Mohon tunggu...
Hamdanul Fain
Hamdanul Fain Mohon Tunggu... Anthropology & Biology Lovers

Anthropology & Biology lovers

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Ramadan di Masa Covid-19 di Pulau Seribu Masjid

27 April 2020   22:56 Diperbarui: 27 April 2020   23:18 17 1 0 Mohon Tunggu...

Ramadan kali ini agak berbeda daripada tahun-tahun sebelumnya. Saya sekeluarga memilih mengikuti anjuran pemerintah untuk ibadah di rumah, terutama sholat jumat dan tarawih. Apa mau dikata, COVID-19 di daerah saya tinggal, Lombok, sudah melonjak angka pasien positif, bahkan ada yang meninggal. Hari ini saja, ada sekitar tujuh pasien positif berasal dari kecamatan sebelah.

Di lingkungan saya, masih banyak yang menyelenggarakan sholat jumat. Memasuki ramadan ini, tetap banyak yang tarawih di masjid. Maklum, Pulau saingan Bali ini terkenal dengan jargon "Pulau seribu masjid" lantaran masjid dapat dengan mudah dijumpai dimana-mana.

Hal yang membuat cemas adalah banyak di masjid-masjid tersebut hadir jamaah tablig. Para jamaah yang  biasa orang lombok memberi mereka julukan dengan "jamaah kompor" ini baru kembali sebulan lalu dari Gowa, Sulawesi. Mereka menjadi klaster penyumbang angka penularan COVID-19 terbanyak di NTB saat ini.

Awalnya jamaah tersebut disambut pemerintah daerah dengan diberikan karantina di asrama haji. Semua kebutuhan pokok seperti makan dan minum ditanggung, alias gratis. Sayangnya, banyak yang menolak, kabur pulang diam-diam. Barulah setelah satu bulan ini semakin banyak ketahuan para jamaah tablig ini yang positif dan menularkan ke beberapa keluarganya.

Tidak bermaksud menyalahkan mereka akan tetapi ini semua membuat saya merenung. Orang-orang kampung terbiasa menggunakan logika, di saat wabah seperti ini seharusnya semakin rajin beribadah ke masjid. Sekilas keyakinan ini ada benarnya juga. Akan tetapi, banyak ulama yang lebih condong untuk mengikuti anjuran pemerintah untuk ibadah di rumah sementara tersebarnya wabah ini.

Ibadah di rumah, seperti sholat jumat yang digantikan sholat zuhur. Sholat tarawih di rumah, semua ini dilakukan demi memutus mata rantai persebaran COVID-19. Setelah wabah ini selesai kita bisa leluasa ke masjid lagi, lebih rajin lagi dan lagi.

Ulama tentu lebih paham daripada kita yang awam ini. Jika hanya mengikuti logika diri sendiri dan tidak mau mengikuti anjuran ulama, lantas tidak ada artinya memanfaatkan logika, karena logika tanpa ilmu yang cukup hanya menjerumuskan ke jalan nafsu diri sendiri.

Selain masjid yang masih ramai, jalanan di saat ramadan juga tidak kalah. Muda mudi yang tidak mengenakan masker asik berkonvoi dengan roda dua di sore hari, ngabuburit. Sekedar menanti waktu berbuka. Pedagang aneka makanan di pinggir jalan juga tetap sama seperti ramadan biasanya. Perbedaannya hanyalah beberapa ada yang disiplin bermasker.

Mungkinkah corona ini datang untuk menyadarkan kita supaya disiplin diam di rumah untuk beribadah? Mempelajari dan merenungi al quran? Melepaskan fisik dan pikiran dari hiruk pikuk dunia? Betapa indah bila demikian adanya. Dan lebih indah lagi seandainya kita lockdown saja secara total, mumpung ramadan. Pemerintah cukup menjamin makan untuk buka puasa dan sahur untuk masyarakat yang muslim. Tiga kali makan untuk saudara-saudara kita yang non muslim.

Bukankah ini kesempatan emas? Memutus laju persebaran covid dengan beribadah di rumah secara penuh selama bulan ramadan. Pemutusan mata rantai COVID-19 kita dapatkan, nilai spiritual ramadan juga kita dapatkan, karena kita sama-sama menundukkan hawa nafsu. Besar harapan agar wabah ini cepat berlalu dan nuansa ramadan di pulau seribu masjid kembali dapat kita nikmati.

VIDEO PILIHAN