada amoral dari pada tak bermoral (Elizabet B. Hurluck, 1990).

Dalam membahas proses perkembangan moral ini, Lawrence Kohlerg mengklasifikasikannya ke dalam tiga tingkatan, yaitu  (Yusuf, 2000):

  • No
  • Tingkat (level)
  • Tahapan
  • 1
  • Pra Konvensional
  • Pada tahap ini, anak mengenal baik -- buruk, benar- salah sutu perbuatan.
  • Orientasi Hukuman dan Kepatuhan
  • Anak meniali baik buruknya atau benar salah dari sudut dampak yang diterimanya dari yang membuat aturan baik orang tua atau guru. Disinilah anak mematuhi aturan orangtua agar terhindar dari hukuman.
  • Orientasi Relativis- Instrumental
  • Perbuatan yang baik dan benar adalah yang berfungsi sebagaialat untuk memenuhi kebutuhan.dalm hal ini hubungan dengan orang lain di pandang sebagai hubungan orang yang sedang melakukan transaksi jual beli.
  • 2
  • Konvensioanl
  • Pada tahap ini, anak memandang perbuatan baik- benar atau berharga bagi dirinya apabila dapat memenuhi harapan keluarga dan kelompok.
  • Orientasi Kesepakatan antar Pribadi,  atau Orientasi AnakManis (Good Boy/ Girl)
  • Anak memandang suatu perbuatan itu baik,atau berharga baginya apabila dapat menyenangkan, membantu, atau disetujui/ diterimaorang lain.
  • Orientasi Hukum dan Ketertiban
  • Perilaku yang baik adalah melaksanakan tugas atau kewajiban sendiri, menghormati otoritas, dan memelihara ketertiban sosial.
  • 3
  • Pasca- konvensional
  • Pada tahap ini, ada usaha individu untuk mengartikan niali-nilai moral yang dapat diterapkan atau dilaksanakan terlepas dari otoritas kelompok atu orang yang memegang anut nilai-nilai moral tersebut.
  • Orientasi Kontrol Sosial Legalistis
  • Perbuatan atau tindakan yang baik cenderung dirumuskan dalam kerangka hak-hak individual yang umum, dan dari segi aturan yang telah di uji secara kritis, serta disepakati oelh seluruh masyarakat.
  • Orientasi Prinsip Etika Universal
  • Kebenaran ditentukan oleh keputusan kata hati, sesuai dengan prinsip-prinsip etika logis, universalitas, dan konsisten. Prinsip universalitas bersifat abstrak.keadilan, kesamaan HAM, dan penghormatan kepada martabat manusia.

 

 

Bayi Prematur

Bayi prematur adalah bayi yang lahir kurang dari usia kehamilan yang normal (37 minggu) dan juga bayi mengalami kelainan penampilan fisik (Saccharian, 2004). Bayi prematur adalah bayi yang terlahir pada usia kehamilan 20 minggu sampai dengan usia kehamilan kurang 37 minggu tanpa memerhatikan berat badan lahir (Wong, 2004). Persalinan prematur dengan berat badan lahir rendah berkisar kurang dari 2500 gram (Royyan, 2012). Sebagian besar organ tubuh belum berfungsi dengan baik, karena kelahiran yang masih sangat dini. Dibandingkan dengan bayi cukup bulan, bayi prematur kurang mampu menghisap, mempertahankan suhu tubuh, menelan, makan, dan mempertahankan ventilasi.

Pada tahun 2006, persentase bayi prmasur di A.S. adalah sebesar 12,8% sampai meningkat 36% dari tahun 1980-an. National center for health statistics, 2008). Meningkatnya jumlah kelahiran prematur ini agaknya berkaitan dengan faktor-faktor seperti meningkatnya jumlah bayi yang dilahirkan oleh perempuan berusia 35 tahun keatas, meningkatnya jumlah perempuan yang melahirkan bayi kembar, meningkatnya pngelolaan kondisi-kondisi maternal dan janin (sebagai contoh sengaja mengusahakan kelahiran prematur apabila teknologi medis menyatakan bahwa usaha itu dapat meningkatkan harapan hidup), meningkatkan pengalahgunaan obat( tembakau, alkohol), meningkatnya stress (golden berg dan culcane, 2007). Variasi etnis juga menjadi karakterisasi bayi premature (balchin dan steer, 2007). Contohnya, kemungkinan lahir prematur untuk seluruh bayi di A.S. adalah sebesar 12,8%, namun lebih besar terjadinya pada bayi beretniss Amerika-Afrika yaitu 18,5% (national center for health statistics, 2009). (Santrock, 2012).

Perkembangan setiap anak beragam, baik bayi lahir normal ataupun prematur. Hanya saja ada tolak ukur perkembangan normal yang sebaiknya diketahui orang tua. Untuk tumbuh kembang bayi prematur, sebagian besar dokter anak memberikan saran untuk melakukan tolak ukur dengan penyesuaian usia.

Penyesuaian usia dilakukan dengan menghitung jarak antara usia kelahiran dengan hari perkiraan lahir (HPL) yang sebenarnya, kemudian kurangi umur bayi dengan angka yang didapat. Misalnya, bayi usia empat bulan yang lahir 8 minggu lebih awal, maka tumbuh kembangnya harus disesuaikan dengan usia 4 bulan dikurangi 8 minggu. Maka akan diketahui umur bayi yang sebenarnya adalah 2 bulan. Sehingga tolak ukur perkembangan bayi yang kita ikuti adalah bayi usia 2 bulan. Jika bayi prematur itu berusia 12 bulan, maka tumbuh kembangnya disesuaikan dengan usia 12 bulan dikurangi 8 minggu. 

Bayi yang lahir premature biasanya memiliki intelgence quotient (IQ) rendah. Ia dinilai kurang cerdas ketika memasuki usia Taman kanak-kanak dam sekolah dibanding teman-temannya yang lahir normal. Anak prematur akan kesulitan belajar, saat belajar perlu banyak bantuan (Esther). Akan tetapi tidak semua bayi prematur kurang cerdas misalnya ilmuan asal inggris Sir Ihaac Newton saat lahir berat badan hanya 1,3 kg, meski dilahirkan premature ia menjadi ahli matemateka, fisika, dan astronomi dengan IQ 190.

Ada beberapa risiko gangguan tumbuh kembang bayi prematur jangka panjang yang harus diwaspadai, antara lain:

  • Pendengaran dan penglihatan

     Diketahui, sebagian bayi prematur yang lahir dengan berat kurang dari 1,5 kg memilliki kelainan di bagian perifer atau pusat pendengaran atau keduanya. Ada pula risiko yang lebih tinggi, yaitu hilangnya daya dengar. Bayi prematur juga memiliki risiko retinopati prematuritas, yaitu kondisi yang menyebabkan pembuluh darah membengkak dan menimbulkan kelainan lapisan saraf di retina mata. Hal ini dapat menyebabkan lepasnya retina dari posisi normal yang jika tidak ditangani dengan tepat, dapat menyebabkan kebutaan.

  • Kemampuan bahasa
  • Banyak studi yang menemukan adanya gangguan perkembangan bahasa pada bayi prematur dengan atau tanpa berat badan lahir rendah dibandingkan dengan bayi yang terlahir normal. Sebagian besar bayi prematur mengalami masalah bahasa selama beberapa tahun awal sejak kelahiran, termasuk pemahaman kalimat, mengekspresikan diri melalui bahasa, mengolah kata, artikulasi (pengucapan), dan lain-lain. Begitu sang anak mencapai usia sekolah, anak dengan riwayat kelahiran prematur akan mengalami disabilitas dalam belajar, nilai yang jelek pada mata pelajaran membaca, mengeja, menulis, matematika, dan kesulitan dalam melakukan fungsi eksekutif berupa proses untuk mengorganisasi dan menyatukan serpihan-serpihan informasi.

  • Psikomotorik dan perilaku
  • Penelitian di sekolah membandingkan anak usia 4-8 tahun yang lahir sebelum usia kandungan 32 minggu dengan anak seusia yang lahir normal. Hasilnya menunjukkan anak-anak yang lahir prematur lebih banyak mengalami gangguan motorik, meski tingkat intelegensia normal. Selain itu, bayi yang lahir prematur memiliki kecenderungan berperilaku hiperaktif, lebih impulsif, perhatiannya mudah teralihkan, kurang terorganisir, dan kurang tekun. Demikian juga, kemungkinan anak prematur mengalami Attention deficit hyperactivity disorder (ADHD) lebih tinggi dibanding anak yang lahir normal.

  • Kesehatan dan perilaku keselamatan pertumbuhan bayi yang lahir premature bisanya terlambat. Bayi prematur biasanya memiliki tubuh yang lebih kecil dibanding teman-teman seusianya. Kemampuan kognitif mengindikasikan bahwa anak yang lahir prematur, memiliki risiko mengalami gangguan belajar saat usia TK atau sekolah dasar. 
  • Beberapa permasalahan yang dihadapi antara lain gangguan menggunakan bahasa sebagai cara berekspresi, kesulitan memusatkan perhatian, dan juga kelemahan pada kecerdasan visual motorik serta visual spasial. Meski demikian, penelitian ini belum mencakup kemampuan kognitif pada masa dewasa.
  • Penelitian menunjukkan anak Disleksia sering terjadi pada anak dengan kelahiran prematur. Disleksia (dyslexia) adalah sebuah kondisi ketidakmampuan belajar pada seseorang yang disebabkan oleh kesulitan pada orang tersebut dalam melakukan aktivitas membaca dan menulis.

  • Perkembangan emosional
  • Berdasarkan sebuah penelitian, remaja yang lahir pada usia kandungan sebelum 29 minggu memiliki lebih banyak masalah emosional dengan orang tua, guru, maupun teman-teman sebayanya. Meski kondisi ini tidak mengarah pada masalah yang lebih serius, misalnya depresi atau penyalahgunaan obat terlarang.

Untuk meminimalisir risiko dan memaksimalkan tumbuh kembang bayi prematur, lakukan pemeriksaan secara teratur atau sebagaimana yang disarankan oleh dokter.

Pandangan Perkembangan Bayi Prematur

Bayi yang terlahir premature memang tidak terlihat dari segi fisik.  Sebagian besar organ tubuh belum berfungsi dengan baik, karena kelahiran yang masih sangat dini. Dibandingkan dengan bayi cukup bulan, bayi prematur kurang mampu menghisap, mempertahankan suhu tubuh, menelan, makan, dan mempertahankan ventilasi. Dari observasi yang telah peneliti lakukan, anak yang lahir premature di TA Asy-Syahriyah memiliki keterbatasan fisik. 

Peserta didik yang mengalami keterbatasan fisik (gagguan pendengaran) dan kognitif ( kemampuan belajar) perlu mendapatkan perlakuan khusus dari pendidik atau lembaga pendidikan. Sehingga anak dapat menyesuaikan diri dengan anak normal lainnya dan peserta didik yang mengalami keterbatasan mendapatkan pendidikan setara dengan pendidikan yang diterima oleh peserta didik normal. 

Perlu juga adanya dari dukungan dari mentri pendidikan dan kebudayaan nasional untuk membantu seolah-sekolah yang mempunyai peserta didik dalam keterbatasan kognitif (gangguan pendengaran) dan fisik (kemampuan belajar) lainnya dalam hal apapun yang mendukung keberhasilan dalam proses belajar mengajar.

KESIMPULAN

Ada enam aspek  perkembangan  anak usia dini. Pertama aspek kognitif, aspek motorik, aspek bahasa, aspek sosial-emosional, aspek seni, dan aspek moral dan agama. 

Bayi prematur adalah bayi yang lahir kurang dari usia kehamilan yang normal (37 minggu) dan juga bayi mengalami kelainan penampilan fisik. Kelahiran prematur dapat disebabkan karena adanya masalah kesehatan pada ibu hamil maupun pada janin itu sendiri yang merupakan faktor risiko dari terjadinya kelahiran prematur.

 

Daftar pustaka

Dewi, R. (2005). Berbagai Masalah Anak Taman Kanak-kanak. Jakarta.

fadillah, m. (2014). Desain Pembelajaran PAUD. Jogjakarta: Ar-RuzzMedia.

Saccharian, R. M. (2004). Prinsip Keperawatan Pediatrik. Jakarta: EGC.

Santrock, J. W. (2012). Life-Span Development Perkembangan. Jakarta: Erlangga.

Soehermawan, D. (2002). Faktor Risiko Partus Prematurus di RSUP Dr. Karina. . Semarang.

Wong, D. L. (2004). Pedoman Klinis Keperawatan Pediarik. Jakarta: EGC.

Yusuf, S. (2000). Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.