Mohon tunggu...
Hamdali Anton
Hamdali Anton Mohon Tunggu... English Teacher

Saya adalah seorang guru bahasa Inggris biasa di kota Samarinda, Kalimantan Timur. || E-mail : hamdali.anton@gmail.com || http://english-itu-fun.blogspot.com/ || Instagram Custom Case : https://www.instagram.com/salisagadget/ || http://fingerstyleguitar1.blogspot.com/

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Artikel Utama

Dilarang Melihat Dunia Pendidikan dengan "Kacamata Kuda"

23 Mei 2020   19:53 Diperbarui: 23 Mei 2020   21:20 495 16 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Dilarang Melihat Dunia Pendidikan dengan "Kacamata Kuda"
Ilustrasi kacamata kuda | K. Tatik Wardayati via intisari.grid.id

Dunia pendidikan berada dalam situasi tidak menyenangkan. Protokol dalam menjalankan proses belajar mengajar berubah 180 derajat. Belajar daring menjadi cara satu-satunya supaya laju pendidikan tidak mandek di tengah jalan.

Memang miris melihat kondisi saat ini. Namun mau bagaimana lagi. Terpaksa harus kita jalani. Sayangnya, saya ikut prihatin atas pola pikir, sudut pandang yang membatasi diri hanya pada satu sisi. Ibarat melihat sesuatu dengan "kacamata kuda".

Seperti kita ketahui, sang pemilik kuda memasangkan kacamata pada kuda, bukan karena sang kuda rabun jauh, tapi supaya si kuda fokus 100 persen ke jalan dan pandangan tak teralihkan ke sekitar. 

Fokus dalam bekerja adalah suatu keniscayaan, tapi memandang permasalahan tidak bisa dilihat dengan "kacamata kuda". Permasalahan harus dilihat dari berbagai sisi. 

Ibarat dadu mempunyai enam sisi. Dunia pendidikan tidak bisa mempersalahkan satu sisi saja, karena banyak sisi yang terlibat di dalam mencapai pendidikan yang berhasil.

Sebenarnya saya tidak mau berkomentar tentang persoalan kompetensi guru yang menjadi trending beberapa hari yang lalu. Pernyataan dari seorang pengamat pendidikan yang cukup ternama membuat gusar dan resah kebanyakan guru. 

Sejujurnya, pernyataan "pendidikan gagal sepenuhnya karena salah guru" bukan hal baru bagi saya. Kebanyakan orangtua murid yang saya temui selama 20 tahun mengajar beranggapan begitu. Entah sekarang, apakah paradigma orangtua murid berubah karena menjadi guru dadakan bagi putra-putri tercinta di saat pandemi covid-19? Mudah-mudahan begitu. 

Yang membuat saya tergerak untuk menulis artikel ini, adalah kekagetan disebabkan persepsi "pendidikan gagal karena salah guru" justru berasal dari salah seorang pengamat pendidikan, Pak Robby (bukan nama sebenarnya).

Kalau tidak salah, saya pernah membaca beberapa artikel Pak Robby di berbagai media daring beberapa tahun yang lalu. Menurut saya, sangat bermanfaat.

Sayangnya, entah apa yang terjadi, saat ini, beliau seperti keluar dari "lintasan". Beliau menganalogikan guru dengan Lionel Messi, seorang pesepakbola yang sudah tidak diragukan lagi kemampuannya di jagad persepakbolaan dunia. Yang saya bingung dengan analogi ini adalah:

Pertama, kalau seandainya beliau menganalogikan guru dengan pelatih sepakbola, seperti Pep Guardiola, Jose Mourinho, Jurgen Klopp, dan lain-lain, masih nyambung. Masih masuk akal. Kalau Messi kan bisa dikatakan "murid".

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
VIDEO PILIHAN