Mohon tunggu...
Hadi Santoso
Hadi Santoso Mohon Tunggu... Penulis - Penulis. Jurnalis.

Pernah sewindu bekerja di 'pabrik koran'. The Headliners Kompasiana 2019, 2020, dan 2021. Nominee 'Best in Specific Interest' Kompasianival 2018. Saya bisa dihubungi di email : omahdarjo@gmail.com.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Bendera Lusuh dan Mereka yang Terdampak Pandemi

18 Agustus 2021   08:18 Diperbarui: 18 Agustus 2021   08:19 686
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Foto ilustrasi bendera Merah Putih berkibar.(KOMPAS.com/WAHYU ADITYO P

Tanggal lahir istri dan dua anaknya hingga tanggal pernikahan, dia bisa ingat. Bahkan, tanggal jadian semasa pacaran pun tidak lupa. Kecuali lupa menaruh kunci sepeda motor. Itu teka-teki yang belum terjawab.

Dia juga masih menyimpan pesan broadcast Pak RT di grup WhatsApp warga pada pekan pertama Agustus lalu yang mengingatkan warga agar segera memasang bendera merah putih.

Tentu saja, dia punya bendera merah putih di rumahnya. Namun, bendera itu tak kunjung dipasangnya. Penyebabnya, dia merasa malu. Itu karena warna bendera merah putihnya sudah lusuh.

Sudah beberapa tahun bendera itu mengangkasa setiap bulan Agustus. Waktunya diganti yang baru. Seperti bendera merah putih di rumah Pak Iwan yang warnanya kinclong dan berkibar gagah.

Apalagi, tiang bendera yang dulu dibeli berjamaah dengan para tetangga, kini entah hilang ke mana. Raib.

Dulu, ketika di taruh di halaman rumah, tiang itu seringkali dipakai anak-anak yang bermain bulutangkis untuk mengambil shuttlecock yang mengangkut di pohon. Atau mungkin juga ikut terbawa oleh tukang ketika ada sedikit renovasi di depan halaman rumahnya.

Dia tahu, tahun ini harus membeli bendera baru, juga tiangnya sekalian.

Baginya, bendera harus dipasang dengan gagah. Dia tak mau seperti nasib bendera di tepi jalan yang dipasang dengan tiang kayu asal-asalan. Melihatnya saja bikin merana.

Di situlah masalahnya. Gaizan tidak tahu bila sang ayah sedang mengalami kesulitan keuangan. Sebagai penulis lepas yang tidak punya kantor dan gaji tetap bulanan, ayahnya ikut terdampak Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) yang terus diperpanjang setiap pekan.

Dulu, jauh sebelum penerapan PPKM, ayahnya masih mendapatkan penghasilan tetap. Lumayan besar. Tak hanya honor dari menulis di majalah bulanan, ayahnya juga seringkali diundang instansi pemerintahan maupun kampus untuk bicara menjadi narasumber.

Bahkan, pernah juga jadi konsultan media di sebuah perusahaan besar. Itu berkah besar di masa pandemi yang awalnya terlihat kelam. Sebab, hampir semua instansi melakukan refocusing anggaran. Semua orang seolah menyimpan duitnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun