Mohon tunggu...
H. H. Sunliensyar
H. H. Sunliensyar Mohon Tunggu... Kerani Amatiran

"Toekang tjari serpihan masa laloe dan segala hal jang t'lah oesang, baik jang terpendam di bawah tanah mahoepun jang tampak di moeka boemi"

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Tradisi Buang Sampah Sembarangan di Indonesia

4 Agustus 2019   09:43 Diperbarui: 4 Agustus 2019   09:46 0 2 2 Mohon Tunggu...
Tradisi Buang Sampah Sembarangan di Indonesia
Gambar 1. Ilustrasi buang sampang sembarangan. Sumber: titiknol.co.id

Sampah terutama sampah plastik menjadi isu utama masalah lingkungan di berbagai belahan dunia saat ini. Apalagi di negara kita, Indonesia dimana buang sampah sembarangan telah menjadi tradisi masyarakatnya di dalam sudut pandang saya. 

Tradisi di dalam KBBI diartikan sebagai adat kebiasaan turun temurun dari nenek moyang yang masih dijalankan masyarakat. Pengertian ini dipertegas lagi oleh Soekamto(1990) yang mengatakan bahwa tradisi adalah kegiatan yang dilakukan oleh sekelompok masyarakat dengan secara langgeng (berulang-ulang).  

Memang benar, perilaku buang sampah sembarangan ini merupakan warisan leluhur kita dan salah satu tradisi yang masih kekal dijalankan hingga kini oleh sebagian masyarakat

Tak ada satupun tinggalan arkeologis ataupun sakedar relief di dinding candi tentang adanya tempat pembuangan sampah khusus yang dibuat di masa lalu. 

Nenek moyang kita meninggalkan sampah sembarangan, baik sampah-sampah makanan maupun sisa-sisa pembuatan alat-alat mereka ditinggalkan begitu saja pada tempat mereka mengolah dan mengonsumsi bahan tersebut. 

Meskipun demikian, keberadaan sampah kerang/tumpukan yang dikenal juga sebagai "kjokkenmoddinger" menjadi pengecualian sebab masih jadi perdebatan hangat apakah samapah-sampah tersebut mereka buang pada tempat khusus ataukah merupakan bagian dari kebiasaan buang sampah sembarangan di masa lalu. Tinggalan sampah dan sisa-sisa ini juga menjadi suatu hal yang dicari arkeolog sebagai data dalam ilmu arkeologi.

Pada beberapa etnis di Indonesia, buang sampah sembarangan juga merupakan tradisi dari nenek moyang mereka. Orang Dayak misalnya, sengaja membuat lantai rumah panggung agak jarang agar memudahkan mereka membuang sampah sisa makanan dari dalam rumah mereka. 

Pun begitu pula dalam masyarakat Kerinci, nenek saya sendiri membuang sampah-sampah sisa makanan langsung dari jendela dapur ke luar rumah. Hal ini menurut pengamatan hampir merata dilakukan oleh generasi-generasi tua setingkat almarhumah nenek saya.

Apakah mereka sedemikian joroknya? --Tentu saja saya mengambil istilah jorok ini dari sudut pandang kita kini---Kalau kita cermati lagi, sampah-sampah yang mereka buang di sembarangan tempat di masa lalu sebagian  adalah sampah organik. 

Makanan dan apa-apa yang mereka gunakan termasuk tas, alat makan dan lain sebagainya sebagian besar terbuat dari bahan organik yang berasal dari lingkungan di sekitar mereka. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3