Analisis

Sejarah Berdirinya Daulah Fatimiyyah

17 April 2018   13:25 Diperbarui: 17 April 2018   13:36 388 0 0

A.    Sejarah Berdirinya Daulah Fatimiyah

  • Dinasti Fathimiyyah muncul karena adanya usaha orang-orang yang berpandangan perihal adanya imam ketujuh atau As-Sab'iyyah. Keberadaan Maimun Al-Qaddah sebagai pemimpin propaganda dan penyimpan batu pondasi bagi pemerintahan orang-orang Batiniyyah menjadi bahan perdebatan. Masalah tersebut adalah anak-anaknya yang menguasai Khalifah Fathimiyyah adalah bukan orang-orang Fathimiyyah. Mayoritas sejarah berpendapat bahwa orang-orang Fathimiyyah bukan keturunan alawiyyah. Namun, Kondisi sejarah ini tidak menjadi penghalang yang menghalangi orang-orang Fathimiyyah untuk mendapatkan khilafah.

  • . : ( - / - )
  • . : ( - /   - )

. : (- /  -  )

  • Kekuasaan negara Fathimiyyah terbentang di dunia islam sekitar dua ratus tujuh puluh tahun, yaitu semenjak berdirinya di Maroko hingga keruntuhannya. Dari tahun tersebut, sekitar seratus lima belas tahun adalah waktu yang dianggap sebagai masa kejayaan dan kekuatan negara Fathimiyyah. Kemudian, tujuh puluh tahun negara Fathimiyyah ada dalam kelemahan politik -- tetapi dengan peradaban yang sampai ke puncak. Delapan puluh lima tahun kemudian segala kondisi menurun dan menyebabkan negara Fathimiyyah hancur.
  • Kedua : secara zhahirnya, pemerintah toleran terhadap rakyat. Secara global, rakyat boleh bekerja dan berkeyakinan dengan bebas, kecuali dalam waktu-waktu tertentu seperti yang akan kita bahas. Juga, secara global, kelas masyarakat ada dalam keadaan kaya. Mereka hidup dalam kemakmuran.
  • Keempat : Ilmu pengetahuan terbesar dengan sangat luas. Ilmu pengetahuan memiliki peranan tersendiri serta dipelajari di masjid-masjid dan istana khalifah. Tujuan ilmu pengetahuan adalah pelajaran dan penyebaran Ismaliyyah.
  • Untuk mengetahui upaya-upaya yang ditempuh para khalifah dalam memperluas wilayah politik dan pemerintahanya. Berikut para khalifah dinasti Fatimiyah dari tulisanya Moh. Nurhakim (Sejarah dan Peradaban Islam; 2003)[4]

Khalifah
Karakteristik
Politik

  • ( 909-934 M )

Memperluas wilayah kekuasaan

  • -bekerjasama dengan Muhammad ibn Hafsun, pimpinan oposisi di Spanyol
  •  ( 934-945 M )

Menghalau berbagai serangan dari `pemberontak Khawarij
-Mengadakan perluasan ke selatan Pantai Perancis pada 934 M

  • ( 945-952 M )

Mengamankan seluruh wilayah Afrika di bawah kekuasaan Fathmiyyah
Mendirikan kota Al-Mansuriyah yang megah di wilayah perbatasan Susa'

  • ( 952-975 M )
  • Mendapatkan pengakuan sukses dari rakyat

-penaklukkan mesir

  • -Mendirikan masjid Al-Azhar yang kemudian beralih menjadi Universitas Al-Azhar
  • ( 975-996 M )
  • -Puncak kemajuan yang mengungguli Bani Abbas di Baghdad saat

-Masa kejayaan dinasti Fatimiyyah
Penarikan orang Turki dan Negro sebagai basis pasukan militer

  • ( 996-1020 M )
  • Konflik dengan umat kristen dan yahudi

-penyebaran teologi syi'ah.

  • ( 1020-1035 M )

Dijadikan boneka oleh para menterinya
Pemerintahan disetir oleh bibinya

  • Al-Mustanshir, Al-Musta'li, Al-Amir, Al-Hafiz, Al-Zafl, Al-Fa'iz dan Al Azid
  • -Rata-rata mereka dinobatkan masih berusia sangat muda

Pemerintahan disetir oleh pihak lain.

  • E.     Pengembangan Peradaban Islam Dinasti Fathimiyyah
  • Al-Aziz memberi gaji yang besar kepada para pengajar, sehingga banyak para ulama besar pindah dari Baghdad ke Kairo. Al-Azhar dijadikan pusat studi ilmu-ilmu dari berbagai disiplin ilmu. Di samping Al-Azhar, pada 1005 M. Al-Hakim mendirikan Dar al-Hikmah,sebagai pusat studi pada tingkat tinggi, di dalamnya dilakukan diskusi, penelitian, penulisan dan penerjemahan, serta pendidikan. Pada masa ini muncul sejumlah ulama besar, diantaranya; Muhammad al-Tamimi (ahli fisika dan kedokteran), Al Kindi (ahli sejarah dan filsafat), al-Nu'man (ahli hokum dan menjabat sebagai hakim), Ali Ibn Yunus (Ahli Astronomi), Ali al-hassan Ibn al-Khaitami (Ahli fisika dan optik).[5]
  • Dari sektor industri dan perdagangan, Mesir tekenal dengan hasil tenunan, kain sutra, wol dan sebagainya yang diekspor ke Eropa. Selain textil, dibangun pula industri kristal, keramik, kerajinan tangan, serta tambang besi, baja dan tembaga. Dengan dibangunnya armada laut yang tangguh serta kapal-kapal dagang, maka sektor perdagangan pun sangat maju. Kota Fusthat, Kairo, Qaus, dan Dimyati menjadi pusat perdagangan di Mesir. Iskandariyah adalah kota pelabuhan internasional yang menjadi tulang punggung dan pusat pertemuan kapal-kapal dagang Barat dan Timur. Pajak dari sektor perdagangan ini menjadi andalan utama bagi pemasukan dan penunjang ekonomi negara.
  • F.      Kebijakan Politik dan Doktrin Keagamaan
  • Kelemahan yang menyebabkan terjadinya kemunduran dalam dinasti Fathimiyah, pada gilirannya memancing datangnya serangan dari pihak luar, yakni panglima Shalahuddin dari dinasti Ayyubiyah. Karena prestasinya dalam Perang Salib, maka ia mudah mendapatkan simpati masyarakat luas yang akhirnya dapat menaklukkan dinasti Fathimiyah dengan mudah pula.

[1] Prof. Dr. H. Faisal Ismail, M.A Sejarah dan Kebudayaan Islam Periode Klasik(Abad VII-VIII M), (IRCiSoD : Yogyakarta, 2017) hal 362-363

 [2] DR. Yusuf Al-Isy Dinasti Abbasiyah  (Abad VII-VIII M), ( Pustaka Al-Kautsar : Jakarta,  2014 ) hal 220-224

[3] DR. Yusuf Al-Isy Dinasti Abbasiyah  (Abad VII-VIII M), ( Pustaka Al-Kautsar : Jakarta,  2014 ) hal 233.

[4] Nurhakim, Sejarah Peradaban Islam, ( UMM Press : Malang, 2004 ) hal 101-103.

[5] Muhammad Jamal al-Din, Al Dawlat Al-Fatimiyah Fi Mishr, (Kairo : Dar al-Fikr al-'Arabi, 1979) hal 68.

[6] Mahayudin Hj. Yahaya, Sejarah Islam,(Kuala Lumpur; Fajar Bakti Sdn, Bhd. 1995) hal 336.

[7] Jaih Mubarak, Sejarah Peradaban Islam,(Bandung; Pustaka Islamika, 2008), 191-192

[8] Moh. Nurhakim; Sejarah Dan Peradaban Islam, hal; 107-109, dan Yusuf  Isy, Dinassti Abbasiyah, terj. Arif Munandar, (Jakarta: al Kautsar, 2007), 236-243.