Mohon tunggu...
Hadi Santoso
Hadi Santoso Mohon Tunggu... Tukang Menulis

Pemungut kisah dari lapangan. Pernah sewindu bekerja di 'pabrik koran'. The Headliners Kompasianival 2019. Nominee 'Best in Specific Interest' Kompasianival 2018. Saya bisa dihubungi di email : omahdarjo@gmail.com.

Selanjutnya

Tutup

Bola Pilihan

Mimpi Juara Baru Liga Italia Ambyar, Serie A Akan Juventus pada Waktunya?

6 Juli 2020   07:44 Diperbarui: 6 Juli 2020   22:52 79 15 4 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Mimpi Juara Baru Liga Italia Ambyar, Serie A Akan Juventus pada Waktunya?
Skenario munculnya 'juara baru' di Liga Italia tidak kesampaian seiring penampilan loyo Lazio dan Inter Milan. Liga Italia yang awalnya seru, sepertinya akan kembali memunculkan Juventus sebagai juara, seperti dalam 8 musim terakhir/Foto: https://footballace.org/


Mario Balotelli memang tidak banyak omong seperti Zlatan Ibrahimovic. Dia lebih banyak diam. Pemalu bila di depan kamera. Tapi, sekali bicara, ucapan Balo seringkali jadi viral. Selain kocak, ucapan Balo juga seringkali memicu kontroversi.

Dia pernah berujar dirinya lebih baik dari Cristiano Ronaldo. Dia juga  pernah menyebut Silvio Berlusconi hanya tahu sedikit soal dirinya ketika menyebut Antonio Cassano talenta muda terbaik Italia.

Balo juga pernah menabrakkan mobil Audinya sembari membawa duit 5000 pounds di saku celananya. Ketika diinterogasi polisi karena alasan membawa uang dalam jumlah besar, dia menjawab singkat: "Karena aku kaya!".

Nah, Maret lalu, sesaat setelah Liga Serie A Italia diputuskan untuk berhenti sementara karena pandemi Covid-19, Balo yang kariernya kini meredup, kembali berkomentar.

Dia menyebut pihak operator Serie A sengaja menghentikan liga di pekan ke-26 setelah Juventus ada di puncak klasemen, menggeser Lazio. Kenapa liga tidak dihentikan ketika Lazio sedang di puncak klasemen.

Balo seolah ingin berujar, seandainya liga tidak berlanjut karena pandemi, maka Juve-lah yang akan dinyatakan juara. Sebab, Juve tengah memimpin klasemen. Bukan Lazio.

Terlepas dari ketidaksukaannya kepada Juventus, pernyataan Balotelli tersebut mungkin juga mewakili keinginan banyak pecinta Liga Italia yang ingin melihat tampilnya "juara baru" di Serie A.

Atas nama "demi menyelamatkan Serie A dari 'kebosanan', ada harapan agar juaranya kali ini bukan Juventus. Rasanya bosan bila Juve yang terus juara. Mereka juara beruntun sejak musim 2011/12 silam.  Bayangkan, delapan musim, selalu tim itu juaranya.

"Calon juara baru" melempem sejak Serie A di-restart

Yang terjadi, Liga Italia kembali diputar. Restart. Tidak ada juara karena penunjukan. Artinya, harapan untuk melihat "tim bukan Juventus" yang juara, kembali terbuka lebar.

Apalagi, ketika Liga Italia kembali dimulai pada 23 Juni lalu, selisih poin Lazio dengan Juventus hanya berjarak satu (1) poin. Sementara, masih ada 12 pertandingan. Masih ada 36 poin yang bisa diraih. Artinya, peluang melihat "bukan Juve yang juara" itu masih terbuka.

Apalagi, tiga hari jelang restart Serie A, Juve kalah di final Coppa Italia. Mereka kalah adu penalti 2-4 dari Napoli. Media-media di Italia juga memberitakan terjadi friksi di kubu Juve. Mantan presiden klub Juve, bahkan menyindir Juve nya Maurizio Sarri mengecewakan.

Artinya, ada harapan, Lazio yang mampu mengalahkan Juve pada pertemuan di bulan Desember, akan bisa bersaing di jalur juara. Terlebih, Lazio tidak pernah lagi kalah dalam 21 laga, menang 17 kali dan imbang 4 kali.

Namun, yang terjadi, harapan tinggal harapan. Lazio yang dijagokan bisa bersaing di jalur juara, ternyata malah melempem di laga awal restart. Lazio kalah 2-3 dari tuan rumah Atalanta pada 25 Juni lalu.

Dan, pada akhir pekan kemarin, Lazio yang bermain di kandang sendiri, dipermalukan AC Milan 3-0. Dalam empat laga setelah Serie A restart, Lazio kalah dua kali dan menang dua kali.

Nasib serupa juga dialami Inter Milan yang sejatinya masih punya peluang. Sejak laga restart, dari empat kali main, Inter meraih tiga kemenangan dan sekali imbang. Bahkan, pada 2 Juli lalu, Inter Milan menang 6-0 atas Brescia.

Namun, Minggu (5/7) tadi malam, Inter justru kalah di kandang sendiri. Siapa menyangka, Inter yang sedang ganas, malah dipermalukan Bologna 1-2 di kandangnya sendiri.

Bagaimana dengan Juventus?

Mereka terus menang. Empat laga dilewati dengan kemenangan. Terbaru, Juventus meraih kemenangan 4-1 atas tim sekota, Torino pada Sabtu (4/7) malam kemarin.

Karenanya, kombinasi kemenangan beruntun Juve, juga "kado" dari Milan saat mengalahkan Lazio dan tumbangnya Inter Milan, membuat peta persaingan juara di Liga Italia menjadi mudah ditebak.

Ya, hanya dalam empat laga, seiring penampilan loyo Lazio dan juga kekalahan Inter, harapan "asal bukan Juve yang juara" itupun seolah kandas. Berganti tagline "semua akan Juve pada waktunya".

Sebab, Juventus kini memimpin klasemen dengan 75 poin. Mereka unggul 7 poin dari Lazio (68 poin) dan 11 poin dari Inter (64 poin) dengan liga menyisakan 8 laga.

Memang, apapun masih bisa terjadi dalam 8 laga terakhir ke depan. Tetapi, rasanya sulit mengejar Juve yang sudah melaju gas pol. Sulit mengandaikan Juve bakal 'terpeleset' (kalah) di tiga laga dan Lazio terus menang. Pendek kata, sulit membayangkan Lazio bakal menggeser Juve dari puncak klasemen.

Faktor Cristiano Ronaldo jadi pembeda

Mengapa Juve bisa melesat meninggalkan Lazio hanya dalam empat pertandingan?

Motivasi menjadi kunci. Usai kekalahan adu penalti dari Napoli di final Coppa Italia, Juve langsung 'mengamuk' di Liga Italia. Si Nyonya Tua--julukan Juve, tidak ingin mengakhiri musim tanpa gelar. Bilapun Coppa Italia lepas, Serie A tidak boleh ikut lepas.

Namun, bila bicara motivasi, seharusnya pemain-pemain Lazio juga memiliki motivasi yang tidak kalah besar. Bahkan mungkin lebih besar.
Sebab, bila pemain-pemain Juve dalam 8 tahun terakhir selalu merayakan gelar di akhir musim, Lazio sudah menunggu 20 tahun.

Kali terakhir Lazio juara pada musim 1999/20 ketika mereka punya skuad impian. Nah, peluang kembali juara setelah dua dekade, seharusnya membuat motivasi tim asuhan Simone Inzaghi membuncah.

Tapi kenyataannya tidak begitu. Lalu, apa yang membedakan keduanya?

Bukan melulu motivasi. Tapi kemampuan dalam mengatasi tekanan. Serta, kondisi tim setelah tiga bulan tanpa berkompetisi. Dalam hal ini, Juventus beruntung memiliki Cristiano Ronaldo.

Ya, di situasi mendebarkan persaingan ketat menuju akhir kompetisi, Juve beruntung memiliki pemain sekelas Ronaldo. Pemain bermental pemenang yang menyukai tantangan. Di usianya yang kini sudah 35 tahun, Ronaldo memberi bukti, dirinya masih bisa diandalkan.

Faktanya, di empat pertandingan terakhir, Ronaldo selalu bikin gol.
Lima hari usai kekalahan dari Napoli, Ronaldo membawa Juve menang 2-0 atas tuan rumah Bologna (23/6). Dia mencetak satu gol dari penalti. Gol yang seperti menjadi penegas. Bahwa, kegagalannya mengambil penalti saat melawan Milan, hanya karena dirinya sedang sial.

Empat hari berselang, dia kembali membuat satu gol dari titik penalti saat Juventus menang telak, 4-0 atas Lecce. Lantas, di awal Juli, Ronaldo mencetak gol keren dari luar kotak penalti ketika Juve menang 3-1 atas Lecce.

Sebelum mencetak gol, Ronaldo membawa bola dari tengah lapangan dan menggiringnya di tengah hadangan beberapa pemain Genoa, sebelum melepas tendangan roket.

Dan, Minggu (5/7) dini hari kemarin, Ronaldo kembali jadi lakon utama saat Juventus mengalahkan Torino 4-1 di laga derby Turin. Ronaldo mencetak satu assist dan satu gol.

Nah, yang menarik, satu gol Ronaldo tercipta melalui tendangan bebas. Pemain yang identik dengan kostum nomor 7 ini akhirnya kembali bisa mencetak gol dari free kick. Sebelum gol itu, Ronaldo tidak pernah lagi mencetak gol free kick di klub dalam 42 kali percobaan.

Itu gol ke-25 Ronaldo di Liga Italia musim ini. Lebih baik dari pencapaiannya di musim perdananya lalu dengan 21 gol. Ronaldo kini jadi pemain pertama Juventus yang mencetak 25 gol di Serie A sejak Omar Sivori melakukannya pada musim 1960-61 lalu. Ulasan lengkapnya sebelumnya saya tulis di sini https://www.kompasiana.com/hadi.santoso/5f01567f097f3630d263de12/cristiano-ronaldo-melupakan-nestapa-seperti-lagu-let-it-be.

Ah, bila Ronaldo sudah ganas dan lapar gol, apa yang bisa dilakukan tim-tim pesaing Juve. Lazio hanya bisa meratapi, mengapa mereka tidak memiliki 'pemain unik' seperti Ronaldo ketika melakoni jadwal berat melawan Atalanta dan Milan.

Dalam pernyataan kepada awak media, pelatih Lazio, Simone Inzaghi menyebut timnya sedang bermasalah. Sementara pelatih Inter Milan, Antonio Conte, sudah mengisyaratkan mengibarkan bendera putih tanda menyerah. 

Dalam wawancara dengan Football Italia usai kekalahan dari Bologna dini hari tadi, Conte menyebut fokus utama timnya kini adalah mengamankan posisi empat besar untuk lolos ke Liga Champions.

"After gifting a game like this, and also the draw with Sassuolo, it becomes difficult. We have to secure the Champions League place as soon as possible and try to make fewer mistakes," ujar Conte dikutip dari https://www.football-italia.net/155467/conte-are-we-right-winning-inter .

Ah, Liga Serie A yang diharapkan berjalan seru ketika Liga Inggris musim ini mudah ditebak siapa juaranya, ternyata sama saja. Pada akhirnya, semua akan Juventus pada waktunya. Salam.


VIDEO PILIHAN