Mohon tunggu...
Halimah Rachma
Halimah Rachma Mohon Tunggu... Halimah Rachma

Halo nama saya Halimah Rachma, biasa dipanggil Ima. Senang membaca jurnal

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Jangan Nodai Pernikahan yang Sakral dengan Tekanan Sosial

15 September 2019   23:23 Diperbarui: 15 September 2019   23:29 0 0 0 Mohon Tunggu...

Menyelami data itu menarik..

Berdasarkan data di tahun 2017 orang yang single lebih bahagia dibanding dengan orang yang menikah. Namun, orang yang menikah lebih merasa cukup secara finansial dibanding orang yang single. Berdsarkan data, aku liat ya plus minus. Tapi, berkeluarga itu kan ibadah. Apapun yang dinilai ibadah itu Insya Allah nikmat. Gitu kan logikanya. Dan.. berkeluarga itu adalah ibadah yang paling lama , jadi yaudah pesan aku : jangan salah pilih. Mengutip kata seorang teman , "beneran deh ma sendirian itu lebih mending dibandingkan dengan bersama dengan orang yang salah". Tapi.. tiap manusia itu pasti butuh disayangin, dipahamin, dan pemenuhan kebutuhan.

"Wahai para pemuda, apabila siapa diantara kalian yang telah memiliki ba'ah (kemampuan) maka menikahlah, kerena menikah itu menjaga pandangan dan kemaluan. Bagi yang belum mampu maka puasalah, karena puasa itu sebagai pelindung." (HR Muttafaqun 'alaih). Agama menjadi salah satu pendorong terutama bagi umat Islam untuk menikah karna memiliki nilai ibadah dan menjaga hawa nafsu.

Berdasarkan penelitian Himawan di 2018,  ada proporsi pertumbuhan wanita single berusia 30-34 tahun, angka ini naik 3x lipat dibandingkan 1970. Lalu apa masalahnya? Saya definisikan masalahnya. Masyrakat saat ini memiliki kebutuhan yang besar, sehingga masuk lah wanita sebagai tenaga kerja. Angkatan kerja meningkat, beberapa wanita eksis dalam berkarir di dunia professional. Namun disisi lain , mereka harus berkorban karna waktu yang terbatas mereka sulit mendapatkan pasangan yang cocok.  Umumnya masyrakat wanita memiliki tekanan social untuk menikah. Tekanan ini berasal dari lingkungan keluarga, kerabat, dan teman. Mungkin tidak asing mendengar pernyataan, "kapan nikah?" yang nyaring dijadikan lelucon di Twitter.

Namun bagi seorang Asia, menikah itu seperti norma yang ada di kehidupan bermasyarakat. Mau dikata apa kalo tidak menikah. Intimidasi social itu like 'slap in my face'. Menikah menjadi seperti 'kewajiban' dan menjadi single seringkali dikatakan sebagai sebuah kegagalan. Beberapa mengalami intimidasi seperti pelabelan perawan tua, expired, atau gak laku. Jujur itu jahat. Kayak.. please.. kita gak tau apa yang terjadi dibalik keputusan itu, bisa jadi karna emang belum nemu atau bahkan trauma.

Sesungguhnya pernikahan merupakan sesuatu yang luhur dan sakral. Pernikahan harusnya didsarkan pada tanggung jawab dan keikhlasan. Bahkan seharusnya setiap orang memahami bahwa ketika menikah, mereka akan berkembang biak (memiliki anak).

Menurutku pernikahan hal yang baik dan sakral. Sehingga, prosesnya pun juga harus dijalankan dengan baik. Stop labeling wanita single seperti perawan tua, expired, atau gak laku, karna deep down mereka pasti tertekan. Kalo mau bantu bisa coba cariin calon. Diganjar dengan rumah lagi di surga. Coping with social pressure, ala aku dengan bercerita ke sahabat. Mungkin temen yang lain bias balas becanda. Ingat! Orang di luar kemungkinan besar tidak hadir di saat-saat sulit kehidupan. Semua orang bebas berbicara, namun tidak semua orang perlu kita dengarkan. Let the dogs bark. Nikmatilah masa-masa menyenangkan, sebarkan energy positif, karna itu akan menyebar. Ya dan terakhir, usaha dan berdoa. Semoga datang jodoh yang terbaik.  

Bismillah