Mohon tunggu...
Hanafi al Rayyan
Hanafi al Rayyan Mohon Tunggu... Seorang Ayah dan Pengajar

A Lifelong learner. Sekedar blogger agar sebisanya berbagi tulisan.

Selanjutnya

Tutup

Pemerintahan

Ada Orang Ketiga dalam Hubungan kita [Agama & Negara]

10 November 2019   11:13 Diperbarui: 10 November 2019   11:19 0 1 0 Mohon Tunggu...
Ada Orang Ketiga dalam Hubungan kita [Agama & Negara]
goodnewsformindonesia.id

Pasca Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada tahun 1945 silam. Indonesia belum sepenuhnya lepas dari bayang-bayang kolonialisme & imperialisme. Benar saja, aktifitas perlawanan terhadap tentara Inggris masih saja bisa disaksikan kala itu.

Bentuk perlawanan itu misalnya terpotret dari ajakan resolusi yang jihad dikeluarkan oleh KH Hasyim Asy`ari dan para kiai besar dari kalangan Nahdlatul Ulama di Kampung Peneleh, Surabaya, 22 oktober 1945. Pada saat bersamaa, aktifitas perlawanan itu juga terjadi di beberapa pulau lainnya semisal Sumatera dan juga Kalimantan.

Puncak dari ajakan resolusi jihad itu terjadi ketika perlawanan yang sangat besar-besaran pada 10 November yang berlanjut hingga akhir november 1945.

Fakta sejarah tentang resolusi jihad ini memberikan gambaran kepada kita bahwa agama dan negara mempunyai nilai-nilai sejalan, keduanya tidak bisa saling ditentangkan dalam arus perjalanan bangsa ini. Keduanya saling mendukung, meski kadang ada sedikit isu, namun mereka berdua tidak tercerai berai. Ibarat kata, agama dan negara adalah sepasang suami-isteri yang mempunyai satu tujuan untuk membentuk generasi yang lebih baik.

Namun belakangan ini ada orang ketiga yang mencoba memprovokasi agama dan negara, agar dua entitas ini tidak mesra lagi, dan jika memungkinkan agar tercerai berai.

Untuk menghambat itu, pemeritahan Jokowi-Ma`ruf Amin membentuk sebuah sistem pemerintahan yang salah satu fokusnya adalah membasmi orang ketiga itu. Dalam proses pemilihan jabatan menteri misalnya, Jokowi lebih mengedepankan sosok yang punya power tentang radikalisme daripada pertimbangan sisi keilmuan. Lihat saja dalam kasus penentuan menteri agama, Fachrul Razi.

Juru ceramah dari akademi militer ini agaknya kurang fokus dalam melihat akar radikalisme. Fahrul Razi terjebak kepada simbol dalam memahami istilah ini, hal ini terlihat dari komentar dan bahkan kebijakannya tentang cadar dan celana cingkrang daripada mengusut jaringan paham radikalisme di Indonesia.

Dalam momentum hari pahlawan ini, refleksi kebangsaan tentang agama dan negara menjadi suatu keharusan. Kesadaran bahwa ada orang ketiga dalam hubungan ini harus disadari semua elemen bangsa. Dan yang paling terpenting adalah bagaimana cara pemerintahan sekarang lebih fokus dalam mendiagosa akar masalah radikalisme.