Mohon tunggu...
M Hajril
M Hajril Mohon Tunggu... Hazril

Mahasiswa UIN sunan Kalijaga Program Studi Sosiologi Agama

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud & Agama

Alasan Dipilihnya Perempuan Serta Hak dan Kewajibanya sebagai Tunggu Tubang dalam Tradisi Adat Daerah Semende

14 Januari 2021   18:56 Diperbarui: 14 Januari 2021   19:13 72 0 0 Mohon Tunggu...

hajrilmuhammad7@gmail.com

Mahasiswa Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga

Prodi S1 Sosiologi Agama

Fakultas Ushuludin Dan Pemikiran Islam

Semende merupakan daerah yang berada di kabupaten Muara Enim,Provinsi Sumatera Selatan.Daerah Ini memiliki 3 pembagian daerah kecamatan yaitu (1) Kecamatan Semende Darat Laut (2)  Semende Darat Ulu (3) Semende Darat Tengah.Daerah Ini merupakan daerah dataran tinggi dan dilalui oleh perbukitan (Bukit Barisan).Nama semende sendiri berasal ari dua kata yaitu seme=sama dan ende=harga,menurut logat semende same rege yaitu betine(perempuan) tidak membeki dan bujang (laki-laki) tidak dibeli.Bahasa Sehari-hari Masyarakat Semende adalah bahasa semende dengan kata-katanya yang berakhiran *E* misalnya Kenapa=Ngape.Ada banyak hal yang menarik dari wilayah ini selain dari keindahan alamnya yang sangat mempesona,kultur dari daearah ini pun terbilang sangat beragam dan menarik.Salah Satunya adalah Tradisi  Tunggu Tubang.

Tradisi tunggu tubang adalah sebuah satatus yang diberikan kepada anak perempuan tertua atau yang lahir pertama dalam keluarga.Apabila dalam keluarga tunggu tubang tidak memiliki anak perempuan,maka istri dari anak laki-laki perama yang akan diberikan status sebagai tunggu tubang,dengan melakukan ritual adat ngangkit anak terlebih dahulu,sebagai tanda bahwa menantunya itu telah diberikan amanah untuk menjadi tunggu tubang dan menyanggupi amanah sebagai tunggu tubang.Status tunggu tubang mulai diberlakkan ketika anak itu memasuki bahtera rumah tangga.

Adapun keluarga yang tunggu tubang yang tidak memiliki anak,maka status tunggu tubang akan diberikan kepada keponakan perempuan yang berasal dari adik atau kakak perempuan tunggu tubang.Selain itu,bagi tunggu tubang yang tidak sanggup memenuhi kewajibanya,maka akan di musywarahkan dalam keluarga siapa yang akana menggantikanya.

Menurut tradisi  tunggu tubang ini,seluruh kekayaan keluarga yang terdiri dari Rumah,Sawah,Kebun,tanah dsb,diberikan kepada anak perempuan tertua dalam keluarga,begitu seterusnya dari generasi ke generasi.Harta Pusaka yang telah turun temurun (bejulat) kepada anak,cucu,cicit(piut) dan seterusnya sebagai ahli waris ,dalam hal ini disebut tunggu tubang,mereka memiliki hak sepenuhnya terhadap semua tu.Akan tetapi,mereka hanya memiliki hak mengelola dan menunggu,dan tidak memiliki hak untuk menjual.masyarakat semende menggunakan sistem matrilineal dalam sistem kekerabatnya karena perempuan menjadihal utama dalam kehidupan.

Adapun filosofi dari harta benda yang diberikan adalah,harta berupa rumah yang didapatkan oleh tunggu tubang memiliki makna nantinya rumah itu dijadikan tempat berkumpul bagi sanak family,jadi sekalipun mereka sudah pergi merantau ke kota nantinya mereka memiliki rumah di desa untuk pulang.Adapun sawah.kebun yang diberikan memilki makan untuk menjamu keluarga besar yang pulang ke desa.

Ada  alasan dibalik dipilihnya perempuan sebagai tunggu tubang,bukan semata mata karena marginalisasi perempuan akan tetapi secara filosofisnya masyrakat semende menganggap bahwa “perempuan lebih mampu menjaga,merawat,dan bertanggung jawab atas amnah orang tua termasuk mengurus saudaranya,serta perempuan dianggap lebih telaten dalam mengurus orang tua jika nanti sudah berusia lanjut”

Karena keistimewaan yang diberikan kepada tunggu tubang,maka bagi laki laki yang ingin menikahi-nya pun harus mengeluarkan mahar yang cukup besar.Tradisi ini disebut parbiye.Mengikut adat biasanya maharnya berupa emas,seekor kerbau,saput abang (selimut merah),dan alat rumah tangga,dan apabila pihak laki-laki tidak menyanggupinya makan dihitung sebagai hutang.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN