Mohon tunggu...
Hamdali Anton
Hamdali Anton Mohon Tunggu... English Teacher

Saya adalah seorang guru bahasa Inggris biasa di kota Samarinda, Kalimantan Timur. | Website : http://pintar-bahasa-inggris.com || http://fingerstyleguitar1.blogspot.com/?m=1

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Artikel Utama

Soal Cerita dalam Ulangan Matematika, Momok Bagi Anak Usia Dini

7 Juni 2019   23:03 Diperbarui: 8 Juni 2019   09:06 0 18 7 Mohon Tunggu...
Soal Cerita dalam Ulangan Matematika, Momok Bagi Anak Usia Dini
Ilustrasi : mommiesdaily.com

Rapor sebentar lagi akan diterima oleh siswa-siswi yang masih bersekolah. Bagaimana dengan hasilnya? Bagi yang telah belajar dengan rajin dan giat, pasti ada kepercayaan diri, bahwa mereka akan mendapat nilai-nilai gemilang di rapor.

Namun, bagi yang malas, yang tidak belajar dengan sungguh-sungguh, bisa dipastikan, nilai-nilainya juga semenjana atau malah di bawah standar, di bawah rata-rata.

Sebagai guru, baik yang dulunya mengajar di sekolah, maupun mengajar les privat, selama bertahun-tahun, saya memperhatikan berbagai fenomena yang dialami peserta didik, baik itu kemudahan, maupun kesukaran dalam belajar.

Sesuai dengan judul, saya akan membahas kesukaran dalam belajar Matematika. "Lho, bisa ngajar Matematika juga?" Ada beberapa orang yang dulu menanyakan hal itu. 

Awalnya, saya ingin fokus mengajar bahasa Inggris, karena itu saya membuat blog pintar-bahasa-inggris.com, khusus membahas tentang belajar bahasa Inggris dan juga sebagai sarana promosi les privat bahasa Inggris saya. 

Namun, karena ada beberapa calon orangtua murid menanyakan tentang bisa atau tidaknya saya mengajar Matematika, saya pikir, "Kenapa tidak?"

Lagipula, matematika yang akan diajarkan adalah matematika untuk tingkat Sekolah Dasar, dari kelas satu sampai enam. Dengan latar belakang SMA, jurusan IPA, yang mana waktu saya masih siswa SMA dulu, mendapat mata pelajaran Matematika sebanyak empat kali pertemuan dalam seminggu, dari hari Senin sampai Kamis.

Dengan satu kali pertemuan sebanyak dua jam pelajaran (45 menit per satu jam pelajaran), berarti 90 menit per satu kali pertemuan. Karena ada empat kali pertemuan dalam seminggu, maka total waktu yang saya peroleh dalam mempelajari mapel Matematika di sekolah adalah 90 menit dikali empat pertemuan, diperoleh 360 menit dalam seminggu.

Cukup membuat pening kepala ^_^

Namun, saya lumayan menyenangi mapel Matematika, dibanding Fisika atau Kimia. Meskipun waktu melanjutkan ke jenjang Perguruan Tinggi, saya mengambil jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, bukan berarti saya melupakan ilmu matematika. Paling tidak, untuk jenjang esde, saya masih bisa memberikan penjelasan ^_^.

Namun, saya hanya bersedia mengajar matematika untuk jenjang esde. Untuk SMP dan SMA, saya angkat tangan, karena melihat materi pelajaran matematika untuk SMP dan SMA, sangat jauh berkembang. Lebih sukar sekarang dibanding waktu saya bersekolah di SMP dan SMA dulu. 

Saya perlu menyediakan waktu untuk refresh, menyegarkan ingatan saya kembali. Untuk jenjang SD saja, sudah sukar. "Soal Matematika SD sekarang ini, seharusnya untuk murid SMP."

Pendapat ini diutarakan oleh salah seorang teman saya, sebut saja Bu Rubby, salah seorang guru esde di Samarinda, beliau mengajar di kelas enam. Dia menjabat sebagai guru kelas.

Saya memang melihat ada kebenaran dalam opini teman saya itu, karena materi yang didapat oleh murid kelas enam sekarang, dulu saya dapatkan waktu di SMP.

Berarti, kurikulum 2013 menganggap murid-murid SD sekarang mengalami peningkatan daya nalar, sehingga mengira anak usia dini bisa menguasai materi matematika yang dulunya diberikan untuk murid SMP.

Saya tidak ingin memperdebatkan soal kurikulum, karena saya tidak tahu menahu, mengapa sekarang kurikulum mewajibkan peserta didik di tingkat Sekolah Dasar untuk mempelajari materi yang dulunya untuk Sekolah Menengah Pertama. 

Biarlah kompasianer yang memang pakar di bidang kurikulum 2013 di mapel Matematika SD yang akan membahasnya kemudian. Yang menjadi sorotan bagi saya saat ini, selaku guru les privat yang mengajar Matematika ke murid les saya adalah kesukaran anak didik saya yang masih berusia dini untuk mengerjakan soal cerita dalam matematika.

Sebenarnya, saya pun mengalami kesukaran dalam mengerjakan soal cerita dalam pelajaran matematika waktu saya masih duduk di jenjang sekolah dasar. Namun, seiring waktu berjalan dulu, saya bisa memahami. Namun, sekarang masa sudah berbeda.

Terlepas dari opini "Materi seharusnya untuk jenjang SMP", mau tidak mau, saya harus mengajar anak didik saya untuk memahami soal cerita dalam matematika.

Setelah melalui sekian observasi (dalam hal ini, saya mengambil satu contoh nyata dari banyak contoh, yaitu, sebut saja, Jennifer, salah seorang murid les privat yang berada di kelas tiga esde), dan melihat hasil ulangan, akhirnya saya mengevaluasi apa yang sudah saya lakukan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4