Mohon tunggu...
Handi Aditya
Handi Aditya Mohon Tunggu... Remaja, 18 tahun. Belasan tahun yang lalu.

Bisa disapa di Twitter @juve_gl

Selanjutnya

Tutup

Bola Pilihan

Blaise Matuidi Bukan yang Nomor Satu, Ia Satu-Satunya!

13 Agustus 2020   13:32 Diperbarui: 13 Agustus 2020   13:33 62 5 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Blaise Matuidi Bukan yang Nomor Satu, Ia Satu-Satunya!
Blaise Matuidi, sumber : Kompas.com

Situasi kelam akibat kelaparan dan kemiskinan, bergelayut di hampir setiap jengkal tanah negara Kongo. Rezim diktator Mobutu pada negeri yang dulu dikenal sebagai negara Zaire ini, kian memperparah keadaan rakyat Kongo, yang dipaksa terjebak pada situasi perang tak berujung.

Kongo adalah negara bekas jajahan Belgia, yang semenjak memerdekakan diri, selalu tak luput dari konflik kekuasaan. Tercatat setidaknya sudah terjadi satu kali kudeta berdarah di negara itu, yang membuat Kongo akhirnya dikuasai rezim kediktatoran selama 3 dekade.

Kondisi negeri yang penuh ketidakpastian ini, pada akhirnya membuat Faria Rivelino, ayah dari Blaise Matuidi, bersama sang isteri, Elise, memutuskan untuk hijrah, mencari kehidupan yang lebih baik di Perancis pada medio 80-an.

Matuidi lahir pada tanggal 9 April 1987, di kota Toulouse, sebuah kota yang wajahnya berbeda jauh dari negeri asal sang Ibu. Meski kehidupan mereka belum bisa dikatakan membaik semenjaknya, namun setidaknya, Toulouse menawarkan kesempatan terbaik yang tak mungkin disuguhkan oleh Kongo maupun Angola, negeri kelahiran sang Ayah Matuidi.

Kesempatan terbaik itu bernama sepakbola.

Adalah Jay Jay Okocha, seorang pesepakbola berkulit hitam asal Nigeria, yang namanya begitu menginspirasi banyak anak-anak kecil dari keluarga imigran, yang bermimpi suatu hari bisa berkarir di tanah sepakbola Eropa. Tak terkecuali Matuidi.

Kegemilangan karir Okocha di veerapa klub Eropa, rupanya telah mampu melecut semangat Matuidi kecil untuk mau menekuni karir sepakbola. Di usianya yang baru menginjak 6 tahun, Matuidi didaftarkan bergabung dengan klub asal kampung halamannya, US Fontenay Sous-Bois.

Setelah lebih kurang lima tahun menimba ilmu di US Fontenay, di tahun 1999, Matuidi bergabung dengan CO Vincennois. Bersamaan dengan itu, sang idola, Jay Jay Okocha, telah menggenapkan diri setahun membela Paris Saint-Germain.

Ya, saat itu, impian Matuidi seolah menjadi begitu dekat. Sebab ia dan sang idola, kini berada di kota yang sama. Di tahun itu pula, Matuidi disebut-sebut sebagai salah satu pemain muda yang menjanjikan di wilayah tengah-utara Perancis.

Bakat hebat Matuidi rupanya mulai mencuri minat beberapa klub junior di Paris. Pada tahun 2000, Matuidi menerima tawaran berlatih dari akademi INF Clairefontaine, padahal di saat yang sama, ia masih membela klub lamanya, CO Vincennois. Namun ia tak memedulikan itu.

Di benak Matuidi, kesempatan sekecil apapun, tidak boleh ia sia-siakan. Ia berkeras mengorbankan waktunya di hari kerja untuk berlatih di Clairefontaine, kemudian ia bertanding membela Vincennois di akhir pekan. Tidak ada hari libur untuk sepakbola bagi Matuidi.

Di musim 2011-2012, Matuidi mengalami lesatan karir yang tak terbayangkan. PSG datang menawarinya kontrak, untuk mengisi kekosongan peran yang ditinggalkan oleh legenda Perancis, Claude Makelele.

Ya, PSG adalah klub yang sama, klub yang pernah dibela oleh sang idola, Jay Jay Okocha. Meski ia tak sampai bermain bersama Okocha, namun bisa membela klub yang sama dengan sang idola, ialah sebuah pencapaian tersendiri. Kerja keras Matuidi telah membawanya sampai pada titik setinggi itu.

Di PSG, Matuidi menjelma sebagai gelandang jangkar perusak tempo permainan lawan. Pergerakan tanpa bolanya, sangat efektif dalam mengganggu buyarnya konsentrasi lawan membangun skema. Ia cakap melakukan intersepsi, ia pun baik dalam menutup ruang gerak lawan.

Gemilangnya penampilan Matuidi, tentu tak bisa dilepaskan dari peran seorang Isabelle, sosok pujaan hati Matuidi semenjak keduanya masih duduk di bangku taman bermain.

Saat remaja, Matuidi sempat berujar dalam hati, bahwa kelak ia akan menikahi Isabelle. Satu-satunya perempuan, yang telah berhasil menguatkan sekaligus melembutkan hati Matuidi dalam waktu yang bersamaan.

Hubungan keduanya terbilang cukup mengharukan, Matuidi yang terlahir berkulit hitam, sempat merasa rendah diri dan berpikir untuk menyimpan saja perasaannya terhadap Isabelle yang berkulit putih. Ia merasa, kaum imigran sepertinya, tidaklah pantas bermimpi memiliki gadis Eropa berambut pirang.

Namun, bukan cinta namanya, jika tak menyertakan jalan bagi sesiapa yang hendak menujunya. Matuidi tahu itu. Sebab keyakinan itu pula yang menguatkannya dalam bersepakbola. Dan kali ini, ia menolak untuk menyerah, hanya kepada perasaan rendah dirinya itu.

Ia menutup mata pada kemungkinan-kemungkinan terburuk, pada banyak anggapan sebelah mata orang terhadap imigran kulit hitam. Ia memilih berjuang habis-habisan untuk perempuan yang begitu dikasihinya. Jalan yang tentu sama sekali tak mudah, namun ia mampu melampauinya.

Di Februari tahun 2016, ketika Matuidi mengajak Isabelle menonton film Starwars di bioskop. Matuidi membuat kejutan yang tak pernah dibayangkan oleh Isabelle seumur hidupnya.

Saat keduanya sudah duduk di kursi ruangan bioskop, menatap layar, kemudian lampu-lampu mulai dimatikan. Tidak ada rangkaian iklan trailer film yang diputar sama sekali, sebagaimana biasa.

Iklan-iklan itu justru berganti dengan sebuah film pendek, berisi kolase foto masa kecil Matuidi dan Isabelle, serta momen-momen kebersamaan keduanya yang begitu menyentuh. Isabelle tak lagi bisa berkata apa-apa saat itu, hanya bisa merasakan detak jantungnya berdegup cepat, kemudian berhenti mendadak, ketika Matuidi berkata, "Menikahlah denganku..."

Semenjak itulah, Isabelle telah menjadi pendamping hidup Matuidi sampai hari ini. Isabelle menjadi saksi puncak karir suaminya, saat Perancis keluar sebagai juara Piala Dunia 2018 di Rusia.

Isabelle juga menjadi saksi, saat lelaki yang dicintainya itu, berada di titik terendah, setelah ia bersama dengan rekan setimnya di Juventus, Moise Kean, mendapat serangan rasisme di Liga Italia.

Malam itu, 6 Januari 2018, kala Juventus bertandang ke markas Cagliari. Terdengar begitu jelas suara pekikan mirip monyet, yang sengaja dialamatkan para suporter Cagliara terhadap dua orang pemain Juventus, Kean dan Matuidi.

Serangan verbal makin menjadi, ketika Kean berhasil mencetak gol, dan melakukan selebrasi ke arah pendukung Cagliari. Tak terbayang betapa emosionalnya suasana hati Kean dan Matuidi kala itu.

"Bagiku, orang-orang bodoh ini (para pelaku rasisme) tidak pantas berada di stadion. Seharusnya mereka dilarang datang lagi seumur hidup. Kita harus bangkit melawan perlakuan semacam ini. Anak-anak kita tidak pantas menyaksikan yang seperti ini lagi di masa depan."

Kemarahan Matuidi memang sangat beralasan, ia kesal terhadap masih menjamurnya serangan-serangan rasial di Italia. Kejadian malam itu, adalah kejadian kedua yang ia terima, dalam kurun waktu sepuluh hari terakhir.

Liga Italia memang dikenal tak ramah bagi mereka yang berkulit hitam. Tindakan rasis begitu sering terjadi dan terus berulang. Tak sampai di situ, Matuidi juga dibuat gusar pada pernyataan rekan setimnya, Leonardo Bonucci, yang justru memberi pembenaran pada para pelaku rasisme.

Bonucci menyebut kejadian rasial itu, justru sebagai kejadian yang 50-50, karena disebabkan oleh kedua belah pihak. Sungguh sebuah pernyataan konyol yang amat melukai Kean dan Matuidi.

"Orang-orang yang kalah dan pengecut, selalu mencoba mengintimidasi dengan kebencian. Saya bukan pembenci, dan hanya bisa menyesali mereka yang memberi contoh buruk." Ungkap Matuidi.

Hari ini, Matuidi baru saja mengucap salam perpisahan bagi seluruh rekan-rekannya di Juventus. Ia akan melanjutkan petualangan barunya di Amerika Serikat, di klub Inter Miami milik mantan legenda AC Milan, David Beckham.

Tiga musim sudah, ia berjuang habis-habisan untuk Juve. Tak sedikit pula gelar yang ia persembahkan. Ia memang bukan pemain yang paling sering dibicarakan karena prestasinya. Terkadang, orang lebih suka membicarakan kealpaan-kealpaannya. Membuat lelucon tentangnya.

Tetapi dengan rataan 30 laga per musim untuk Juventus, rasanya sudah cukup menggambarkan betapa esensialnya Matuidi bagi lini tengah Juve.

Ia memang bukan pemain yang sempurna, namun ia adalah opsi terbaik yang Juve miliki di posisi itu, selama 3 musim terakhir. Ia bukan yang nomor satu, namun ia adalah satu-satunya!

Matuidi boleh saja pergi, namun tidak ada seorang pun yang mampu mengubah cerita heroiknya, saat berdiri melindungi Moise Kean dari serangan rasial.

Apapun lelucon mengenai Matuidi, tak akan cukup membuat kita menghilangkan rasa hormat, terhadap seseorang yang berdiri pada kebenaran. Seseorang yang memaknai sepakbola, lebih dari sekadar olahraga dan hiburan semata.

Karena sesungguhnya, "Sepak bola adalah cara untuk menyebarkan kesetaraan, semangat dan inspirasi. Untuk itu saya ada di sini."

Terima kasih, Blaise! Semoga sukses.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x