Mohon tunggu...
Handayani Retno Hapsari
Handayani Retno Hapsari Mohon Tunggu... Praktisi Parenting Masuk Desa

Seorang Ibu dari tiga anak, Da Dul Do. Pemerhati masalah pemberdayaan keluarga sekaligus praktisi parenting masuk desa

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Murid Siap, Guru Datang, Orang Tua Tenang, Belajar Menyenangkan

31 Maret 2020   10:24 Diperbarui: 10 April 2020   20:20 64 2 1 Mohon Tunggu...

Tidak ada satupun yang sudah memiliki persiapan saat pandemi Corona ini melanda.  Termasuk dunia pendidikan. 

Jikalau sekarang para tenaga medis adalah pejuang di garda terdepan dalam menghadapi pandemi Corona. Maka menurut saya, para pengajar, pejuang Pendidikan adalah second line yang juga akan berjuang di kancah peperangan melawan pandemi Corona ini. Saya sangat salut kepada teman-teman pejuang pendidikan yang berjuang lekas bersinergi bahu membahu agar bisa bangkit bersama dalam menghadapi situasi yang melumpuhkan setiap sektor kehidupan ini.  Sebagai orangtua, dengan anak-anak yang duduk di bangku kelas 3 SMA, 3 SMP dan kelas 6 SD, saya cukup memahami situasi dunia pendidikan saat ini. Berharap ada sebuah sinergi langkah positif demi pendidikan anak di masa depan.

Tulisan ini merupakan sebuah aliran rasa setelah beberapa saat yang lalu, saya bersama-sama dengan teman-teman Institut Ibu Profesional mengadakan kelas berbagi untuk guru, ibu dan anak. Sinergi ketiga komponen ini memang sebuah keharusan agar terlahir langkah positif demi generasi bangsa yang lebih baik. Saya bisa merasakan apa yang sekarang di hadapi para guru sekaligus merasakan apa yang dirasakan oleh para orangtua. Kebetulan di kelas tersebut, saya berbagi tentang optimasi Google Classroom dan Google Drive dengan workshop daring dan luring. Dua aplikasi besutan google yang sangat familiar dengan amanahku di kelas belajar online untuk ibu-ibu.

Mempelajari bagaimana cara menggunakan Google Drive dan Google Classroom ternyata sesuatu hal yang baru bagi para guru, sebagian dengan cepat namun sebagian yang lain merasa sulit. Sehingga workshop daring maupun luring yang sudah terlaksana dengan durasi waktu empat jam terasa sangat cepat dan sebagian orang merasa belum mampu menguasai aplikasi ini dengan baik.


Learning by doing

Saya saja yang sudah empat tahun baru bisa dianggap menguasai aplikasi pembelajaran daring ini. Terlebih karena selalu ada update fitur aplikasinya. Mohon maaf jika waktu workshop selama empat jam terasa kurang bagi mereka yang benar-benar baru bersentuhan dengan dunia LMS (Learning Management System) ini. Apa daya semua langkah harus dilakukan dengan serba cepat di tengah situasi yang tak menentu ini. Jadi mari bersiap untuk learning by doing. Jujur learning by doing inilah yang menjadi rahasia besar saya dalam belajar sehingga bisa samapi pada tahap pencapaian ini. Untuk itu saya mengajak, mari kita keluar dari zona nyaman dan segera merubah mindset kita dalam belajar. Menurut saya, tantangan yg dihadapi sekarang sebenarnya bukan masalah waktu, namun soal  kebiasaan "disuapi" ketika belajar.  Padahal kalau mau learning by doing, video tutorial bagaimana cara menggunakan kedua aplikasi ini sudah banyak beredar di YouTube.

Kendala Dunia Pendidikan dan Solusi Untuk Bangkit Bersama dalam Mengatasi Pandemi Corona

Ini adalah pengalaman saya saat berbagi pengalaman tentang penggunaan aplikasi Google Drive dan Google Classroom di sebuah SD yang terletak di pinggiran kotaku, Pacitan. Tantangan terbesarnya ada di masalah jaringan internet yang terkendala, dan juga kesadaran orangtua dalam mendidik anak-anaknya. Mata pencaharian orangtua yang rerata buruh dan ART membatasi waktu untuk mendampingi anak-anak dalam belajar, apalagi selama ini mereka lebih memilih "menitipkan" pendidikan anak di sekolah. Sehingga kondisi #BelajarDariRumah ini cukup sulit untuk diimplementasikan. Guru di sekolah cukup kesulitan untuk berkomunikasi dengan orang tua, terlebih tidak semua orang tua memiliki fasilitas HP Android. Atau kesulitan lainnya ketika satu keluarga hanya memiliki satu HP Android dan itu pun dibawa sang ayah yang pergi buruh ke luar desa (pulangnya malam hari). Otomatis komunikasi guru dengan murid tidak bisa realtime.

Kondisi ini adalah tantangan untuk membuat guru lebih kreatif lagi. Mau tidak mau harus memikirkan solusi terbaik namun dengan mengedepankan keselamatan kesehatan. Meminimalkan kontak fisik dalam menekan penyebaran pandemi Corona ini. Untuk daerah sulit sinyal atau orang tua yang belum melek gadget, sempat terfikirkan oleh saya, salah satu solusinya adalah memanfaatkan jasa para relawan tim #Satgas Siaga Covid 19 yang sudah terbentuk di tingkat desa. Di daerah saya, hampir semua desa membentuk tim ini, terdiri dari perangkat desa, KPM dan bidan desa. Akan lebih baik jika di tim ini ditambahkan dari unsur pendidik juga. Tugas Tim #Satgas Siaga Covid 19 dari unsur pendidik ini adalah menjadi jembatan antara pihak sekolah dengan wali murid yang menjadi warga di desanya. Apalagi saya tahu, Dana Desa bisa dimanfatkan untuk kegiatan ini.

Anggota tim yang terlibat bisa dari unsur wali murid yang peduli. Akses internet agar terhubung dengan pengelola sekolah bisa menggunakan fasilitas internet milik desa. Mirip dengan konsep belanja online, jadi tugas tim ini nantinya akan mendistribusikan bahan belajar maupun tugas dari sekolah kepada murid-muridnya. Untuk skup SD mungkin bisa di terapkan mengingat biasanya murid sebuah SD adalah warga setempat. Jika tingkat diatasnya, SMP atau SMA bisa menggunakan sistem rayon.

Dan bagi daerah yang tidak mengalami kendala sinya internet, bisa menggunakan WAG grup. Karena aplikasi ini adalah aplikasi sejuta umat, semua bisa menggunaknnya. Dan sebenarnya cukup memudahkan untuk proses pembelajaran daring di saat sulit seperti ini. Namun kesadaran para penghuni WAG dan jam online masing-masing penghuninya juga menjadi sebuah tantangan. Sehingga menurut saya perlu ada kesepakatan bersama antara orangtua dan guru kapan waktu yang tepat agar guru bisa berkomunikasi dengan murid. Dengan jadwal yang jelas sesuai kesepakatan bersama juga akan membantu guru dalam mengatur jam kerja onlinenya. Integrasi WAG dengan Google Formulir juga cukup membantu. 

Jika sebuah lembaga pendidikan belum siap menggunakan Google Classroom atau belum memiliki aplikasi pembelajaran daring lainnya, maka menurut saya minimal guru harus belajar membuat Google Formulir terlebih dahulu. Penggunaan G.Form ini ditujukan untuk mempermudah kerja guru dalam pengadministrasian dan dokumentasi kegiatan belajar mengajar, termasuk di dalamnya untuk memberi dan mengumpulkan tugas dari murid.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x