Mohon tunggu...
Fathul Hamdani
Fathul Hamdani Mohon Tunggu... Pembelajar

Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Mataram

Selanjutnya

Tutup

Bahasa Pilihan

Sundel: Manusia dan Persepsi

29 Maret 2020   17:09 Diperbarui: 29 Maret 2020   17:29 33 0 0 Mohon Tunggu...

Kesalahan, seperti jerami, cenderung mengalir dipermukaan.
Jika ingin mencari mutiara, menyelamlah sampai ke dasar. - John
 Dreyden, All for Love

Kata ini bagaikan belut. Tidak ada makna pasti. Kata ini hidup dalam konteks. Cara mengucapkan sampai siapa yang dituju menentukan maknanya.  Sahabat dekat mengucapkan kata ini untuk menyapa. Musuh besar juga mengucapkan kata ini, ketika menyatakan rasa bencinya.

Setiap kata ini terucap saya teringat oleh kawan SMA saya, dimana kata ini sangat melekat dalam dirinya, dan setiap kali menyapa sahabat dekatnya ia seringkali menggunakan kata "sundel" untuk mengekspresikan perasaannya. Dan kini saat dibangku kuliah pun, saya juga bertemu seorang kawan yang juga tidak jauh berbeda, sehingga kata itu sangat akrab di telinga saya. Dan inilah yang menginspirasi saya untuk membuat suatu tulisan yang mungkin akan menimbulkan kontroversial. Tapi saya ingin membuka dan menggugah pikiran pembaca, dari berbagai macam persepsi tidak hanya terbatas pada konteks ungkapan yang saya tulis, tetapi juga pada konteks yang lain.

Kata ini bukanlah kata sifat, atau kata kerja. Ia hanya kata. Ia adalah ekspresi. Kata ini lahir dari "rahim" orang Sasak. Untuk di ketahui "sasak" merupakan suku asli yang mendiami pulau Lombok. Kata ini secara singkat menggambarkan identitas orang Sasak. Maka dimana pun kita mendengar orang menyebut "sundel" maka sudah pasti ia adalah orang sasak. Ia menggambarkan secara gamblang roh masyarakat suku sasak yang amat unik. Kata ini mungkin tidak sepopuler kata "jancuk" yang lahir dari rahim orang Surabaya, dan harus kita sadari bahwa setiap daerah di Indonesia memiliki ke-khasannya masing-masing dalam mengekspresikan dirinya melalui kata (ungkapan).

Seorang filsuf asal Austria, Ludwig Wittgenstein, pernah berpendapat, bahwa bahasa lahir dari suatu konteks. Konteks itu disebutnya sebagai permainan bahasa (language games). Di dalam permainan bahasa, ada aturan yang harus dipatuhi. Makna suatu kata atau suatu aktivitas selalu harus dilihat dalam konteks permainan bahasanya.  Namun Wittgenstein juga menambahkan, bahwa makna dari suatu kata tidaklah melulu lahir dari konteks semata, tetapi juga dari penggunaannya. Meaning as use begitu katanya.

Makna kata "sundel" tidaklah lahir dari kesepakatan semata, tetapi dari bagaimana kata ini digunakan di dalam interaksi manusia sehari-hari, khususnya masyarakat Pulau Lombok.

Seperti katanya Jalaluddin Rumi bahwa lupakanlah yang tampak, masuklah ke dalam yang tak tampak, disana kalian akan menemukan perbendaharaan yang tiada tara. Kata "sundel" hanyalah bentuk, dan bentuk adalah penampakan luar. Sementara makna adalah hakikat yang tidak terlihat, realitas yang tersembunyi. Dan ia adalah kata yang di dalamnya tak menyimpan makna absolut, dalam setiap kondisi akan menghasilkan makna yang berbeda.

Kata "sundel" seolah terbelah di antara dua makna. Yang pertama adalah tanda keakraban dengan teman sejawat. Yang kedua adalah ekspresi kemarahan pada orang atau suatu peristiwa.  Kata ini memulai pelukan. Namun pada saat yang sama, kata ini bisa memulai pertengkaran. Namun pertengkaran tidaklah lama. Ini hanya ekspresi kemarahan. Jika masalah selesai, yah semua ikut selesai.

Maka kata ini bersifat kondisional. Ia bermakna dalam konteks, dan amat tergantung bagaimana ia digunakan, apakah dengan penekanan, atau tidak. Ini adalah bahasa lokal. Tidak ada terjemahan persis untuk kata ini. Di dalamnya terdapat kelugasan, keterbukaan, mental egaliter, persahabatan, sekaligus ekspresi kemarahan yang amat khas orang sasak. kata "sundel" adalah konsep tanpa kepastian wacana. Seperti dekontruksi yang selalu mengalir mencari arti --tanpa pernah final -- begitu pula kata "sundel" menari di antara orang-orang yang menemukan nikmat di dalam penggunaannya.  Semakin mencari definisi semakin kata ini melompati arti. Ia meloloskan diri dari genggaman orang yang merindukan kepastian arti.

Pada akhirnya saya ingin mengatakan bahwa ini hanya sebagai contoh untuk membawa kita kepada pemahaman bagaimana persepsi manusia bekerja, bagaimana persepsi mempengaruhi pemaknaan dan penerimaan seseorang.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN