Mohon tunggu...
Hadi Santoso
Hadi Santoso Mohon Tunggu... Penulis - Penulis. Jurnalis.

Pernah sewindu bekerja di 'pabrik koran'. The Headliners Kompasiana 2019, 2020, dan 2021. Nominee 'Best in Specific Interest' Kompasianival 2018. Saya bisa dihubungi di email : omahdarjo@gmail.com.

Selanjutnya

Tutup

Entrepreneur Artikel Utama

Setop Judes, Pelaku UMKM hingga Pemilik Warung Perlu Menguasai Skill Berbicara Baik

23 September 2022   10:49 Diperbarui: 24 September 2022   12:57 560 14 4
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Pelaku UMKM perlu menguasai skill berbicara baik kepada orang lain demi membesarkan usahanya/Foto: Kompas.com

Entah sudah menjadi suratan takdir atau belum mendapatkan pencerahan, ada banyak orang berdagang tapi tidak paham bagaimana cara berkomunikasi yang baik kepada pembeli yang datang ke toko/lapaknya.

Di beberapa kota yang pernah saya tinggali selama hidup dan bekerja sebagai 'buruh pabrik koran' (baca jurnalis), saya tidak sekali dua kali, tapi beberapa kali menemukan jenis orang seperti ini.

Mereka yang cara berkomunikasinya buruk, bersikap jutek, bermuka masam, dan tidak ramah ketika ada calon pembeli yang mampir ke lapak dan toko dagangannya.

Pernah makan di warung, pelayan yang melayani dan yang punya warung, wajahnya cemberut. Pun, omongan yang keluar dari mulut mereka tidak enak didengar. Ketus. Judes.

Pernah juga, datang ke sebuah toko busana untuk membelikan istri mukena baru. Ketika istri tengah memilih-milih mukena yang akan dibeli, saya yang ikut masuk ke toko dan melihat-lihat barang jualan yang lain, malah ditanya dengan ketus.

"Nyari apa, ya pak?" ujar pelayan toko dengan nada menginterogasi.

Langsung saya jawab: "Nganterin istri saya, mbak?"

Lah, apa iya, saya yang mengantar istri berbelanja, harus menunggu di luar toko sembari main handphone di atas jok motor. Toh, saya juga tidak bikin rusuh di dalam tokonya. Hingga mereka terdiam ketika istri memutuskan membeli mukena di toko itu.

Dan memang, perlakuan jutek dan bermuka masam ini acapkali dipicu karena mereka menganggap kita datang ke tokonya hanya untuk melihat-lihat. Tidak beli. Mungkin, mereka menganggap kita tidak mampu beli karena melihat apa yang kita bawa.

Pernah saya dan istri, datang ke toko yang menjual kasur springbed dan furnitur rumah. Dari awal masuk toko, melihat-lihat ini itu, tidak ada pelayan toko yang mendampingi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Entrepreneur Selengkapnya
Lihat Entrepreneur Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan