Mohon tunggu...
Halim Pratama
Halim Pratama Mohon Tunggu... manusia biasa yang saling mengingatkan

sebagai makhluk sosial, mari kita saling mengingatkan dan menjaga toleransi antar sesama

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Batasi Kebebasan Berekspresi dengan Toleransi

21 November 2020   17:46 Diperbarui: 21 November 2020   17:48 164 2 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Batasi Kebebasan Berekspresi dengan Toleransi
Indonesia Satu, kompas.com

Atas nama kebebasan berekspresi, seseorang bisa semaunya tanpa kontrol. Atas dasar demokrasi, seseorang bisa mendirikan organisasi dan bebas berpendapat semaunya. Namun di sisi lain, ada juga pihak yang mengkritik demokrasi, karena dianggap bagian dari produk barat yang dianggap kafir. Pada titik inilah, seringkali masyarakat dibuat bingung. Ada pihak yang meneriakkan kebebasan berekspresi, tapi disisi lain juga mengkritik demokrasi dan menggantinya dengan khilafah.

Setelah reformasi kondisi Indonesia memang berbeda. Unjuk rasa menjadi hal yang biasa. Orasi di ruang publik menjadi hal yang lumrah. Mengkritik menjadi bagian pendewasaan. Namun dalam perjalanannya, ada pihak-pihak yang tidak mau di kritik dan merasa dirinya paling benar. Pihak yang berseberangan dianggap salah. Lalu, mereka mengatasnamakan umat berbuat semaunya. Praktik semacam ini sama halnya merupakan contoh berbuat intoleran di ruang publik. Jika tidak mau dikritik tak perlu mengkritik. Sederhana. Karena itulah cobalah hargai dan pahami, bahwa Indonesia itu beragam. Dan keragaman di Indonesia merupakan anugerah yang harus dijaga.

Akibat tidak mau dikritik, marak sekali ujaran kebencian di dunia maya. Apakah hal ini juga diklaim bagian dari kebebasan berekspresi? Bisa jadi. Karena ketika ujaran kebencian itu dikritik, justru mendapatkan reaksi yang mengkhawatirkan. Lalu, atas nama mayoritas, yang minoritas terkadang bisa menjadi korban. Minoritas dianggap mengganggu mayoritas. Lalu lahirlah tindakan intoleran. Ironisnya, tindakan intoleran tersebut seringkali membawa-bawa agama.

Berbeda pada dasarnya bukanlah hal yang salah. Meski mayoritas penduduk Indonesia menjadi muslim, bukan berarti jika ada yang memilih non muslim menjadi salah. Bukan berarti karena tinggal di Jawa, semuanya isi pulau Jawa harus diisi oleh masyarakat dari suku Jawa. Tidak. Indonesia sangat beragam. Keberagaman negeri ini merupakan keniscayaan yang harus dijaga. Tuhan saja menciptakan bumi dan isinya dengan keberagaman. Lalu, kenapa ada Sebagian orang yang mengatasnamakan agama, justru mempersoalkan keberagaman tersebut?

Mari kita introspeksi. Boleh berbeda, boleh mengeluarkan pendapat, boleh juga mengkritik, asalkan harus ada batasannya. Apa batasnya? Toleransi. Jangan landasi segala hal dengan kebencian. Karena kebencian bisa mendekatkan diri pada intoleransi dan radikalisme. Kebencian yang membabi buta justru akan menjauhkan diri dari kebaikan. Sementara salah satu amanah kita sebagai manusia di muka bumi ini adalah berlomba untuk berbuat kebaikan.

Mari jauhkan diri kita dari bibit intoleransi. Jangan pernah merasa diri paling benar. Dalam suasana pandemi seperti sekarang ini, saling menghargai penting dilakukan. Jangan saling melemahkan, mari saling menguatkan satu dengan yang lain. Berekspresi tidak ada yang melaran. Bahkan undang-undang di negeri ini pun tidak melarang. Namun jika ekspresi dilandasi kebencian dan mengganggu hak orang lain, maka kita juga harus sadar untuk menghentikannya. Jika berkerumum berpotensi menghadirkan klister baru, maka ya janganlah berkerumun. Jika menghujat bisa berpotensi melahirkan perpecahan, maka ya janganlah saling menghujat. Toleransi itu tidak susah. Tinggal kita mau menjalankan atau tidak. Jika kita merasa Indonesia, semestinya kita bisa menjaga toleransi dimanapun kita berada. Salam damai.

VIDEO PILIHAN