Mohon tunggu...
M.A.H.
M.A.H. Mohon Tunggu... Hidupkan Hidup

Manusia biasa

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud & Agama

Membaca Nasib Konflik Palestina-Israel dalam Kepemimpinan Joe Biden

22 Juni 2021   23:07 Diperbarui: 22 Juni 2021   23:25 138 1 0 Mohon Tunggu...

Konflik antara kedua negara, Palestina dan Israel, telah menjadi salah satu konflik internasional tertua yang belum terselesaikan hingga kini. Berbagai sudut pandang ikut ambil andil dalam meramaikan pembahasan mengenai konflik tersebut. Sudut pandang politik, agama, ras, humaniter, hukum dan berbagai sudut pandang lain berebut panggung pembahasan. 

Berbagai hal yang berkaitan dengan konflik tersebut juga seakan tidak pernah habis untuk terus dibahas seperti keterkaitan dengan  organisasi internasional dalam bingkai regionalismenya yang tidak kunjung berhasil terjadi serta campur tangan pihak asing yang melakukan intervensi. Termasuk campur tangan atau intervensi dari negara lain yang bahkan berada di luar kawasan seperti Amerika Serikat. Semua hal itu membuat konflik tersebut terkesan berkepanjangan dan berlarut-larut serta sulit untuk dilakukan sebuah normalisasi karena gumpalan benang telah kusut.

Amerika Serikat seolah mempunyai keterikatan dalam ketertarikan tersendiri terhadap Kawasan Timur Tengah, termasuk terhadap dinamika hubungan antara Palestina dan Israel. Setiap pergerakan dari salah satu di antara Palestina dan Israel selalu menghadirkan bayang-bayang Amerika Serikat yang begitu melekat. Bagi Israel, tentu saja Amerika Serikat adalah kawan idamannya yang bersedia menemani, mendukung, hingga memberi pertahanan diri. Namun, bagi pejuang-pejuang penjaga kemerdekaan dari Palestina, Amerika Serikat adalah kartu pamungkas tersembunyi yang dari sisi lain ikut membantu mengurangi usaha tetapi di sisi lainnya sekaligus dapat membumi hanguskan seluruh rencana.

Setiap rencana yang ingin dilakukan oleh kedua negara tersebut secara tidak langsung selalu mengikut sertakan Amerika Serikat dalam konstelasi hubungan keduanya. Karena hal tersebut, setiap adanya gubahan kondisi dan situasi politik di Amerika Serikat menjadikannya ikut habis-habisan ditilik. Seperti pemilihan presiden misalnya, pergantian kepemimpinan selalu menjadi suatu penentuan bagi arah kebijakan pemerintahan. Sedangkan pada tahun 2020, kontes pergantian kepemimpinan meruntuhkan takhta Donald Trump dan merintis perjuangan Joe Biden. Bagaimanakah masa depan konflik Palestina dan Israel di masa kepemimpinannya?

Untuk dapat terus melaju, dibutuhkan setidaknya kaca spion untuk melihat ke belakang. Begitu juga dalam hal ini, diperlukan meninjau ke masa lampau untuk membaca masa depan. Joe Biden adalah politikus Partai Demokrat yang pernah menduduki jabatan penting seperti Senator dan Wakil Presiden. Dalam sejarahnya, saat kepemimpinannya bersama Presiden Barrack Obama, Amerika Serikat memiliki wacana untuk menghapus lembah eksklusif pemisah antara Amerika Serikat dengan dunia Islam (termasuk Timur Tengah) pada saat lawatan Barrack Obama di Mesir (Abdulrazaq, 2020). Namun, pada kenyataannya wacana tersebut hanya meninggalkan gagasan aksi nyata dengan menyisakan bantuan finansial semata. Peristiwa-peristiwa penting di Timur Tengah seperti penjungkir-balikan kepemimpinan Mesir dan upaya kudeta gerakan Fethullah Gullen di Turki hanya menjadikan Amerika Serikat sebagai penikmat. Bahkan Fethullah Gullen mendapat tempat di Amerika Serikat (Abdulrazaq, 2020).

Dari penilikan sejarah Joe Biden dan arah pergerakan luar negeri Amerika Serikat, dapat diketahui bahwa Amerika Serikat seolah memiliki dua kepentingan di mata internasional. Dua kepentingan tersebut adalah penegasan posisi hubungan bilateral dengan Israel dan penegasan posisi sebagai teman yang tidak asing bagi Timur Tengah. Karena dua percobaan penegasan tersebut tidak dapat bersatu, maka akan membuat salah satu darinya harus mengalah ataupun mengalah kepada keduanya. Hal demikian kemungkinan juga akan menjadi dasar dari bagaimana nasib Timur Tengah di era kepemimpinan Joe Biden. Sikap dari arah politik luar negeri Joe Biden dan Amerika Serikat tersebut diamini oleh peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Hamdan Basyar menjelaskan tentang bagaimana kebijakan politik luar negeri Amerika Serikat terhadap Timur Tengah sebagai representasi dari dua wajah karena di satu sisi akan terus membela Israel dan di sisi lainnya akan mengakomodasi kepentingan Palestina (Humas LIPI, 2020). Lalu, bagaimana jadinya dengan status Yerusalem?

Sudah menjadi rahasia umum bahwa salah satu konflik antara Palestina dan Israel adalah tentang sengketa wilayah. Dalam hal ini, pada awal bulan Desember tahun 2017 (pada kepemimpinan Donald Trump), Amerika Serikat menyatakan bahwa Yerusalem adalah ibukota Israel (BBC News Indonesia, 2017). Israel tentu menyambut dengan suka cita. Hal tersebut kembali menegaskan hak milik Israel yang mencengkeram erat Yerusalem. Sebaliknya, hal tersebut membuat pejuang Palestina geram. Namun, ternyata keputusan tersebut mengalami penolakan dari berbagai kalangan. Dalam Sidang Umum PBB, mayoritas dari anggota menolak pengakuan sepihak oleh Amerika dan Israel tersebut (BBC News, 2017). Bahkan keempat negara pemegang hak veto lain juga ikut menolak. Namun, tentu saja usaha dari Amerika Serikat dan Israel tidak akan berhenti di situ.

Terlepas dari kejadian itu, bagaimana kebijakan Joe Biden di masa depan terkait konflik tersebut? Pada hari pertamanya, Joe Biden mengeluarkan kebijakan promoting racial equity dan penghapusan pelarangan masuknya warga muslim ke Amerika Serikat (Janowski, 2021). Tentunya hal tersebut memberi angin positif bagi dunia Islam dan Timur Tengah. Namun, hingga 100 hari sejak pelantikannya, tidak ada tanda-tanda bahwa Joe Biden akan mengoreksi kebijakan Yerusalem di masa Donald Trump. Hal tersebut mengindikasikan bahwa penyelesaian konflik Palestina-Israel dalam kasus klaim sepihak oleh pihak Amerika Serikat dan Israel tidak terdapat dalam agenda Joe Biden atau minimal tidak diprioritaskan. Padahal, hal tersebut sangat berarti bagi Palestina. Indikasi tersebut menggambarkan bahwa 'apa baiknya lisan terbilang tetapi tangan enggan menuang'. Sejalan dengan analisis arah kebijakan Joe Biden tersebut, Mara Liasson, jurnalis dan pakar politik Amerika Serikat serta koresponden politik nasional di National Public Radio (NPR), menyatakan analisisnya tentang arah kebijakan luar negeri Joe Biden adalah memprioritaskan persaingannya dengan China, bukan ke arah perdamaian dan stabilitas Timur Tengah (NPR, 2021).

Jadi, se-iya dan se-kata dari pandangan Hamdan Basyar, masa depan konflik Palestina-Israel akan mengalami kemacetan karena terdapat dua sisi yang sekaligus ingin diraih oleh Amerika Serikat. Dalam konteks kasus pengakuan sepihak Yerusalem, maka kemacetan juga akan terjadi karena Amerika Serikat dalam masa Joe Biden tidak memberikan perhatian kepada hal tersebut. Sikap dari Joe Biden dan arah politik luar negeri Amerika Serikat secara umum menyiratkan masa depan pengakuan Yerusalem tetap menjadi kebijakan Amerika Serikat. Hal tersebut kemungkinan besar berpotensi menjadi masalah yang terus dipendam. Sedangkan masalah yang terus dipendam suatu saat akan meledak bagai sebuah balon penuh dengan tekanan.

Prediksi tersebut terbukti kemudian setelah konflik antara Palestina-Israel kembali menyeruak karena kasus penyerangan terhadap jamaah di kompleks Masjid Al-Aqsa dan kemudian menjalar ke serangan rudal satu sama lain. Dari situ, Joe Biden kemudian memberikan responsnya. Di awal konflik, Joe Biden menyatakan bahwa Palestina dan Israel berhak untuk mendapatkan kebebasan, keamanan, dan demokrasi secara setara (NPR, 2021). Namun, setelahnya Biden juga mengatakan bahwa partainya masih tetap mendukung Israel hingga berharap bahwa kawasan akan mengakui Israel sebagai negara Yahudi atau tidak ada kedamaian selama tidak ada pengakuan tersebut (NPR, 2021). Hal itu kemudian menjelaskan betapa jelasnya posisi Joe Biden, yaitu mendukung perdamaian Palestina-Israel dengan sudut pandang sebagai pendukung Israel.

Sehingga, arah kebijakan luar negeri Amerika dengan Joe Biden sebagai presiden kemungkinan besar akan ikut membantu kedamaian Timur Tengah khususnya dalam konflik Palestina-Israel. Namun, dengan sudut pandang sebagai pendukung dan sahabat Israel. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN