Mohon tunggu...
Handi Aditya
Handi Aditya Mohon Tunggu... Karyawan swasta, penulis paruh waktu

Penyuka KFC, psikologi & wangi parfum Kenzo. Bisa ditemui di Twitter @handipsi | Surel : handi@mail.com

Selanjutnya

Tutup

Musik Artikel Utama

NOAH dan Jalan Panjang Menuju Album Baru

7 Juni 2019   20:42 Diperbarui: 8 Juni 2019   15:05 0 7 2 Mohon Tunggu...
NOAH dan Jalan Panjang Menuju Album Baru
Vokalis NOAH | Ariel (KOMPAS.com/IRFAN MAULLANA)

Ada rentang sekitar tujuh tahun, semenjak terakhir kali grup band Noah merilis album "Seperti Seharusnya" di tahun 2012 silam. Semenjak itu pula, para Sahabat Noah (sebutan untuk para fans Noah) seolah dibuat rindu dan menunggu, kapan album terbaru Noah bisa segera diluncurkan.

Molornya proses pembuatan album memang sesuatu yang tak bisa diprediksi. Kabarnya sampai hari ini, Ariel, Uki, Lukman dan David, masih terus bolak-balik ke studio rekaman, memeras keringat, mencurahkan pikiran, guna merampungkan album mereka yang konon sudah memakan waktu produksi selama hampir tiga tahun. Apa pasal?

Membuat sebuah album musik memang bukan perkara mudah. Bahkan bagi band sekaliber Noah, yang memiliki bakat jenius Ariel sebagai core mereka, dengan berbagai riwayat kesuksesan bersama Peterpan di dalamnya.

Selama tujuh tahun terakhir pasca album "Seperti Seharusnya", Noah seperti seolah kesulitan menelurkan lagi karya-karya terbarunya ke dalam bentuk album. Ariel dkk memang sempat mengeluarkan sedikitnya dua buah album (penulis lebih suka menyebutnya sebagai semi-album), yakni bertajuk "Second Chance" pada 2014, dan "Sings Legends" di 2016.

Namun dari kedua album tadi, kita seolah tak terlalu menemukan nuansa "kebaruan" yang total di dalamnya. Kita lebih banyak disuguhi dengan lagu-lagu daur ulang, baik yang merupakan buah karya Noah sendiri, maupun milik para musisi besar yang aransemen musiknya digubah lebih kekinian ala Noah.

Dalam album "Second Chance" misalnya, kita hanya disuguhi tiga buah lagu baru berjudul, "Seperti Kemarin", "Suara Pikiranku" dan satu buah lagu berbahasa Inggris berjudul "Hero". Sedangkan beberapa lagu lain di album ini, ialah merupakan hasil daur ulang dari lagu-lagu semasa Noah masih bernama Peterpan.

Lagu-lagu lawas Peterpan seperti "Langit Tak Mendengar", "Tak Ada yang Abadi", hingga "Walau Habis Terang", coba dikemas ulang oleh Ariel dkk dengan konsep full band yang lebih cantik, sound yang jauh lebih jernih dan memukau, namun tetap tidak kehilangan nyawa dari lagu-lagunya.

Yang menarik dalam album ini, keberadaan David dengan kematangan bermusiknya, seolah menjadi sebuah kepingan yang selama ini hilang dari tubuh band ini. Setidaknya, Ariel memiliki tandem sepadan dalam menerjemahkan ide-ide di kepalanya ke dalam bentuk aransemen yang indah.

Peran David sesungguhnya sudah sangat bisa terlihat di awal kemunculan lagu "Separuh Aku" pada album perdana Noah. David sungguh berhasil memberikan sentuhan nada-nada piano yang ikonik dan mudah lekat di ingatan. Tampak sekali keberadaannya lah yang menjadi pembeda antara musik Peterpan dan musik Noah.

Di salah satu kesempatan wawancara, Ariel sempat berujar mengenai alasan mengapa ia mengemas kembali lagu-lagu Peterpan pada album ini, "Alasan kami menggarap lagi lagu-lagu yang dulu, ialah karena waktu itu kemampuan bermusik kami belum seperti sekarang. Ini jadi kesempatan kedua untuk lagu-lagu itu."

Dan nyatanya terbukti, lagu-lagu lawas Peterpan berhasil dikemas Noah menjadi sesuatu yang terdengar jauh lebih mengagumkan. Dengan aransemen musik mereka yang kian jauh terasah, utamanya berkat kepiawaian bermusik Ariel serta tangan dingin David, Noah berhasil menempatkan lagu-lagu lawas mereka untuk sampai pada telinga-telinga pendengar barunya, namun tetap tak kehilangan para pendengar setianya.

Keberadaan tiga lagu baru di album ini juga seolah menunjukkan, Noah tengah berevolusi tidak sekadar mengubah nama, melainkan juga berubah menjadi sebuah band yang dewasa, matang, serta adaptif terhadap perkembangan zaman.

Perubahan yang cukup kentara terlihat, bisa kita temui pada lagu "Seperti Kemarin" yang liriknya ditulis bukan oleh Ariel, maupun oleh para personel Noah lainnya. Melainkan dibuat dengan sangat apik oleh penulis kenamaan, Dewi Lestari. Dan hasilnya? Benar-benar perjudian yang sukses!

Dua tahun sesudahnya, di tahun 2016, Noah kembali melempar album daur ulang bertajuk" Sings Legends". Kali ini dengan menggubah beberapa lagu terkenal milik para musisi legenda di negeri ini.Lagu-lagu abadi dari nama-nama besar seperti Iwan Fals, Chrisye, bahkan grup musik religi Bimbo, coba dipoles ulang dengan sentuhan-sentuhan musik Noah yang memanjakan telinga.

Dalam momen peluncurannya, Ariel sempat menjelaskan alasan mengenai pemilihan ide mengemas lagu-lagu lawas yang pernah populer di masanya, "Ini merupakan penghormatan kami kepada para musisi Indonesia. Kami bangga dengan mereka yang mampu melahirkan karya jempolan," begitu kata Ariel.

Tak bisa dipungkiri, baik album "Second Chance" maupun "Sings Legends", keduanya telah cukup berhasil membawa kesuksesan bagi Noah, utamanya dalam hal membantu mereka menjalani pergeseran dari era industri musik konvensional, menuju industri musik digital.

Ya, dunia memang tengah dihadapkan pada era baru industri musik yang tak lagi bisa dielakkan. Saat ini, masyarakat selaku penikmat musik, sudah nyaris tak ada lagi yang menikmati musik melalui media fisik seperti CD apalagi kaset. Semua telah bertransformasi ke dalam sebuah media awan penyimpanan digital, dan didistribusikan lewat jalur streaming via koneksi internet.

Saat ini, kita mengenal beberapa penyedia layanan musik digital, seperti Joox, Spotify, Yonder, dan sejenisnya. Lewat kanal-kanal ini pula, para penikmat musik seolah diberi keleluasaan dalam membeli lagu-lagu mana saja yang mereka suka, tanpa harus diwajibkan untuk membeli full satu album yang mungkin saja tidak semuanya mereka sukai. Hal ini tentu membuat banyak musisi lebih menyukai melempar satu demi satu single mereka, ketimbang langsung merilis banyak lagu ke dalam sebuah album yang belum tentu seluruh lagunya disukai.

Barangkali oleh sebab ini pula yang membuat Ariel, Uki, Lukman dan David, sedikit berpikir ulang untuk merilis album terbaru Noah. Mereka tentu tak ingin, kerja kerasnya menyusun delapan hingga sepuluh lagu dalam satu album, namun hanya seper-dua atau bahkan seper-tiganya saja yang benar-benar diterima baik oleh pasar.

Maka keputusan mengeluarkan semi-album seperti "Second Chance" & "Sings Legends" rasa-rasanya cukup bisa dimaklumi sebagai upaya Noah mengobati rindu para fans sekaligus melakukan testing the water untuk masuk ke industri musik yang benar-benar baru.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2