Mohon tunggu...
Abdul Hakim El Hamidy
Abdul Hakim El Hamidy Mohon Tunggu... Penulis - Penulis, Konsultan Penerbitan, Trainer, dan Motivator

Akrab disapa Aa Hakim. Adalah seorang penulis yang telah menerbitkan 30+ buku berbagai genre. Ia juga merupakan Co-Writer dan Ghost Writer dari buku "Hujan Safir", Meyda Sefira; "Gelombang Yunus" Asyirwan Yunus (Wakil Bupati Lima Puluh Kota 2010-2015); "Repihan Pendidikan", Irfendi Arbi; dan "Empat Pilar Pembangunan Kabupaten Solok". Selain menjadi penulis, penulis pendamping dan penulis bayangan, ia juga adalah trainer dan motivator yang telah berbicara pada ribuan peserta.

Selanjutnya

Tutup

Parenting Pilihan

Yang Penting Naik Kelas

24 Juli 2022   07:22 Diperbarui: 24 Juli 2022   07:24 136
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Walaupun ketika SD saya selalu juara kelas, tapi saya tak pernah menuntut anak untuk menjadi juara. Satu saja tuntutan saya, "Kamu jadi anak saleh." Itu saja.

Benar saja, saat Ujian Semester 2, anak ini santai saja. Sibuk main saja. Saya ajarin hanya 1 jam saja untuk setiap ujian. Oman ini slow banget, sempat juga Umminya cemas. Apa anak ini bisa naik kelas.

Tepat pembagian raport, yang dibuka pertama kali adalah lembaran kedua terkait kenaikan kelas. Alhamdulillah, ternyata naik kelas 2 juga. Setelah itu baru dilihat lembaran nilai. Ternyata lumayan juga nilai anak ini. Ada yang 90, 89, 87. Dan jreeeng, ternyata Ranking 8.

Kami tertawa.
"Naik kelas dan ranking 10 besar juga kamu, Man."

Kami berprinsip. Anak itu akan cerdas pada waktunya. Yang sangat kami tanamkan justru soal karakter. Dan Alhamdulillah lengket sampai sekarang.

Oman yang baru naik kelas 2 SD ini alhamdulillah anak yang terbangun karakternya. Ia suka membantu tanpa disuruh, empati, dan jika sedekah pasti ia keluarkan uang terbanyak di dompetnya.

Cita-citanya?
Wow, berbeda dari anak kebanyakan.
"Ingin punya showroom mobil. Ingin jadi orang kaya supaya banyak membantu orang." Katanya.

Dari sejak TK sampai sekarang cita-citanya tak pernah berubah. Entah apa dalam alam pikirnya.

Yang jelas, anak ini memiliki kecerdasan lain dari kebanyakan anak lainnya. Setiap kali saya nyetir saja, ia selalu bertanya dan memperhatikan. Sampai ketika mobil jalan dan melaju ia tahu saat saya oper gigi 1, 2, 3, 4, dan 5. Ia pun tahu mana yang gas, rem, dan kopling. Sepertinya, kalau saya ajarin nyetir, sebelum tamat SD, ia sudah mahir. Tapi, saya gak mau ajarin. Nanti saat sudah SMA saja ia ajarin, supaya stabil emosinya. Jadi saat punya SIM kelak, ia sudah bisa bawa mobil berikut rambu-rambunya.

Semua anak cerdas. Jangan lihat kecerdasan anak dari satu aspek. Sebagai orang tua,  saya selalu menilai anak cerdas dan menerapkan "Merdeka Belajar", bukan sekadar teori tapi praktik.

Sungguh, menuntut anak untuk ini dan itu. Harus ranking, harus juara umum, bagi saya merampas kemerdekaan anak. Biarkan ia bertumbuh, kita sebagai orang tua hanya mengajari, mengawasi, dan mengingatkan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Parenting Selengkapnya
Lihat Parenting Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun