Mohon tunggu...
H. H. Sunliensyar
H. H. Sunliensyar Mohon Tunggu... Kerani Amatiran

Toekang tjari serpihan masa laloe dan segala hal jang t'lah oesang, baik jang terpendam di bawah tanah mahoepun jang tampak di moeka boemi

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Ketika TBC Dikira Termakan Racun Tradisional, Sisi Lain Kehidupan Orang Kerinci

3 Februari 2020   16:20 Diperbarui: 4 Februari 2020   17:33 570 9 2 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Ketika TBC Dikira Termakan Racun Tradisional, Sisi Lain Kehidupan Orang Kerinci
Ilustrasi TBC, tuberculosis (Shutterstock) via Kompas.com

Cerita ini adalah cerita nyata, yang terjadi dan saya saksikan sendiri di lingkungan tinggal saya di Kerinci. Ada satu keluarga yang saya kira mereka dikucilkan oleh masyarakat lain di sekitarnya. 

Pengucilan tersebut bukan tidak ada sebabnya. Masyarakat percaya bahwa salah seorang dari anggota keluarga tersebut memiliki racun tradisional yang sangat kuat. 

Menurut ceritanya, orang yang memelihara racun dapat tertimpa kemalangan yaitu apabila racun ini tidak diberikan kepada orang lain atau kepada musuhnya, maka ia akan menyerang anggota keluarga sendiri, membunuh mereka satu persatu. Ibarat senjata makan tuan. 

Seperti yang terjadi pada keluarga tersebut. Mula-mula sang kakek terkena penyakit. Ia menderita batuk terus menerus. Batuknya itu makin keras di malam hari hingga menjelang subuh. Para tetangganya pasti mendengar suara batuk yang tiada henti itu. 

Berat tubuh sang kakek lama kelamaan menurun. Ia kurus kering karena nafsu makannya menurun. Selain itu, kulitnyapun semakin memucat warnanya. Kondisi tersebut berlangsung berbulan-bulan hingga membawa sang kakek kepada kematian. 

Penderita TBC (ilustrasi). Sumber: dailymail.co.uk
Penderita TBC (ilustrasi). Sumber: dailymail.co.uk
Setelah kematian sang kakek, istrinya pun mulai menderita gejala yang serupa. Di mulai dengan batuk terus-menerus diikuti dengan tubuh yang semakin kurus. Seingat saya, sang istri menderita hal tersebut selama lebih kurang empat tahun hingga kemudian meninggal. 

Kakek dan istrinya itu, tinggal satu atap dengan dua anak perempuan  dan juga cucu-cucu mereka. Dua anak perempuannya itu juga menderita gejala penyakit dengan ciri-ciri yang persis sama dengan penyakit kedua orang tua mereka di masa lalu. 

Kedua saudari ini juga meninggal akibat penyakit tersebut. Jarak meninggal mereka kurang lebih satu tahun. Penyakit tersebut tak berhenti di sana.

Berturut-turut dua orang cucu lelaki mereka juga meninggal akibat menderita penyakit yang sama. Mereka meninggal dalam usia yang masih sangat muda yakni dua puluhan tahun. Kini, satu orang cucu lelaki yang tertua tampaknya juga menderita penyakit yang sama. Kondisinya semakin hari-semakin parah. 

Penyakit "aneh"  yang menimpa keluarga besar ini tak membuat tetangganya simpati akan tetapi malah dijauhi. Para tetangga percaya bahwa keluarga itu diserang racun tradisional. Pemiliknya adalah salah seorang dari menantu lelaki mereka yang masih hidup. Racun tersebut telah menyerang keluarga satu persatu dan turun menurun lantaran tidak diberi kepada orang lain. 

Walhasil keluarga itu dikucilkan oleh tetangganya, karena ketakutan akan termakan racun yang dimiliki oleh keluarga tersebut. Mereka paling akan datang menjenguk setelah penderitanya berada diambang kematian. 

Orang Kerinci memang memiliki ketakutan luar biasa terhadap racun tradisional ini. Mereka mengenal dua jenis racun yaitu "upeh" dan "racun". Upeh ini mampu membunuh korbannya seketika. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x