Mohon tunggu...
Hana Marita Sofianti
Hana Marita Sofianti Mohon Tunggu... Disingkat "H4M45" , Penulis Amatir , terkadang suka curat coret juga

Menjadi Guru bukanlah pekerjaan mudah karena tanpa tanda jasa, dinikmati saja sambil curat coret

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Keraton Agung Sejagat, Adakah yang Mendanai?

15 Januari 2020   23:03 Diperbarui: 15 Januari 2020   22:58 41 1 2 Mohon Tunggu...
Keraton Agung Sejagat, Adakah yang Mendanai?
Foto by facebook Joko Suwarno

Purworejo, Jawa Tengah. Terkait kasus Keraton Agung Sejagat yang di klaim oleh Raja Totok Santoso dan Ratu Fani Ami Nadia dan mereka terkena pasal 378 KUHP dan Pasal 14 UU No. 1 Tahun 1946 Tentang penyebaran berita bohong.

Mereka terjerat kasus di atas karena telah mengklaim sebagai Raja dan Ratu  di Keraton Agung Sejagat walalupun bukan pasangan suami isteri. Keraton Agung Sejagat mempunyai anggota lebih dari 400san orang dan mengharuskan pengikutnya membayar uang sebanyak 3 juta rupiah untuk seragam dan pencairan dana melalui bank dunia. Terlihat dari seragam mereka yang menyerupai negara yang dipimpin oleh raja-raja.

Tentu saja fenomena di atas menjadi geger dan mulai di kenal di kampungnya ketika Keraton ini mengadakan acara wilujengan dan kirab budaya yang justru mencuri perhatian warga di sana sehingga menjadi viral dan membuat polisi membekuk mereka berdua sebagai tersangka.

Jika di teliti lebih jauh kebelakang tentu saja hal seperti tersebut di atas bukanlah hal yang pertama kali terjadi di negara kita, pada Tahun 2015 ada Kerajaan Sekte Kerajaan Tuhan yang di pimpin Lia Eden dan pengikutnya, Tahun 2018 Ada Kerajaan Ubur-Ubur di Serang, Banten.

Fenomena berdirinya kerajaan-kerajaan di negara kita yang tampak dadakan ini membuktikan satu hal yang irasional di kepala kita, yaitu kenapa masyarakat kita mudah terjerat dengan hal-hal demikian? Apakah krisis kepercayaan kepada pemimpin, pemerintahan dan negaranya sendiri menjadi faktor utama dan pertama sehingga banyak yang mudah mengikuti aliran-aliran tersebut, dengan iming-iming tertentu tanpa berfikir panjang.

Tidak ada negara di atas negara, hal ini menjadi faktor utama dalam setiap laju pemerintahan di setiap negara di belahan dunia manapun.

Hal yang menarik dari kejadian ini, yaitu sebuah pertanyaan menggelitik  yang muncul di kepala saya, setiap Aliran atau Kerajaan yang muncul masalahnya adalah dari mana mereka mempunyai sumber uang? Atau aliran dana? Sangat misterius sekali dimana negara kita saja yang sudah merdeka bertahun-tahun memiliki banyak  sekali hutang untuk pembangunan di sana - sini. Nah sedangkan mereka dengan mudah berdiri tanpa rintangan ekonomi sedikitpun, tentunya selain biaya yang di pungut dari para anggotanya. Karena saya yakin tidak semua anggotanya adalah orang kaya yang berlimpah harta.

Kejadian ini, tentu saja menjadi PR besar bagi pemerintah. Jikalau hal ini di biarkan terus menerus maka tidak akan di pungkiri aliran dan fenomena raja-raja yang muncul dadakan ini akan  bermunculan kembali, sangat di sayangkan terutama apabila rakyatnya merasa di kecewakan oleh para pemimpinnya.

Menurut saya pribadi hal ini terjadi atas dasar ketidak puasan sebagian rakyat atau setiap individu dalam tampuk kepemimpinan yang ada sehingga mereka menjadi salah kaprah dalam jalur kehidupan yang di milikinya dan dengan mudah mengikuti ajaran atau aliran yang nyeleneh tersebut tanpa berfikir rasional lagi.

Sekali lagi, perihal ada yang mendanai atau tidak , tidak bisa kita pungkiri jikalau memang ada, menurut saya, maka tidak lain tujuannya adalah hanya untuk memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa, memecah belah pemerintahan yang sudah ada. Lebih parah lagi akan mengacaukan situasi dan kondisi negara ini.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x