Mohon tunggu...
hamka kadir
hamka kadir Mohon Tunggu... Penulis - Penulis

Siapa Hamka Kadir? Seorang pegiat sosial media dengan akun Aditya Mahya dan Inspiration Indonesian Culture. Silahkan follow, dan salam Inspiration.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Indonesia Rumah Besar Milik Kita Bersama

23 September 2020   08:56 Diperbarui: 23 September 2020   10:45 260
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Keberagaman suku, agama, ras dan budaya adalah bingkai ke Indonesiaan kita yang sejatinya terus dijaga dan dirawat dalam spirit persatuan, kebersamaan dan kesetaraan dalam rumah besar kita bernama 'Indonesia'. Sebab keberagaman atau pluralisme sudah menjadi bagian dari falsafah bangsa Indonesia melalui penjabaran nilai-nilai Bhinneka Tunggal Ika. Yang intinya di maknai sebagai spirit saling menghargai dan mengormati atas perbedaan dan jangan sampai disalah artikan sebagai perbedaan pemahaman. Bukan itu!

 Sebab hakekat kebhinekaan kita didasarkan atas falsafah bhinneka tunggal ika dimana menjadi realitas bahwa Indonesiaan terdiri dari ragam suku, budaya, ras/golongan, agama yang tersebar diribuan pulau dari Sabang sampai Merauke dari Miangas hingga pulau Rote, itulah faktanya memang kita plural. Bahwa sejarah masa lalu dimana para the founding fathers kita telah menyatukan perbedaan itu dengan melatakkan peran masing-masing dalam bingkai harmoni keberagaman, ibarat sebuah orkesta musik yang dengan peran masing-masing dari alat-alat untuk menghasilkan hiburan yang menarik untuk ditonton dan dinikimati.

Para the founding fathers di masa itu telah menetapkan visi kebangsaan kita secara jelas melalui Bhinneka Tunggal Ika sebagai payung besar untuk memayungi semua kelompok kultural dibawahnya yang terkait satu dengan yang lain didalam melakukan interaksi sosial berbagsa dan bernegara dalam satu rumah besar bernama Indonesia. Sehingga perbedaan atau pluralisme tidak lagi penting untuk diperdebatkan lagi.

Justru sikap mengakui, menghormati, dan menerima perbedaan harus menjadi simpul yang kuat dan mengikat dalam menjaga marwah Indonesia melalui empat pilar kebangsaan yang menjadi pondasi yang kokoh dan harus menjadi harga mati yang tidak memiliki nilai tawar lagi yaitu Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika.

Ini yang harus menjadi komitmen bersama, jangan sampai pondasi rumah besar yang sudah kokoh sejak berdiri hingga sekarang lalu dirobohkan oleh sekelompok orang yang tidak jelas yang sama sekali tidak memiliki jejak sejarah dalam memerdekaan negara ini. Maka sebagai keluarga besar bernama Indonesia harus wajib menjaganya apapun konsekwensi dan resiko yang harus dihadapi sebagai wujud kecintaan kita terhadap bangsa dan negara.

Kita tahu bahwa sikap intoleran merupakan bentuk sikap menutup diri terhadap orang lain yang berbeda keyakinan, agama, budaya dan bahkan ras. Sehingga kecenderungan sikap ini lebih membenarkan keyakinan sendiri dan memandang perbedaan bukan fitrah Tuhan, akan tetapi justru menjadi musibah bagi dirinya. Pada titik yang lebih membayakan, sikap ini mengarah pada anti perbedaan yang sangat berbahaya dapat menimbulkan potensi konflik yang akan mengerah pada disentegrasi bangsa.

Sehingga yang dibutuhkan adalah kewarasan berpikir secara global dan rasional untuk bisa saling menerima perbedaan demi terwujudnya peradaban yang berkeadilan. Bukankah kehidupan bertoleransi sudah cukup jelas telah ditopang oleh nilai-nilai semua agama yang ada sehingga tidak perlu lagi menjadi perdebatan panjang, tapi justru bagaimana menginplementasinya sehingga tidak lagi menimbulkan riak-riak permasalahan yang sejatinya telah berjalan sesuai falsafah ke Indonesiaan kita.

Oleh karena itu, kerukunan hidup umat beragama merupakan pilar yang paling fundamental yang harus terus dijaga dan dirawat agar tercipta keharmonisan dalam beragama ditengah-tengah masyarakat. Jika muncul pemahaman lain dengan menggunakan kedok agama lalu kemudian tidak mau menerima dan menghargai perbedaan dan tidak mampu melebur dalam satu ikatan keluarga rumah besar bernama Indonesia, maka kelompok ini harus menjadi pertanyaan besar siapa mereka? Dari mana asalnya dan muatan apa yang mereka bawah? Dan apa maunya mereka?

Kewaspadaan menjadi penting untuk menjadi refleksi kita bersama dimana kehadiran mereka patut diduga punya muatan kepentingan politik sehingga apapun yang dilakukan hanya bertujuan mengganggu kepentingan nasional yang kemungkinannya digerakkan oleh kekuatan besar yang hendak menggulingkan pemerintahan yang sah diluar konstitusi yang ada. Maka tidak salahnya jika banyak bertanya siapa mereka? Dan untuk kepentingan siapa? Apalagi sekarang marak bermunculan pergerakan yang berbentuk aliansi atau koalisi yang mengatasnamakan rakyat.

Mereka mencoba hadir ditengah masyarakat melakukan propaganda politik seolah-olah ingin menyelamatkan Indonesia. Tapi patut disyukuri karena sampai hari ini dimana-mana terus mendapatkan penolakan dan perlawanan dari kekuatan rakyat yang tetap menginginkan negerinya tetap kokoh dan damai apalagi disaat pemerintah dan rakyat Indonesia tengah berjuang keras saing bahu membahu menyelamatkan bangsa dan negara dalam menghadapi dampak musibah dunia dalam penyabaran virus covid 19.

Sudah saatnya kita dituntut kesadaran kolektif untuk mulai mengurai siapa sejatinya musuh dan lawan sudah di depan rumah besar kita dengan ragam rencana busuk dipundaknya, membuat kita mau tidak mau harus waspada dan membentengi diri dengan cara merapatkan barisan untuk menjaga tanah air yang sangat kita cintai dari musuh yang berasal dari bangsa sendiri yang mencoba mengganti ideologi bangsa diluar ideologi Pancasila.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun