Mohon tunggu...
Hairil Suriname
Hairil Suriname Mohon Tunggu... Lainnya - Institut Tinta Manuru

Bukan Penulis.

Selanjutnya

Tutup

Money Pilihan

Cerita Anjloknya Omzet Penjual Ketoprak di Batam (Seri I)

28 Maret 2021   18:11 Diperbarui: 28 Maret 2021   20:33 654
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Hallo Kompasianer, bagaimana dengan liburan kalian?

Tentunnya, jangan lupa meninggalkan dua atau tiga paragraf untuk di baca oleh pembaca, hari ini penulis mau berbagi lagi tentang cerita penjual ketoprak di bilangan Sungai Panas (Kota Batam) 

Setelah China, Indonesia merupakan negara importir kedelai terbesar di dunia. Menjadi negara importir terbesar setelah China alih-alih memenuhi kebutuhan industri tahu dan tempe di negara ini. Penulis ini bagaimana, tema nya Ketoprak tapi bicaranya kedelai?

Eh iya, maaf. Penulis ingin utarakan dulu sedikit informasi dewasa ini dengan kondisi naiknya harga tahu, efek dari harga kedelai di pasar global melonjak tinggi. Di banyak media, diinformasikan sejumlah perajin tahu dan tempe berbahan kedelai ini mengeluhkan daya beli bahan pokok untuk produksi tahu dan tempe. Nah, ini sudah masuk ke tema kan? Kalau begitu, mari kita lanjut !

Sabtu (27/03/2021), sekitar pukul 18.00 wib, penulis dan seorang teman cari tempat makan di daerah Sungai Panas tepatnya di depan Maha Vihara Duta Maitreya Sungai Panas Kota Batam. Disana terlihat banyak penjual jajanan/makanan dan aneka minuman yang terjejer rapi menunggu pengunjung datang.

Setiba di tempat ini, karena penulis sendiri sudah sering makan/beli di tempat ini, kita berdua setelah muter-muter di daerah kota Batam, langsung masuk parkiran tempat biasa para pengunjung memarkir mobil dan motornya di depan pertokoan.

Ada satu warung makan yang terlihat sangat ramai pengunjungnya, dan kami berdua tidak punya keberanian untuk ambil tempat dan bergabung sebab masih sangat takut dengan keramaian, ya mengingat protocol Kesehatan di utamakan.

Karena yang ramai itu warung, kami berdua balik arah lagi ke tempat parkiran mobil. Dua, tiga sampai empat gerobak penjual terlewati, dan mata pun tertuju pada satu gerobak yang bertuliskan "Ketoprak". Hanya saja penulis karena terlalu serius ngobrol sama pemiliknya, sampai lupa ambil foto gerobak sebagai dokumentasi.

Di situlah kesimpulan tempat makan untuk menjelang malam kami berdua. Kebetulan tempatnya juga hanya dua meja untuk pembeli. Satu meja dengan empat kursi dari bahan plastic di letakkan disisi kiri gerobak. Jarak dari tepi jalan kurang lebih 2.5 meter.

Ada dua pemuda terlihat sedang duduk dan asik ngobrol, mereka berdua lah pemilik geroba Ketoprak itu. Penulis dan teman menyapa mereka dan mulai melempar beberapa pertanyaan biasa sebagai pengunjung yang ingin makan, pasti saja pertanyaan akan melayang dikepala penjual.

"Bang, ketoprak biasa?" Sebab ada ketoprak yang special di beberapa tempat.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Money Selengkapnya
Lihat Money Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun