Mohon tunggu...
Halimatus Sadiyah
Halimatus Sadiyah Mohon Tunggu... Mahasiswi

Kesuksesan tidak akan menemukan kita, jika kita hanya berdiam diri. Maka, bangkit dan raihlah kesuksesan itu.

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Bukan di Hadapan Makhluk, Akhlak Mulia Buat Siapa?

9 Juli 2020   10:34 Diperbarui: 9 Juli 2020   10:42 52 7 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Bukan di Hadapan Makhluk, Akhlak Mulia Buat Siapa?
https://safinah-online.com/ 

Tidak sedikit orang yang terjebak oleh puja dan pujian dari sesama manusia. Mendapat pangkat atau jabatan yang tinggi, lantas mendapatkan kebahagian yang sifatnya sementara. Kenapa sementara? Karena itulah sifat dasar yang dimiliki oleh manusia, rasa tidak puas akan apa yang dicapai maupun dimilikinya.

Setelah dipuji sekali oleh seseorang mereka senang akan hal itu, tapi, tidak puas sampai situ saja, mereka mau yang lebih dari itu. Hingga mereka selalu berusaha melakukan apapun hanya untuk dimuliakan oleh sesamanya. Ketika dimuliakan oleh orang lain, memanglah berjuta rasanya, tapi, sadarlah itu sementara dan tidak menyeluruh.

Maksudnya tidak menyeluruh itu bagaimana, sih? Artinya, tidak akan pernah bisa semua orang dari seluruh penjuru mana pun akan memuliakanmu, sekalipun orang di sekitarmu sudah memuji atau memuliakanmu. Atau bahkan, orang terdekat yang ada di sekitarmu pun boleh jadi tidak sudi untuk memujimu. Jadi, untuk apa melakukan hal-hal yang orang lain belum tentu memujimu.

Mengapa kamu tidak mengubah cara berpikirmu saja dengan mengubah rasa ingin dipujimu itu kepada Allah. Kamu ingin dipuji atau dimuliakan oleh Allah, Sang Pencipta langit dan bumi ini. Bukankah, hal itu lebih baik bagimu, bagi kita untuk melakukan hal-hal yang bisa menghadirkan kemuliaan diri kita di hadapan maupun di sisi Allah SWT?

Bagaimana caranya agar  mulia di hadapan-Nya, yaitu dengan meningkatkan takwa. Yang mana, takwa itulah yang akan melahirkan seberapa mulia akhlak yang dimiliki oleh seseorang hingga Allah memuliakan orang tersebut. Maka dari itu, kunci dari akhlak mulia adalah sebuah takwa, bagaimana Al-Qur'an memandang sebuah hakikat takwa?

Sebagaimana yang yang termaktub dalam Al-Qur'an surat Al-Hujurat ayat 13:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَٰكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَٰكُمْ شُعُوبًا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓا۟ ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ ٱللَّهِ أَتْقَىٰكُمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Artinya: "Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal."

Kemudian, ayat ini ditafsir oleh Ath Thobari rahimahullah, "Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian --wahai manusia- adalah yang paling tinggi takwanya pada Allah, yaitu dengan menunaikan berbagai kewajiban dan menjauhi maksiat. Bukanlah yang paling mulia dilihat dari rumahnya yang megah atau berasal dari keturunan yang mulia." (Tafsir Ath Thobari, 21:386)

Berdasarkan penafsiran di atas, dapat ditarik maknanya adalah, Allah telah menciptakan manusia dengan berbeda rupa, strata, harta, tapi, bukan perbedaan itu yang menjadi poinnya. Memang, di mata manusia, pembeda itulah yang menjadikan seseorang layak dimuliakan atau tidak. Berbeda dengan pandangan Allah, Dia, tidak pernah membedakan makhluk-Nya dengan kategori-kategori tersebut.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN