Mohon tunggu...
Fan Hakim
Fan Hakim Mohon Tunggu... Mahasiswa - Irfan Hakim

Mahasiswa Sosiologi

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud & Agama

Masyarakat Modern: Eksploitasi demi Eksistensi

25 Juli 2021   21:25 Diperbarui: 25 Juli 2021   22:10 67 0 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Masyarakat Modern: Eksploitasi demi Eksistensi
Ilmu Sosbud dan Agama. Sumber ilustrasi: PEXELS

Narsisisme telah menyelinap masuk, ter-internalisasi kedalam kehidupan masyarakat modern. Perilaku narsis yaitu selalu memamerkan hal yang dirasa mempunyai nilai dan dapat menjadi media memperoleh apresiasi orang lain terhadap hal tersebut dan seakan-akan menganggap "hidup gue lebih baik daripada hidup loe" yang secara implisit tampak dalam setiap perilaku, postingan yang ditunjukkan ke publik.  Apalagi di era modern saat ini, narsisisme terfasilitasi oleh teknologi yang menjadikannya semakin kentara dan mudah dilakukan di media sosial. Media sosial telah menjadi kehidupan kedua atau bahkan ada pula masyarakat yang memposisikan media sosial sebagai kehidupan utama. Lebih mengutamakan  penampilan publik secara virtual (di dunia maya) daripada penampilan konvensional di dunia nyata. Akibatnya, ruang-ruang privat akhirnya hilang, terhapus karena telah melebur dengan ruang publik. Kerancuan batas antara ruang public dan ruang privat bermuara pada ekstasi komunikasi.  

Apresiasi di era modern cukup menarik, unik dan berbeda dengan era sebelumnya. Apresiasi era ini bukan lagi identik dengan tropi/ piala, atau sertifikat dan sebagainya, tapi telah bertransformasi menjadi like, komen, share, subscribe dan adsense. Masyarakat modern gila akan apresiasi, reward, dan menjadikan social punishment sebagai penganggu ketentraman hidup. Social punishment di era modern tidak sama dengan di era tradisional. Social punishment di era modern berbentuk seperti dislike, hate comment, cyberbullying, dan sebagainya. Implikasi dari social punishment di era modern ini tidak kalah mengerikannya atau bahkan lebih mengerikan daripada di era tradisional, misalnya seperti stress, depresi, bahkan yang lebih parah lagi adalah bunuh diri. Hal tersebut karena yang memberikan punishment tidak hanya orang yang tersekat oleh batas geografis, tapi lebih luas lagi dan tanpa sekat.

Untuk mendapatkan reward serta menghindari punishment dari publik, masyarakat modern memiliki kecenderungan untuk mengeksploitasi dirinya. Eksploitasi tersebut dapat terhadap tubuhnya, hartanya, atau bahkan kehormatannya (harga diri). Menjadi viral, terkenal, mendapatkan banyak pujian, dan mempunyai followers yang banyak menjadi impian kebanyakan masyarakat modern. Bagi masyarakat modern, eksistensi telah menjelma menjadi "Tuhan baru" setelah uang. Bagaimana tidak?, untuk menggapainya saja diperlukan usaha yang extra ordinary, dengan rela mengorbankan tubuhnya, hartanya, tenaganya, atau bahkan kehormatannya. Kata apa yang pantas melukiskan hal itu kecuali dengan kata "Tuhan baru"? Setiap langkah dalam kehidupannya selalu berorientasi pada memperoleh dan mempertahankan eksistensi diri.

Eksploitasi tubuh demi kepentingan eksistensi diri dapat kita saksikan di berbagai media sosial, platform yang ada. Contohnya seperti menampilkan bentuk tubuh yang seksi untuk kepentingan eksistensi semata. Berpose, bergoyang, dengan memperlihatkan lekuk tubuhnya untuk memikat orang lain supaya memberikannya like dan komennya. Selain identik dengan memperlihatkan bentuk tubuh, eksploitasi tubuh juga dapat diartikan sebagai kegiatan yang membahayakan dan merusak tubuh. Contohnya seperti makan makanan yang sangat pedas hanya untuk kepentingan konten semata, tak menghiraukan segala resiko yang akan ia dapatkan dengan melakukan hal tersebut. Kalau dahulu kita mengenal kalimat "sehat itu lebih berharga daripada uang", kini mungkin slogan tersebut tidak tertanam dalam diri masyarakat modern. Sekarang berbanding terbalik, dengan kalimat "like, komen, subscribe, dan adsense adalah segalanya, dan lebih berharga daripada kesehatan diri". Tentu ada banyak lagi contoh dari eksploitasi tubuh jika kita mau untuk selalu berrefleksi.

Tidak cukup dengan eksploitasi terhadap diri atau tubuh, tapi demi "Tuhan baru" bernama eksistensi, masyarakat modern juga rela berkorban dengan harta dan bahkan kehormatannya dipertaruhkan. Masyarakat modern mengalami kondisi conspicuous consumption (konsumsi untuk pamer). Kegiatan konsumsi yang dilakukan, tidak semata untuk memenuhi kebutuhan fungsional, tapi lebih kepada fungsi untuk pamer-lah yang lebih dominan. Ngopi di cafe elite, makan di restoran mewah, berwisata di destinasi yang mahal dan ekslusif adalah suatu primadona bagi masyarakat modern, dan yang terpenting adalah dokumentasi setiap momen tak boleh terlewatkan. Dokumentasi itulah yang nantinya akan digunakan untuk mengisi ruang-ruang kosong postingan media sosial dalam rangka mendapatkan reward dari netizen atau para follower-nya.    

Kehormatan (harga diri) juga menjadi modal taruhan di meja perjudian era modern untuk mendapatkan rangking tranding topic atau menjadi viral di dunia maya. Mendapatkannya, menjadi pencapaian dan kebanggaan tersendiri bagi mereka, hamba media sosial. Tak peduli apa yang dilakukan itu telah merendahkan harga diri atau kehormatannya, yang terpenting adalah viewers, like, komen, share, dan adsense-nya banyak. Sangat banyak contoh semacam itu di media dan sangat mudah kita akses, mungkin kalau dituliskan semua, akan lebih banyak daripada tulisan ini. Krisis kehormatan ternyata ikut menerpa masyarakat kita, dan berani bertengger bersama krisis-krisis besar, seperti krisis ekonomi, kesehatan, lingkungan, krisis demokrasi dan krisis-krisis lainnya yang sedang kita hadapi bersama. Budaya luhur kita, seperti budaya sungkan (malu) ternyata terdegradasi juga di era modern. Apakah kita bisa mengembalikannya? Mari tanyakan pada hati nurani kita.

Contoh-contoh tindakan eksploitasi demi eksistensi pada masyarakat modern sangat mudah kita akses dan kita jumpai. Gambaran di atas, mungkin hanya secuil atau kepingan puzzle dari realitas untuk menggambarkan keadaan masyarakat modern saat ini. Masyarakat modern yang dikenal dengan rasionalitasnya, ternyata dapat terjebak dalam irrasionalitas juga. Mengejar viewers, like, komen, dan sebagainya, sebagai upaya mendapatkan atau mempertahankan eksistensi adalah suatu hal yang irrasional. Meskipun mungkin adsense dan endorse menjadi hal yang rasional, karena untuk kebutuhan ekonomi. Namun tindakan untuk mencapainya tersebut-lah yang menjadi persoalan, karena tidak atas pertimbangan akal sehat, bersifat eksploitatif terhadap diri, serta menimbulkan dampak-dampak negatif. Jangan-jangan fenomena eksploitasi demi kepentingan eksistensi pada masyarakat modern ini terjadi karena sikap kita yang permisif, bahkan supportif dengan hal tersebut? Temukan jawabannya dalam diri dengan berkontemplasi,  berrefleksi dan berbenah diri!

Realitas di atas merupakan apa yang oleh Jean Baudrillard sebut sebagai "Simulacra". Simulacra adalah konstruksi imajiner terhadap sebuah realitas, tanpa menghadirkan realitas itu sendiri secara esensial. Masyarakat modern menganggap bahwa yang simulacra itulah suatu hal yang nyata (realitas). Media sosial telah sukses mengontrol perilaku masyarakat, menarik leher masyarakat untuk tunduk dihadapan media sosial. Sehingga media sosial menjelma menjadi suatu realitas baru dan utama yang terkonstruksi secara imajiner. Simbol like, komen, viewer dan sebagainya menjadi hal utama dan memberikan pengaruh cukup kuat terhadap kehidupan nyata. Padahal hal tersebut merupakan realitas palsu, tapi karena terkonstruksi secara terus menerus, menjadi seperti realitas nyata. Hal tersebut menunjukkan masyarakat modern telah terjebak dengan apa yang disebut hiperrealitas. Tindakan, perilaku, dan konsumsi masyarakat berorientasi atau mengejar suatu realitas palsu.

Mohon tunggu...
Lihat Konten Ilmu Sosbud & Agama Selengkapnya
Lihat Ilmu Sosbud & Agama Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan