Mohon tunggu...
Galuh Ajeng Hamindhani
Galuh Ajeng Hamindhani Mohon Tunggu... Mahasiswa Perencanaan Wilayah dan Kota , Fakultas Teknik, Universitas Jember

181910501013

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi

Analisis SLQ dan DLQ Dalam Ekonomi Basis

12 Oktober 2019   20:45 Diperbarui: 12 Oktober 2019   20:51 0 0 0 Mohon Tunggu...

Dalam dunia perekonomian guna kesejahteraan dan kemajuan suatu negara terdapat dua jenis sektor ekonomi yaitu, ekonomi basis dan ekonomi non-basis. Kedua jenis sektor ekonomi ini dapat menunjukkan seberapa tingkat baiknya suatu negara memiliki tenaga kerja dalam  mengolah atau memproduksi barang dan jasa yang mampu mempengaruhi perkembangan ekonominya.

            Sektor ekonomi basis adalah suatu kegiatan atau aktivitas ekonomi yang berorientasi pada ekspor dan sektor unggul yang dimiliki atau yang mampu mempengaruhi perkembangan perekonomian sebuah negara. Sedangkan ekonomi non-basis merupakan kegiatan atau suatu aktivitas perekonomian yang mampu mendukung kegiatan ekonomi basis dan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat yang berada di dalam batas wilayah atau hanya di ruang lingkup suatu negara saja (bersifat lokal).

            Untuk mengetahui suatu sektor merupakan sektor ekonomi basis atau pun non-basis, perlu adanya sebuah analisis yang harus dilakukan. Dalam menganalisis sektor tersebut tentunya ada sebuah metode analisa. Metode analisa atau metode analisis yang dilakukan salah satunya adalah metode analisis Location Quotiennt atau mudah dikenal dengan sebutan analisis LQ. Metode analisis LQ  (Location Quotient) merupakan metode sederhana yang mampu menunjukkan kemampuan kegiatan ekspor suatu sektor di suatu daerah terhadap daerah yang lebih besar. (Daryanto dan Hafizrianda.2010; Setiono.2011)

            Menurut Miller dab Wright (1991), Isserman (1997), dan Ronhood (1998), menganalisa dengan metode analisa LQ ini digunakan untuk mengetahui atau mengidentifikasi komoditas unggulan akomodasi di suatu daerah yang merupakan langkah awal dalam memahami sektor yang berpengaruh dalam pertumbuhan ekonomi. Metode LQ ini juga dapat mengukur konsentrasi derajat spesialisasi suatu kegiatan ekonomi dengan melalui pendekatan berupa perbandingan. Contoh data yang dapat digunakan untuk menganalisis dengan metode LQ adalah Produk Domestik Regional Bruto atau PDRB di suatu wilayah dengan PDRB nasional (provinsi).

            Metode analisa LQ terbagi menjadi dua yaitu, statis dan dinamis. Menurut Saharuddin (2006) secara umum metode LQ dinamis memiliki kesamaan dengan metode LQ statis, hal yang dapat membedakannya adalah LQ dimanis memasukkan laju pertumbuhan rata-rata terhadap masing-masing nilai tambah suatu sektor maupun Produk Domestik Bruto (PDRB) untuk kurun waktu antara tahun 0 hingga tahun t.

            Menganalisa dengan menggunakan metode analisa Location Quotient atau LQ tentu terdapat positif (kelebihan) dan negatif (kekurangan) dalam melakukannya. Positif yang berupa kelebihan dari metode LQ adalah dalam mengidentifikasi akomodasi keunggulan, penerapannya mudah dan sederhana, tidak memerlukan program data yang begitu rumit, serta penyelesaian dapat dengan mudah dengan bantuan program Lotus atau Excel. Sedangkan negatif yang berupa kekurangan atau keterbatasan dari metode LQ adalah tuntutan terhadap akurasi data, perlu adanya validitas data sebelum menggunakan metode LQ, pengumpulan data di lapangan sering mengalami hambatan, dan terbatasnya wilayah kajian.

            Hasil dari analisis menggunakan metode DLQ dapat terbagi menjadi dua yaitu, jika DLQ > 1 berarti potensi pengembangan suatu subsektor tertentu lebih cepat dibandingkan dengan subsektor yang sama di wilayah peneliti, sedangkan jika DLQ < 1 berarti potensi pengembangan suatu subsektor tertentu lebih rendah dibandingkan dengan subsektor yang sama di wilayah peneliti. Lalu bagaimana dengan klasifikasi atau hubungan penelitian dari metode SLQ dan DLQ?

            Terdapat empat hubungan yang menunjukkan klasifikasi suatu subsektor di wilayah tertentu dengan gabungan kedua metode yaitu, SLQ dan DLQ. Pertama, suatu subsektor dapat dikatakan dia andalan di suatu wilayah apabila SLQ < 1 dan DLQ > 1. Kedua, subsektor dapat dikatakan dia merupakan sektor unggulan apabila SLQ > 1 dan DLQ >1. Ketiha, suatu subsektor dikatakan sebagai sektor yang prospektif di suatu wilayah apabila SLQ >1 dan DLQ < 1. Keempat, suatu subsektor dikatakan sebagai sektor yang tertinggal di wilayah tertentu apabila hasil kedua metode menunjukkan SLQ < 1 dan DLQ < 1.

            Tidak semua wilayah mempunyai suatu sektor yang selalu unggul atau basis. Sektor yang unggul tentu sudah pasti merupakan sektor ekonomi basis, namun sektor ekonomi basis belum tentu setor unggulan di suatu  wilayah. Dikarenakan suatu sektor yang unggul sudah pasti mampu memenuhi kebutuhan ruang lingkup wilayahnya hingga terjadi permintaan di luar wilayahnya yang akhirnya wilayah tersebut mengekspor hasil produksi sektor unggulannya di luar wilayah. Sedangkan sektor ekonomi basis tentu sudah mampu memenuhi kebutuhan masyarakat di ruang lingkup wilayahnya, namun belum tentu ada permintaan terhadap sektor tersebut yang dapat mengakibatkan kegiatan ekspor.

KONTEN MENARIK LAINNYA
x