Mohon tunggu...
Handi Aditya
Handi Aditya Mohon Tunggu... Karyawan swasta, penulis paruh waktu

Penyuka KFC, psikologi & wangi parfum Kenzo. Bisa ditemui di Twitter @handipsi | Surel : handi@mail.com

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Sudah Sampai di Mana Keretamu Sekarang?

20 Desember 2018   00:10 Diperbarui: 20 Desember 2018   00:27 0 2 2 Mohon Tunggu...
Sudah Sampai di Mana Keretamu Sekarang?
Dokpri

Sudah sampai di stasiun mana kereta ini sekarang? Aku mendadak lupa pada urutan tiap-tiap kereta ini berhenti. Entah apakah masih di Kalibata, atau barangkali sudah sampai di Tebet? Keduanya tampak sama malam ini. Seragam. Cuma ada gelap dan kosong, selebihnya, cuma jejak-jejak embun dan gerimis saja yang tertera di bibir jendela.

Ada banyak kerumitan terjadi beberapa hari ke belakang. Tetapi kau tahu kepalaku tak memuat apapun, selain benih ragu, dan lautan keputus-asaan. Keduanya kini tumbuh besar, menjelma sebagai kebodohan, yang tak sekalipun menuntunku pada langkah yang seharusnya.

Aku rindu pada banyak percakapan kita, pada kelucuan-kelucuan yang entah mengapa selalu berujung pada pertengkaran, tetapi selalu bisa kita tutup dengan beberapa peluk dan kecupan. Dan kau tahu, ribuan dengkuran lahir setelahnya.

Sudah sampai di mana keretamu saat ini? Aku meyakini engkau sama tak mengertinya sepertiku. Tak tahu mana Tanjung Barat, dan mana Universitas Pancasila. Keduanya begitu serasi malam ini. Sama-sama sepi. Sama-sama tenggelam oleh bising klakson mobil dan motor yang masih dalam cicilan.

Barangkali kereta kita telah berpapasan sedari tadi. Entah di Pasar Minggu, atau justru saat kita masih saling berhenti di Lenteng Agung? Aku tak tahu.

Kita bisa saja terus menerka-nerka pertanyaan ini setiap hari, setiap waktu, acap kali kita menyusuri jalur kereta dari Depok ke Jakarta, dan sebaliknya.

Atau kita bisa saling memulai, mengakui bahwa tidak ada salah satu dari kita yang lebih bodoh, kecuali ia yang merasa paling tak membutuhkan satu dengan yang lain, lalu kita bisa duduk bersebelahan di salah satu sudut peron Stasiun Manggarai, bicara tentang kucing-kucing kampung di sekitar rumah yang mudah sekali hamil. Atau tentang rambutmu, yang kalah indah dari milik Bahar Smith.

Lalu aku menyuguhimu puisi.

Kau menyuapiku KFC.

KONTEN MENARIK LAINNYA
x