Mohon tunggu...
Hafid Zaeni
Hafid Zaeni Mohon Tunggu... Lainnya - Hamba yang fakir ilmu

Sedikit informasi tentang saya saja. Mahasiswa dan Seorang yang fakir ilmu. Hidup saya hanya ikhtiqr dan doa. Selain itu tidak ada tendensi apapun. Cukup itu aja dulu

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud

Maulid Nabi : Mencintai Tanpa Tapi

21 Oktober 2021   03:21 Diperbarui: 21 Oktober 2021   03:37 427
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Tulisan ini saya awali dari kutipan Syekh Hasan menegaskan:


“Sungguh telah menjadi penunjuk kepadaku, bahwa sungguh Dinasti Bani Fatimah merupakan kelompok pertama yang merealisasikan gagasan perayaan untuk mengingat kelahiran Nabi Muhammad.” (Hasan as-Sandubi, Tarikhul Ihtifal bil Maulidin Nabawi, [Matba’ah al-Istiqamah, cetakan pertama: 1980], halaman 60-65).


Dinasti Bani Fatimah berlokasi di tunisia yang didirikan oleh Sa’id ibn Husayn, Wilayah kekuasaannya meliputi Afrika Utara, Mesir dan Suriah. Sistem khilafahan Dinasti Bani Fatimah diawali dari madzhab Ismailiyah, gerakan golongan syiah. Kecenderungan akidah dan keyakinan mereka pada kepemimpinan sayyidina Ali bin Abi Thalib, sayyidina Hasan dan sayyidina Husain dan menolak khalifah sayyidina Abu Bakar, Umar dan Ustman.


Syekh Hasan as-Sandubi menegaskan bahwa Perayaan maulid nabi Muhammad SAW tepat di masa Dinasti Bani Fatimah. Namun sebagaimana kecondongan mereka pada syi’ah. tidak hanya merayakan maulid nabi Muhammad SAW, perayaan lain seperti :  perayaan hari Asyura, maulid Ali bin Abi Thalib, maulid Sayyidina Hasan dan Husain, maulid Fatimiyah, perayaan tahun baru Persia, Idhul Adha, malam pertama Ramadhan, Rajab dan Sya’ban.


Perayaan di masa Dinasti Bani Fathimiyah semakin pesat sampai runtuh dan umat islam beralih dipimpin oleh para ulama dan golongan kerajaan yang berafiliasj dengan ajaran ahlu sunnah wal jamaah. Sehingga konsep perayaan nya tidak sama seperti pada masa Dinasti Fathimiyah.


Sultan Nuruddin, seorang penguasa syiriah pada 511 H. Mengkhususkan hanya perayaan maulid nabi  Muhammad Saw dan tidak mencampuri dengan perayaan seperti (diatas). Agar tidak menimbulkan mafsadah dan keharaman dalam islam sebagaimana perayaan syiah di atas.


Hingga saat ini, peringatan maulid nabi Muhammad SAW berkembang luas dan pesat. Di indonesia, mulai dari instansi sampai organisasi, dari masyarakat kota sampai desa turut merayakan peringatan maulid nabi Muhammad SAW. Wujud kita senantiasa bersholawat kepada Rosulullah Muhammad SAW dengan keistimewaan baginda. Shollu ala muhammad.

Peringatan maulid nabi di desa pancur-lumbang, pasuruan
Peringatan maulid nabi di desa pancur-lumbang, pasuruan


Subtansi


Pada perayaan peringatan maulid nabi setidaknya kita harus mengetahui makna di dalamnya. Nilai-nilai yang berharga pada pribadi dan kehidupan rosullullah Muhammad SAW, beliau insan yang sangat kompleks, tidak satupun insan yang mampu menyamainya. Kelahiran dan keutusannya menjadi rahmatan lil a’lamin bagi alam semesta. Beliau yang menuntun kita dari alam kegelapan ke alam yang terang yakni a’dinul islam wal iman. Peringatan maulid nabi menjadi bentuk kita dalam mengukuhkan  komitmen dan loyalitas kepada beliau.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Sosbud Selengkapnya
Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun