Mohon tunggu...
Handy Pranowo
Handy Pranowo Mohon Tunggu... Lainnya - Love for All Hatred for None

Penjelajah

Selanjutnya

Tutup

Kurma Pilihan

Dapat Hikmah Puasa Ramadan Saat di Kapal Pesiar

13 April 2021   23:37 Diperbarui: 14 April 2021   21:50 1239
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Kapal MS Noordam, tempat saya menjalani ibadah puasa. Sumber: Pixabay.com/astize

Bagaimana dengan makanannya saat ramadhan di kapal pesiar? Sudah barang tentu pasti berbeda. Bila di Indonesia bersama keluarga kita bisa memilih atau memasak sendiri makanan sahur dan buka puasa, atau membeli cemilan jajanan pasar saat ngabuburit.

Di kapal tidak seperti itu, meskipun menu makanan yang disajikan sangat sesuai standar untuk dikonsumsi dan juga higienis pastinya, tetapi jajanan pasar seperti gorengan, kolak, es cendol, dan kue-kue basah yang menjadi makanan dan minuman wajib saat ramadan itu tidak ada di kapal pesiar. 

Hanya menu makanan pokok nasi dan lauk pauknya kalaupun ada makanan manis pembuka biasanya, berbagai macam roti, teh manis, bubur kacang ijo, es buah, ataupun kurma.

Salat tarawih pun saya lakukan sendiri di kapal begitu juga dengan tadarusan atau mengaji. Sebenarnya tempat ibadah seperti musala tersedia di dalam kapal, namun tempatnya pun terbatas dan pengajian pun juga ada di sana setelah tarawih.

Namun saat itu saya memilih untuk beribadah sendiri. Hampir setiap malam saya menelepon orangtua sekadar melepas kerinduan dan juga berbagi cerita bersama keluarga di rumah.

Kesedihan ini pulalah yang akhirnya membawa saya curhat kepada seorang teman di kapal, itu pun tidak disengaja ketika tiba-tiba ia datang lalu duduk di bangku sebelahku. 

Akhirnya saya memulai sebuah percakapan dengannya. Ia seorang ABK kapal yang sangat tenar kebetulan beliau sudah cukup senior dan juga telah sepuh, umurnya 60 tahun. Beliau berasal dari Janeponto, Makassar, bekerja sebagai ABK kapal sejak umur 20 tahun. 

Dengan logat daerahnya yang kental ia katakan kepadaku, "Janganlah bersedih atau pun merasa kurang nikmat, kurang khusyuk dalam menjalankan ibadah puasa, sebab jauh dari rumah dan keluarga."

"Tetapi di sinilah tempatnya untuk bisa memaknai puasa itu sebenarnya. Godaan-godaan puasa lebih banyak di kapal daripada di darat. Namun apabila bisa melampauinya di sini Insya Allah akan terasa mudah bila menjalankan ibadah puasa di rumah nanti, bila memang sudah tak lagi bekerja di kapal pesiar."

"Nikmatilah makanan dan minuman yang tersedia di kapal, tidak usah mau ini, mau itu, harus ada makanan ini, harus ada cemilan itu. Toh puasa bila waktunya berbuka dengan segelas teh manis hangat pun sudah cukup to. Memang pastinya rindu dan ingin juga mencicipi makanan-makanan nenek moyang kita di darat. Macam kolak, cendol atau kue-kue manis tetapi di sini jenis makanan dan minuman juga banyak, buah-buahan juga komplit sama saja toh.

"Puasa tidak sekedar menahan lapar, menahan haus, masih banyak kandungan-kandungan makna yang tersirat di dalamnya yang pastinya sangat berguna bagi jiwa. Coba tengok di darat, ada toh orang-orang seliweran pakai bikini bahkan telanjang saat bulan puasa, atau adakah di darat restoran yang buka setiap harinya seperti di sini di kapal, kau merasakannya toh. Sanggup tidak kau menahan pandangan birahi semacam itu."

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Kurma Selengkapnya
Lihat Kurma Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun