Mohon tunggu...
Hallieta Priscilla
Hallieta Priscilla Mohon Tunggu... Freelancer - Seorang penulis

Menulis itu seni dan hobi

Selanjutnya

Tutup

Diary

Aku, HKBP, dan Tradisi Batak

23 Oktober 2021   11:03 Diperbarui: 23 Oktober 2021   11:08 80 2 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Diary. Sumber ilustrasi: PEXELS/Markus Winkler

Perkenalkan, aku adalah perempuan keturunan Batak, yang sudah menetap lama di kota metropolitan. Garis keturunan tersebut  didapat dari Ayahku, yang seorang Batak "asli" Tapanuli Utara. Sedangkan, Ibu adalah wanita Batak yang sudah lama  menetap di Pulau Jawa. Jadi, bisa dibilang, aku adalah perempuan Batak yang sudah terakulturasi oleh budaya Jawa dan Betawi, karena sudah lama menetap lama di DKI Jakarta. Buktinya, dari dulu sampai sekarang, aku mengenyam pendidikan di Jakarta, dan keluargaku jarang berinteraksi dan berkomunitas di komunitas perkumpulan orang Batak di dekat tempat tinggal.

Karena aku Batak Kristen Protestan, aku menjadi anggota jemaat Gereja HKBP. Kesibukan di luar kota dan pindah-pindah alamat rumah tinggal, membuatku jarang ibadah disitu. Lagipula, keluargaku bisa dibilang bukan tipikal  keluarga yang "Batak Kental". Waktu itu, pernah aku berkoneksi di platform social media dengan teman lamaku di gereja asalku, HKBP. Sudah lama aku tidak berbincang dengan temanku itu. Aku waktu itu ditanyakan oleh temanku, "Ehh...udah lama gak ketemu ya? Hehe. Btw, kamu kok ga pernah datang kesini sih ? Padahal semua gereja kan  sama aja."

Pikirku dalam hati, apakah karena aku orang Batak aku harus beribadah di Gereja Komunitas Orang Batak juga? Lalu, kenapa bertanya seperti itu?  Toh, alasannya macam-macam, kan? Semua orang punya selera masing-masing. Ada juga orang Batak yang tidak suka adat-istiadat Batak, dan menganggap tradisi itu out-of -dated. Mungkin sebab itu lebih memilih di tempat lain. Mungkin ada juga yang sudah menikah dengan jemaat dari gereja lain, sehingga memutuskan untuh pindah ke tempat ibadah yang lain.

Aku hanya menegaskan bahwa semua orang punya preferensinya masing-masing. Mau dia pindah ke gereja lain, ya terserah dia. Yang penting hatinya tetap tulus dan ikhlas. Itu prinsip dari manusia sebagai  makhluk beragama. Lagipula, ga musti orang Batak ibadah di gereja yang "berbau" tradisi Batak, khan? Apabila dipaksa untuk beribadah disitu, dia kemungkinan menjadi badmood dan jengkel, khan? Lagipula, sesuatu yang dipaksakan, itu tidak baik juga, khan?

Sekian.

Mohon tunggu...

Lihat Konten Diary Selengkapnya
Lihat Diary Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan