Muda

Cendekiawan Sudah Prediksi Munculnya Pemimpin Muda

12 Maret 2018   11:17 Diperbarui: 12 Maret 2018   13:29 1167 14 1
Cendekiawan Sudah Prediksi Munculnya Pemimpin Muda
Ketua Kogasma Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono menyapa kader usai memberikan pidato politiknya dalam penutupan Rapimnas Partai Demokrat 2018 di Sentul International Convention Center (SICC), Bogor, Jawa Barat, Minggu 11 Maret 2018. (foto: Tribunnews)

Orasi Kebangsaan yang disampaikan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) di Sentul International Convention Center (SICC), Bogor, Jawa Barat, pada Minggu 11 Maret lalu seolah membuka mata publik bahwa ternyata bangsa ini masih memiliki tokoh muda yang berkapasitas.

Kaum muda begitu berpengaruh di mata AHY. Berulangkali ia menyemangati dan mengatakan betapa generasi muda memiliki potensi yang besar bagi kemajuan bangsa. Momen inilah yang rasanya jarang ditemui dalam agenda politik lain, yang lebih mementingkan kelompok generasi transisi.

Sebenarnya para peneliti, cendekiawan atau kaum intelektual, sudah mewanti-wanti untuk dilakukan regenerasi pemimpin. Studi ilmiah dan berbagai penelitian pun merujuk pada konklusi bahwa era sekarang, hingga dua dekade kedepan, akan bermunculan tokoh muda yang dapat memimpin bangsa ini ke arah yang lebih baik. Berikut beberapa tokoh intelektual yang kerap mendorong terciptanya hal tersebut.

BJ Habibie

Presiden RI ke-3 Prof. Dr. Ing. Bacharuddin Jusuf Habibie (BJ Habibie) pernah mengatakan bahwa pemimpin Indonesia seharusnya berasal dari kalangan orang muda. Menurutnya generasi transisi sudah cukup memimpin negeri ini, era kepemimpinan kedepan harus dilanjutkan oleh generasi muda. Tidak harus dari politisi, tapi bisa jadi dari kalangan teknokrat yang survival politicion.

Generasi transisi yang dimaksud adalah generasi yang pada zaman orde baru telah berkarir dan merasakan manis pahitnya rezim tersebut. Konkritnya generasi peralihan ini adalah orang-orang yang berumur 60 tahun saat ini. Generasi ini menurut Habibie lebih cocok berperan sebagai guru bangsa atau negarawan.

Habibie mengatakan ambisi kelompok tua pemilik partai politik merasa akan terancam dengan munculnya tokoh-tokoh seperti itu. Selain kriteria umur, Habibie juga menyampaikan kriteria lainnya, seperti smart, mengayomi atau bukan pemimpin yang mengadu domba, dan visi misi yang jelas.

Mohammad Nuh

Mantan Rektor Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Mohammad Nuh pernah menjelaskan bahwa kaum muda perlu ikut aktif dalam berdemokrasi. Sebagai bagian dari kewajiban atau hak dari setiap warga bangsa, anak muda harus tahu tentang akan nasib penentuan bangsanya yang terlibat ke dalam masa depan.

Guru Besar di bidang Digital Control itu juga menerangkan bahwa demokrasi menentukan nasib bangsanya ke depan dan seperti apa pemimpinnya ke depan. Sangat disayangkan jika ada anak yang acuh tak acuh terhadap demokrasi. Menurutnya, masa depan kaum muda akan ditentukan oleh pemimpin yang dipilihnya.

Untuk itu, Sosok yang pernah menjabat Ketua PBNU dan ICMI itu menyarankan agar kaum muda memberikan suara bagi mereka yang dianggap memenuhi syarat sebagai pemimpin yang baik di masa depan.

Purnomo Yusgiantoro

Purnomo Yusgiantoro adalah Guru Besar Tetap ITB dan Co-founder Universitas Pertahanan. Tokoh ini juga kerap meminta para pemuda belajar menjadi pemimpin selagi muda. Baginya, pemimpin itu tidak terlahir dengan sendirinya, tapi terbentuk pengalaman dan kerja keras tiada henti.

Peraih 15 tanda jasa dari Pemerintah RI itu mengingatkan kaum muda jika tidak belajar jadi pemimpin mulai sekarang, maka akan sukar untuk menjadi penerus. Salah satu ciri pemimpin berintegritas menurut Purnomo, adalah keselarasan antara kata dan kelakuan.

"Jadi jika ada calon pemimpin yang tidak konsisten antara perkataan dan perbuatannya, jangan pilih dia," (dalam Republika.com)

Menurutnya, Indonesia butuh pemimpin yang bisa menjadi teladan bagi rakyatnya. Saat ini banyak pemimpin yang sifatnya masih transaksional, artinya melakukan sesuatu hanya didasarkan atas aturan formal dan otoritas birokrasi. Hal itu menurut Purnomo sudah ketinggalan zaman. Sehingga saat ini yang dibutuhkan adalah kepemimpinan transformasional, yang kreatif dan bisa jadi agen perubahan.

Lebih lanjut Purnomo mengatakan, pemimpin transformasional juga menyaratkan sosok yang tidak hanya mau didengar, tapi juga harus mau mendengarkan.  Jika tidak, maka perubahan yang terjadi hanyalah untuk kepentingan dirinya sendiri.

"Pemimpin itu tidak berpikir tentang apa yang ia dapat dari negaranya, tetapi apa yang bisa ia berikan pada negaranya," katanya.

Sugiri Syarief

Mantan Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Dr dr Sugiri Syarief menjelaskan bahwa jumlah generasi muda di dunia yang terus meningkat akan menjadi sumber daya pembangunan negara bila potensi mereka dapat dimaksimalkan. Pada saat yang sama, jumlah kawula muda yang banyak juga dapat menjadi permasalahan bila potensinya tidak dimaksimalkan secara positif.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2