Mohon tunggu...
Hanafi al Rayyan
Hanafi al Rayyan Mohon Tunggu... Guru di sekolah

Sering menuturkan sisi-sisi kehidupan, kemudian mencoba mengambil pelajaran. aleniacerita.com

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Belajar Agama tapi Suka Nyinyir

8 Maret 2020   12:49 Diperbarui: 8 Maret 2020   12:57 256 1 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Belajar Agama tapi Suka Nyinyir
pixabay.com

Dalam satu pekan terakhir, selain berita tentang virus corona yang sedang mengguncang dunia, kabar tentang aksi intoleransi yang terjadi di India antara umat Hindu yang diberitakan menyerang umat Islam harusnya membuat kita semakin aktif dengan mengelola perbedaan. Ada apa dengan umat beragama ? Bagaimana caranya agar pendidikan multikultural bisa dibangun sejak dini ? Dan yang paling mengkhawatirkan adalah umat beragama menjadi aktor dalam kasus-kasus seperti ini ? Ada apa dengan paham teologi di agama ?

Pelajaran teologi sejak dini yang ditanamkan di berbagai lembaga pendidikan cenderung diajarkan untuk sekedar memperkuat keimanan dan pencapaiannya menuju surga tanpa diikuti dengan kesadaran berdialog dengan agama-agama lain. Kondisi seperti inilah yang menyebabkan pendidikan agama sangat eksklusif dan cendrung tidak toleran. Padahal di era pluralisme sekarang, pendidikan agama mesti melakukan reorientasi filosofis-paradigmatik tentang bagaimana membangun pemahaman keberagamaan peserta didik yang lebih inklusif-pluralis, multikultural, humanis, dialogis-persuasif, kontekstual, substantif, terbuka dan aktif sosial.

Praktik kekerasan yang mengatasnamakan agama, dari fundamentalisme, radikalisme, hingga terorisme, akhir-akhir ini semakin marak di tanah air. Kesatuan dan persatuan bangsa saat ini sedang diuji eksistensinya. Berbagai indikator yang memperlihatkan adanya tanda-tanda perpecahan bangsa, dengan transparan mudah kita baca. Konflik di Ambon, Papua, maupun Poso, kasus kekerasan pada jamaah aliran Syiah di Sampang Madura, dan terakhir kasus penyerangan terhadap ulama di Jawa Barat, dan gereja di Yogyakarta, seperti bom waktu, sewaktu-waktu bisa meledak.\. Peristiwa tersebut, bukan saja telah banyak merenggut korban jiwa, tetapi juga telah menghancurkan ratusan tempat ibadah (baik masjid maupun gereja bahkan sebuah pondok pesantren).

Bila kita amati, nilai etis universal dari agama seharusnya dapat menjadi pendorong bagi ummat manusia untuk selalu menegakkan perdamaian dan meningkatkan kesejahteraan bagi seluruh ummat di bumi ini. Namun, realitanya agama justru menjadi salah satu penyebab terjadinya kekerasan dan kehancuran ummat manusia. Oleh sebabnya, diperlukan beragama ijtihad preventif supaya masalah pertentangan agama tidak akan terulang lagi di masa yang akan datang. Sebagai contoh, dengan adanay rutinintas forum-forum dialog antar ummat beragama dan aliran kepercayaan, membangun pemahaman keagamaan yang lebih pluralis dan inklusif, dan memkampanyekan pendidikan tentang pluralisme dan toleransi beragama melalui sekolah (lembaga pendidikan).

Di sisi yang lain, pendidikan agama yang disajikan di sekolah-sekolah pada umumnya tidak mengedepankan nilai-nilai pendidikan multikultural yang baik, bahkan cenderung berlawanan. Sebagai contoh, banyaknya temuan-temuan buku ajar [buku paket] siswa di Madrasah Aliyah yang membahas tentang khilafah Islamiyyah adalah sebuah kewajiban, dll. Akibatnya konflik sosial sering kali diperkeras oleh adanya legitimasi keagamaan yang disajikan dalam pendidikan agama di sekolah-sekolah pada daerah yang memiliki resiko konflik.

Realita tersebut menunjukkan bahwa pendidikan agama baik di sekolah umum maupun sekolah agama lebih bercorak eksklusif, yaitu agama diajarkan dengan cara menafikan hak hidup agama lain, seakan-akan hanya agamanya sendiri yang benar dan mempunyai hak hidup, sementara agama yang lain salah, tersesat dan terancam hak hidupnya, baik di kalangan mayoritas maupun minoritas. Seharusnya pendidikan agama dapat dijadikan sebagai wahana untuk mengembangkan moralitas universal yang ada dalam agama-agama sekaligus mengembangkan teologi inklusif dan pluralis.

Sekolah mempunyai peranan penting untuk menciptakan pandangan yang multikultural kepada peserta didik. Secara definitif, pendidikan multikultural berarti proses pengembangan seluruh potensi manusia yang menghargai pluralitas dan heterogenitasnya sebagai konsekuensi keragaman budaya, etnis, suku dan aliran (agama). Pengertian seperti ini mempunyai implikasi yang sangat luas dalam pendidikan, karena pendidikan dipahami sebagai proses tanpa akhir atau proses sepanjang hayat. Dengan demikian, goals dari pendidikan multikultural terciptanya saling menghormati dan menghargai setinggi-tingginya terhadap harkat dan martabat manusia.

Dari definisi tersebut, setidaknya ada beberapa hal yang bisa kita kembangkan;

Pertama, pendidikan yang menghargai pluralitas dan heterogenitas. Pluralitas dan heterogenitas adalah sebuah keniscayaan ketika berada pada masyarakat sekarang ini. Dalam konteks ini, kata pluralitas tidak bermakna sempit dengan pemahaman tentang keragaman etnis, suku, warna kulit dan bentuk muka saja, akan tetapi juga dipahami sebagai keragaman pemikiran, keragaman paradigma, keragaman paham, keragaman ekonomi, politik dan sebagainya. Sehingga tidak memberi kesempatan bagi masing-masing kelompok untuk mengklaim bahwa kelompoknya menjadi panutan bagi pihak lain. Dengan demikian, upaya pemaksaan tersebut tidak sejalan dengan napas dan nilai pendidikan multikultural.

Kedua, pendidikan yang menghargai dan menjunjung tinggi keragaman budaya, etnis, suku dan agama. Penghormatan dan penghargaan seperti ini merupakan sikap yang sangat urgen untuk disosialisasikan. Sebab dengan kemajuan teknologi telekomunikasi, informasi dan transportasi telah melampaui batas-batas negara, sehingga tidak mungkin sebuah negara terisolasi dari pergaulan dunia. Dengan demikian, privilage dan privasi sangat mudah untuk diakses dan diketahui oleh banyak.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN