H. H. Sunliensyar
H. H. Sunliensyar Student

"Tukang cari serpihan masa lalu" IG: @hafiful_hadi, Email: hafifulhadi222@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Regional Pilihan

Beberapa Catatan Penting Mengenai Klaim Kepemilikan atas Gunung Kerinci (Tanggapan)

19 Februari 2018   20:58 Diperbarui: 20 Februari 2018   05:46 2600 0 2
Beberapa Catatan Penting Mengenai Klaim Kepemilikan atas Gunung Kerinci (Tanggapan)
piek van de vulkaan (vermoedelijk) Korintji gezien vanaf Loeboe Gedang gezien Sumatra`s Westkust 1877-1879, Dok. commons.m.wikimedia.org

Saya sangat senang bahwa artikel saya sebelumnya yang berjudul "Menyikapi klaim kepemilikian Sumbar dan Jambi atas Gunung Kerinci" (lihat di sini) mendapat respon sekaligus kritik dari saudara Ghiovani Debrian dalam tulisannya "catatan saya atas artikel Hafiful Hadi " (lihat di sini). Bak kata pepatah "gayung bersambut, Andai Bertingkah, kata berjawab". Oleh sebab itu, melalui tulisan ini saya merespon sekaligus menjawab beberapa persoalan sebagaimana yang telah dilontarkan saudara Ghiovani Debrian.

Pertama, Ghiovani menyebutkan bahwa nama Gunung Kerinci dahulu kala bukan hanya Gunung Berapi tetapi Gunung Berapi Hilir, bahkan disajikan beberapa data hasil alihaksara naskah piagam kaum adat Kerinci oleh Voorhoeve (1941) dan alihaksara cap mohor Sultan Abdul Djalil. Namun, agaknya Ghiovani keliru dalam menginterpretasikan alihaksara teks naskah karena hanya dipenggal beberapa kata saja sehingga lepas dari konteks aslinya. Oleh sebab itu marilah kita tinjau alih aksara teks secara keseluruhan. 

Dalam naskah piagam Depati Mangku Bumi Tuo Suto Menggalo (TK 171)-- dalam hal ini Voorhoeve menyebutnya sebagai Soetan Nanggalo-- disebutkan bahwa "Sehingga kaki Gunung BerapiHilir, sehingga Tebing Tinggi Mudik dan sehelai kayu, seekor ikan, setitik air, sebatang laras ialah Depati mangku Bumi empunya segala" atau dalam naskah piagam lain (TK 173) yang berbunyi "bahwa ini surat cap celak piagam yang dijunjungkan oleh Seri Sultan Anum Suria Ingalaga serta Pangeran Temenggung Mangku Negara kepada Depati Raja Simpan Bumi, Dipati Intan, Dipati Mangku Bumi. Hilir sehingga Tebing Tinggi, mudik tersekut ke Gunung Berapi, ialah depati yang batiga punya, serta anak jantan anak betinonya, sebatang larisnya, setitik airnya, sekapan tanahnya, ialah depati yang batiga punya, Dipati Raja Simpan Gumi, Depati Intan, Depati Mangku Gumi. Itulah gedang yang bertiga berat sama2 dipikul, ringan sama2 dijinjing adanya"

Kata "hilir" dan kata "mudik" di Kerinci (bahkan di Sumatra) umumnya digunakan untuk menunjukkan arah menggantikan sistem mata angin. Hilir berarti arah muara sungai dan mudik menunjukkan arah hulu Sungai. Sehingga maksud "hilir" dan "mudik" ini berbeda-beda di setiap kawasan,tergantung di mana posisi atau titik pandang itu diambil dan sungai mana yang dijadikan sebagai acuan. 

Dari interpretasi saya, kata mudik dan hilir dalam naskah TK 171 sesungguhnya untuk menjelaskan bahwa wilayah Depati Mangku Bumi Suto Menggalo adalah dari kaki Gunung Berapi ke hilirnya (ke Selatan) dan dari Tebing Tinggi (nama tempat) ke arah mudiknya (ke arah Utara).

Gunung Berapi dan Tebing Tinggi menjadi dua lokasi yang menjadi titik awal perhitungan (tunggul baruan) ulayat.  Paralel dengan naskah TK 173 tetapi dengan diksi yang berbeda. Naskah TK 173  menunjukkan bahwa wilayah tiga orang Depati, mudik (arah ke hulu) 'tersekut' ke Gunung Berapi dan Hilir (arah ke hilir) hingga Tebing Tinggi.   Lebih lanjut bahwa arti kata 'tersekut' dalam naskah TK 173 ini merupakan bahasa Kerinci yang tidak ditemui dalam KBBI. "Sekut" dalam bahasa Kerinci diartikan sebagai mencakup atau melingkupi.

Arah Hilir dari Gunung Berapi
Arah Hilir dari Gunung Berapi
Sama halnya dengan alihaksara dari dua cap mohor yang terdapat di dalam katalog Dr. Annabel Teh Gallop no 661 dari Manuscript SOAS MS 40320111, f. 122 sebagaimana yang dimuat Giovani dalam tulisannya, "Sultan AbdulJalil yang [mempunyai] tahta kerajaan [negeri]Minangkabau mengaku anak kepada Sultan Abdul j.a.l.b.nyang punyai tahta kerajaan negeri jambi menyerahkan rakyathingga kaki Gunung Berapi hilir hulu dari Jambi mudik",atau dari stempel lain yang berbunyi 'Sultan Abdul Jalil yang mempunyai tahta kerajaan negeriMinangkabau yang mengurniai Paduka Anakda BagindaGelar Sultan MahmudSyah yang di alas tahta kerajaannegeri Johor menyerahkan segala anak Minangkabau hinggakaki Gunung Berapi hilir [sampai'] ke laut",bahwa maksud "Gunung Berapi Hilir" adalah Gunung Berapi ke arah hilir.

Singkatnya, kata "hilir" dari naskah-naskah ataupun cap mohor ini menunjukkan ke arah hilir dari gunung berapi bukan posisi gunungnya yang berada di hilir. Soalnya ialah Gunung Berapi (Kerinci) baik dilihat dari Solok Selatan (Acuan Sungai Batang Sangir) maupun Kerinci (acuan Hulu dari anak-anak sungai yang bermuara ke Batang Merao) tetap posisinya di Mudik (di hulu Sungai) bukan di hilir atau muara Sungai.

Lebih Lanjut, isi teks naskah piagam milik Depati-Depati yang ada di Siulak, Kerinci dengan teks dari dua Cap Mohor sangatlah berbeda. Naskah piagam secara tegas menyebutkan bahwa kekuasaan Depati Intan, Depati Mangku Bumi dan Depati Raja Simpan Bumi dan rakyatnya (diistilahkan dengan anak jantan-anak batinonya) meliputi segala sumber daya alam yang diistilahkan dengan "setitik air, sebatang laras, seekor ikan, sekepal tanah" yang berada dalam batas-batas wilayah sebagaimana bunyi naskah piagam (TK 173). Sedangkan, teks cap mohor hanya menyebutkan "menyerahkan segala anak Minangkabau" atau "menyerahkan rakyat"  yang berada di kawasan Gunung Berapi ke arah hilir.  bukan kekuasaan atas lahan, tanah, maupun sumber-sumber daya alam tetapi menyerahkan kekuasaan atas rakyat atau anak  Minangkabau kepada penguasa yang ditunjuk.

Sumber lain yang menegaskan bahwa nama Gunung Kerinci mulanya adalah Gunung Berapi tanpa embel-embel hilir adalah laporan dari kontrouler van Indrapura W.C. Hoogkamer tertanggal 31 Desember 1876 dalam Verhandelingen van Het Bataviaasch Genootschap van Kunsten En Wetenschappen. Deel XXXIX. 

Kedua, Giovani mempersoalkan tentang wilayah di Utara Gunung Kerinci yang hanya disebutkan Kerajaan Sungai Pagu padahal di Selatan Minangkabau terdapat wilayah lain seperti Rantau XII Koto dan Kerajaan Jambu Lipo. Untuk itu,marilah kita lihat masalah ini dari dua perspektif yaitu dari perspektif masyarakat Kerinci berdasarkan sumber naskah Tambo dan Naskah Piagam yang ada di Kerinci dan dari perspektif masyarakat Minangkabau bersumber pada naskah tambo yang ada di Rantau XII Koto ataupun dari  Kerajaan Sungai Pagu. 

Rantau XII Koto memang tidak familiar dalam telinga masyarakat adat Kerinci, sehingga batas-batas di Utara Wilayah Kerinci selalu disebutkan berwatas dengan Yang dipatuan Marajo Bungsu Bagumbak Putih Bajanggut Merah diam (berkedudukan) di Lekuk (lembah) Sungai Pagu, naskah TK 161 juga memuat gelar Yang Dipatuan Marajo Bungsu namun tidak menyebutkan tempat kediaman/kedudukannya.

Dalam beberapa sumber yang saya baca Rantau XII Koto adalah wilayah jajahan dari raja ke tiga  dalam periode awal Kerajaan Sungai Pagu yaitu Niniak Sutan Parendangan Bagumbak Putiah Bajangguik Merah yang berkedudukan di Koto Tuo (Alam Pauah duo) (lihat di sini atau di sini ). Namun berbeda dengan saat ini, gelar Yang Dipatuan Marajo Bungsu justru tidak digunakan lagi di Kerajaan Sungai Pagu melainkan di wilayah Rantau XII Koto. Sebagaimana diketahui Kerajaan Sungai Pagu saat ini dipimpin oleh Raja Nan IV yaitu Raja Alam Daulat Yang Dipertuan Sultan Besar Tuanku Rajo Disambah, Raja Adat Yang Dipertuan Besar Tuanku Rajo Bagindo, Raja Ibadat Tuanku Rajo Batuah, dan Rajo Tigo Lareh Tuanku Rajo Malenggang (lihat di sini). 

Oleh sebab itu, mestilah ditelusuri kapan perjanjian batas wilayah antara Kerinci dan Sungai Pagu dibuat? apakah ketika raja yang bergelar YDP Marajo Bungsu Bagumbak Putih Bajanggut Merah itu masih berkedudukan di wilayah Sungai Pagu atukah sudah berpindah kedudukannya di Rantau XII Koto (Lubuk Gadang)?Karena perjanjian batas wilayah ini merupakan bagian dari dinamika sejarah masa lalu di ke dua wilayah sehingga tidak bisa dilihat dari struktur adat/pemerintahan adat yang sekarang. Hemat saya, berdasarkan Tembo Kerinci perjanjian batas ulayat ini dibuat ketika YDP Marajo Bungsu Bagumbak Putih Bajanggut Merah masih berdiam/berkedudukan di Koto Tuo, Banuaran (Alam Pauah Duo). 

Bagi saya, persoalan di mana kedudukan YDP Marajo Bungsu dalam permasalahan pemilik Gunung Kerinci ini tidak begitu penting. Yang jadi soal adalah adakah Gunung Kerinci ataupun Gunung Berapi disebut-sebut dalam batas-batas wilayah adat mereka. Oleh sebab itu saya merujuk pada dua sumber pertama,naskah Tembo keluarga Yang Dipatuan Marajo Bungsu Rantau XII Koto yang dimuat dalam De talen en letterkunde van midden-sumatra, 1881 (p. 160) (atau lihat di sini). Awal naskah tersebut berbunyi: 

"Njinjiek nan moelo – moelo, nan mantjantjang melotie negori doewo bole koto, nan bagalaw njinjiek soetan bandoro nan turun dari bukik seguntang – guntang, duo jo niniek Rajo Putieh, mulo – mulo mandopek ka gunuang nilam ijau, turun ka bulai duo, dari bulai duo ka koto tuo, dari koto tuo ka pasimpai. Negori – negori nan dalam pegangan yang di patoean Marajo boengsu sainggan patadjin muaro sebo , sainggan tanjuang simalidoe. Namo negori dalam iko : Tanjuang, simalidoe, Padang Loweh, Poelai, Siguntua, Loebuak Boelang, Sikabaoe, Soengai Dore, Pulaoe Poenjuang, Soengai Kilangan, Soengai Kambuik, Loeboeak oelang Aling, Dusun Tangah, Si Topoes, Abai, Muaro Ikua, Bidar Alam, Lubuak Malako, Jopang, Sampu, Lubuak Godang, Pasimpai, Tanjuang Alam, Tanjuang Balik, Sungai Limau, Batu Angi, Batu Kungkuang, Koto Ubi, Koto Ilalang, Talau, Junjuang Siriah, Tarantang, Sungai Tabakaw" (Veth, 1881:160). 

(Nyiyiek yang mula-mula, yang mencencang melati(?) negeri Dua Belas Koto, yang bergelar Nyinyiek Sutan Bandaro yang turun dari Bukit Siguntang-Guntang, dua dengan niniek Rajo Putieh, mula-mula mendapat ke Gunung Nilam Hijau,turun ke Bulai Duo, dari Bulai Duo ke Koto Tuo, dari Koto Tuo ke Pasimpai. Negeri-Negeri yang dalam pegangan Yang Dipatuan Marajo Bungsu Sehingga Petajin Muaro Sebo, Sehingga Tanjung Simalidu.

Nama Negeri dalam ini, Tanjung Simalidu, Padang Loweh, Pulai, Siguntur, Lubuk Bulang, Sikabu, Sungai Dareh, Pulau Punjung, Sungai Kilangan, Sungai Kambut, Lubuk Ulang Aling, Dusun Tengah, Sitapus, Abai, Muara Ikur, Bidar Alam, Lubuk Malako, Jopang, Sampu, Lubuk Gadang, Pasimpai, Tanjung Alam, Tanjung Balik, Sungai Limau, Batu Angi, Batu Kangkung,Koto Ubi, Koto Ilalalang, Talu,Junjung Sirih, Tarantang Sungai Tabakau).

Yang kedua Dari Tambo Alam Surambi Sungai Pagu (lihat di sini) disebutkan bahwa wilayah Kerajaan Sungai Pagu meliputi: Dari Balun Batu Ilie, lalu ke Languang dan Koto Baru, sampai ke Pauh Duo nan Batigo, Batang Marinteh Mudiak, lalu ke Sako Luhak Nan Tujuh, sampai ke Pesisir Banda nan Sepuluh, kalang Hulu Salido tumpuan Aie Haji (Dari Balun Batu ke hilir, terus ke Languang dan Koto Baru, sampai ke Pauah Duo nan Batigo, Batang Marinteh ke mudik, terus ke Sako Luhak nan Tujuh, sampai ke Pesisir Banda nan Sapuluah). 

Ke dua tambo ini, baik yang berasal dari Rantau XII Koto maupun Alam Surambi Sungai Pagu, sama sekali tidak memuat kata Gunu(a)ng Berapi atau Gunung Kerinci. Tetapi Ghiovani mengatakan bahwa  "Wilayah-wilayah Pematang Rantau yang dibawahi oleh Tantua Raja Sahilan sebagai Pucuk Pimpinan Tiang Panjang Nan Batujuah Rantau XII Kota membawahi jalur lama menghilir menuju Kerinci termasuk didalamnya tertumbuk ke Gunung Berapi hilir adalah genggaman Daulat Yang Dipertuan Maharaja Bungsu diam di Rantau XII Koto". Tentu saja ini adalah interpretasi pribadi Ghiovani tanpa sumber yang jelas. Soalnya kedua tambo sama sekali tidak menyebut Gunung Berapi. Apalagi dia mengatakan 'menghilir' menuju Kerinci, kira-kira sungai manakah yang bermuara ke wilayah Gunung Berapi (Gunung Kerinci)?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2