Candu Kopi
Candu Kopi Pendengar Setia, pembaca musiman

Hanya Penikmat yang menjadi candu

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Sebebas Samudera di Bibir Pasifik

27 Januari 2018   23:39 Diperbarui: 27 Januari 2018   23:45 319 0 0
Sebebas Samudera di Bibir Pasifik
Koleksi Pribadi

Kembali kepada suatu yang bebas bukan berarti membanggakan diri, semuanya adalah kesempatan terurai dalam nilai dan kekayaan kepunyaan Pencipta

Disini, bibir pasifik ditimur Indonesia menyuguhkan banyak warna yang terangkai dalam hal yang menakjubkan. Hanya dapat dilihat oleh mata yang ikhlas dan tanpa keluh sedikitpun.

Hari pertama sampai menginjakkan kaki dibibir pasifik Kab Kepulauan morotai. Sebelumnya, berangkat dari timur jakarta menuju bandara soekarno hatta. Pukul 01.00 wib melakukan cek in.

Pesawat baru bisa take off pada pukul 02.30 wib. Kurang lebih empat jam mengudara. Bandara Babullah sultan ternate sudah terlihat memanjang saat pesawat menuju bebas kelandasan pacu.

Tiga puluh menit dikota ternate tak memberikan sedikit kenangan, adalah kesengajaan. Melanjutkan berjalanan menuju pelabuhan speed boat ternate melintasi ke kotaku (Kota Tidore)

Rumah adalah kenyataan yang terbeli setelah kurang lebih dua tahun bermimpi ditanah pahlawan (Jakarta). Disambut oleh wanita yang memiliki rahim terkuat menampung anaknya. Oleh seorang pemimpin keluarga yang tangguh.

Mereka adalah orang tua terbaik bagiku. Hanya beberapa jam. Buatku, waktu bukanlah suatu yang berarti. Sebab Tuhan menghadirkan kebahagian dari cara mempertemukan anak dan orang tuanya.

Empat jam bercengkerama bersama keluarga adalah kesempatan emas. Buatku, pergi untuk kembali masih belum memiliki kenyataan yang pasti. Ini hanya jalan-jalan, bukan kembali yang sesunghuhnya.

Pukul 16.00 wib berpamitan, menuju pelabuhan sped boat kembali melintasi laut menuju ternate. Dipelabuhan A. Yani, haluan tranportasi laut KM Geovani memecahkan gelombang samudera melaju kebibir pasifik Kab. Pulau Morotai.

Koleksi Pribadi (Laut diantara Pulau Morotai)
Koleksi Pribadi (Laut diantara Pulau Morotai)

Kurang lebih dua belas jam perjalanan, kadaan terasa berhenti. Kejauhan memang bukan sebagai pantangan sebab doa adalah keluatan mulia dan terbaik dari semua kekuatan yang ada untuk kita.

Daruba - Morotai, kaki melangkah kepelabuhan adalah momen terasik. Karwna mimpi untuk keliling pulau, belah samudera dibibir pasifik, arus, ombak, angin dan badai adalah cara terbaik menguji anak-anak nelayan.

Hari kedua di Kab. Pulau Morotai, perjalanan kebeberapa desa yang ada barisan pulau-pulau sudah nyata adanya. Sped boat dua mesin membelah samudera dengan sangat gesit. Masinis adalah kendali utama kemana arah kita tuju.

Koleksi Pribadi
Koleksi Pribadi

Desa wayabula, posi-posi rao, samiyamau, tiley, sopi, ciodalam, ciomaloleo dan ciogerong adalah beberap desa pertama yang dikunjungi.

Sejauh ini kata beberapa teman, desa tersebut. Sebagai orang lokal (asli) kab. Pulau Morotai sendiri belum pernah menjangkau sampai desa terjauh. Itu hal yang paling menakjubkan.

Perjalanan satu hari dua malam adalah hal biasa buat saya sebagai anak nelayan. Bermain arus adalah cara kami melepas penat.

Koleksi Pribadi (Ini Nunuhu beach. Bali kecil) di Pulau Morotai
Koleksi Pribadi (Ini Nunuhu beach. Bali kecil) di Pulau Morotai

Kenangan pertama di kab. Pulau Morotai memberikan kesan bahwa alam dan samudera luas kepunyaan penciota adalah hal terindah yang harus kita nikmati dan syukuri.

Sebelum menutup sedikit celoteh ini, aku hanya bisa berkata " Aku ingin kembali bermain dengan ikan kecil, gemuruh ombak dan pasir putih. Aku hanya ingin bebas seperti samudera dibibir pasifik"