Mohon tunggu...
Hamdanul Fain
Hamdanul Fain Mohon Tunggu... Anthropology & Biology Lovers

Anthropology & Biology lovers

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Cerpen | Satu Bendera Saja

10 September 2019   07:20 Diperbarui: 10 September 2019   07:24 0 6 2 Mohon Tunggu...
Cerpen | Satu Bendera Saja
Sumber: jogja.co


Menyengat sekali matahari sewaktu mas piyu si ojek pangkalan selap-selip jalanan macet. Frans di belakang terus saja menepuk pundaknya.

"Lebih cepat lagi, sa celana bocor nanti!" Frans memaksa.

Mas piyu mana dengar apa kata frans. Maklum jalanan riuh ramai bukan main. Dianggap pemuda asli papua yang diboncengnya minta lebih pelan.

Begitu sampai di depan gerbang asrama papua Surabaya, Frans lari ke dalam tanpa sepatah kata.

"Bro, ongkos mana ongkos!!!" Bengong.

Frans sudah tidak terlihat.

Benih kesal berkecambah cepat di hati mas piyu.

Hendak ngedumel, sorot matanya tidak sengaja mengarah tepat di bak sampah besar dekat semak tanaman depan asrama. Kaget. Ada bendera merah putih di sana.

"Astaga, kurang ajar ini anak-anak Papua. Bendera kok dibuang begini"  mas piyu menggerutu sembari mengambil bendera dan balik badan.

...

Di perjalanan pulang petang harinya,  mas piyu masih kepikiran tentang bendera di bak sampah depan asrama Papua siang tadi. Timbul niat untuk melaporkan kejadian itu ke salah satu lembaga swadaya pecinta tanah air kenalan teman dari temannya.

Tekad sudah bulat. Esok pagi ia akan melaporkan kejadian itu.

...

Di depan gerbang asrama yang terkunci, ratusan orang berteriak anarkis. Menyuarakan kemarahan dari kerak nafsu yang terdalam.

"Keluarrr, jangan sembunyi!!!"

Satu, dua kali terdengar pekikan rasis. Isi kebun binatang seakan diabsen bergilir. Membuat naik pitam seisi asrama. Tapi apa boleh buat, jumlah mereka kalah telak. Perasaan rendah diri mulai menghantui.

Minder.
Takut.
Cemas.

Mereka tak tahu apa salah yang telah diperbuat sampai jadi begini.

...

Hanya satu hari setelah berita demonstrasi anarkis di depan asrama Papua Surabaya. Papua dan Papua Barat memanas.

Bandara lumpuh total. Dikepung masa. Bintang kejora berkibar. Ban bekas dibakar. Kaca-kaca berserakan dilempari batu dan kayu.

Teriakan-teriakan di luar bangunan bandara sampai terdengar di dalam.
 
"Presiden mana janjimu membangun Papua? Mana keadilan untuk kami!!!"

Masa sempat bentrok dengan petugas keamanan. Beberapa luka berat dari kedua pihak.

...

Satu orang berkoteka terlihat melempar bongkahan batu ke arah kepalanya. Dug!

Kepala mas piyu terbentur tembok di kamar. Rupanya ia mimpi buruk. Apa yang terjadi di depan asrama Papua Surabaya dan Bandara-bandara di Papua dan Papua Barat tampak jelas di memorinya. Seakan itu nyata telah terjadi.

Usai sembayang subuh, ia menceritakan kejadian kemarin dan mimpinya kepada pak ustad Somad.

"Tabayyun dulu, saudaraku. Tanya ke saudara-saudara kita yang dari Papua itu, kenapa bisa ada bendera di bak sampah. Jangan sampai karena nila setitik rusak susu sebelanga," saran ustad Somad.

...

Di asrama Papua sudah ada Frans, Silas dan Johanes mewakili penghuni asrama untuk bertemu mas Piyu dan ustad Somad.

Mas Piyu bercerita panjang lebar kejadian hari kemarin. Lengkap dari episode membonceng Frans sampai menemukan bendera di bak sampah.

Frans, Silas dan Johanes yang mendengar sontak kaget. Beberapa tetes air bergelayut di pipi. Kompak.

Sorot mata Silas tajam ke arah tiang bendera. Kosong. Hanya ada tiang terpancang di sana.

"Ya Tuhan, baru sadar tidak ada bendera di tiang. Padahal sebelumnya kitorang sudah pasang satu pekan sebelum tujuh belasan," Silas meyakinkan.

"Mungkin ikatannya kurang kuat. Apalagi angin sedang kencang-kencangnya," Johanes menambahkan.

Kegundahan di hati mas Piyu mulai terjawab. Bendera yang ditemukannya ternyata terlepas ditiup angin tanpa sepengetahuan seisi asrama.

"Nah, begini kan enak. Terang pokok masalahnya. Kalau begitu mari bersama-sama kita ikatkan lagi benderanya," ujar ustad Somad sambil merangkul mas Piyu dan Frans.

"Satu lagi pak ustad."

"Ongkos ojek," mas Piyu berbisik pelan.

Frans yang mendengar, tersipu malu.

"Maapkan sa waktu itu sudah tidak tahan mau ke toilet," sambil menyodorkan tiga puluh ribuan.

...

Di bawah tiang bendera itu. Suasana terasa hangat. Nyaman. Penuh persaudaraan.

Cukup satu bendera di hati mereka. Merah putih.



VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x