Mohon tunggu...
Hakam Nurwahdi
Hakam Nurwahdi Mohon Tunggu... Seniman - Masih mahasiswa

Manusia biasa yang suka tidur di pagi hari

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Ia Ingin Menjadi Paspampres

3 Agustus 2021   21:15 Diperbarui: 3 Agustus 2021   21:24 68 0 0 Mohon Tunggu...

"Pokoknya, iya pokoknya. Aku harus bisa merubah kekacauan yang telah dilakukan oleh pemimpin sebelum-sebelum ku." Ucapnya di hadapan wartawan. Di hadapan bos nya, yang mencukupi segala kebutuhan : rakyat.

"Berati yang dilakukan pemimpin-pemimpin sebelum bapak adalah kesia-siaan, gitu pak?." Banyak pertanyaan keluar dari mulut wartawan, tapi hanya satu pertanyaan itu yang sampai di telinganya, menggerakan otaknya yang sekian lama enggan bergerak. Ia termenung sejenak, mencari jawaban yang paling-paling.

"Bukan sia-sia. Hanya saja mereka tidak menjalankan apa yang dikatakan hati dan rakyat. Mereka berbuat atas dasar orang-orang yang mendukungnya dari belakang." Ia jawab dengan begitu wibawa, juga dengan melipat tangannya. "Sudah ya, saya harus beristirahat. Besok saya mau ke bali. Biasa blusukan." Ucapnya mengakhiri pertemuannya dengan rakyat dan juga wartawan yang siap meliput segala kebaikan di sini.

"Ke bali?, itu wisata atau blusukan?." Wartawan masih saja bertanya, tapi tetap ia jawab karena dia adalah pemimpin yang tak suka membuat rakyatnya bertanya-tanya

"Wisata bagi orang-orang kaya, tapi kalau bagi saya, kemanapun saya pergi itu adalah blusukan. Mau ke raja ampat atau ke labuan bajo itu tetap blusukan bagi saya. Ingat itu ya." Itu kata-kata terkahirnya sebelum balik dengan dengan paspampres yang selalu siap siaga menjaga raga dan wibawanya

Di dalam dadanya terus saja membara untuk segera menyelesaikan berbagai macam masalah yang ada di negerinya. Ia terus mengingat-ingat wajah ratusan rakyat tadi, yang begitu berharap perubahan bisa dilakukan oleh tangannya.

Ia pun melihat tangannya, mengepal, mungkin siap-siap melakukan sebuah salam "tangan yang penuh dosa malam-malam. Berubahlah menjadi tangan yang membawa kebaikan." Ucapnya dalam hati

Paspampres disekelilingnya heran. Dari priode ke priode mereka terus merasakan kenehan yang bermacam-macam di dalam diri pemimpinnya.
"Langsung ke istana pak?." Ucap salah satu dari mereka, menghilangkan situasi kikuk, dikarenakan pandangan heran tadi

"Pemimpin- pemimpin yang dulu biasa kemana dulu?." Tanyanya, ia ingin berbeda pastinya

"Kalau pemimpin yang kemarin setelah ada suatu keperluan, sebelum balik ke istana, mereka makan dulu di restoran bintang lima." Jawab supir, yang sudah menyupiri pemimpin negeri ini sejak negeri ini lahir.

"Di istana ga ada makanan?." Ia lapar, tapi ingin berbeda dari pemimpin yang sebelumnya

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x