Mohon tunggu...
Hadi Santoso
Hadi Santoso Mohon Tunggu... Bekerja Menulis

Pemungut kisah dari lapangan. Pewawancara. Pernah sewindu bekerja di 'pabrik koran'. The Headliners Kompasianival 2019. Nominee 'Best in Specific Interest' Kompasianival 2018. Saya bisa dihubungi di email : omahdarjo@gmail.com.

Selanjutnya

Tutup

Bola Pilihan

Liverpool Melawan "Mitos Sial" Liga Champions di Laga "Do or Die"

11 Maret 2020   14:38 Diperbarui: 11 Maret 2020   14:33 73 3 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Liverpool Melawan "Mitos Sial" Liga Champions di Laga "Do or Die"
Virgil van Dijk dan Roberto Firmino, wajib tampil hebat saat menjamu Atletico Madrid di Anfield pada leg II babak 16 besar Liga Champions, Kamis (12/3) dini hari nanti. Pertahanan dan lini serang Liverpool harus hebat bila ingin membalik kekalahan 0-1 di leg I dan lolos ke perempat final/Foto: bola.kompas.com

Pekan ini dan pekan depan akan menjadi periode menentukan bagi 16 tim kontestan babak 16 besar Liga Champions. Pekan menentukan, siapa saja tim yang akan tersingkir, atau lolos ke babak perempat final.

Rabu (11/3) dini hari tadi, dua tim terkenal dan cukup berpengalaman di Liga Champions, Tottenham Hotspur dari Inggris dan tim asal Spanyol, disingkirkan oleh dua tim 'tak terkenal' secara tragis.

Tottenham yang merupakan finalis Liga Champions musim 2018/19 lalu, out setelah tak berdaya melawan tim Jerman, RB Leipzig. Tottenham kalah telak 3-0 di Kota Leipzig, Jerman. Secara agregat, tim asuhan Jose Mourinho ini kalah 0-4 usai di laga pertama di London kalah 0-1.

Sementara Valencia, finalis Liga Champions edisi 2000 dan 2001, dipermalukan oleh tim debutan asal Italia, Atalanta, 3-4 di kandangnya sendiri. Total, Valencia kalah agregat 4-8 dari Atalanta karena juga kalah 1-4 sewaktu bermain di Italia pada leg pertama.

Nah, malam nanti waktu Eropa atau Kamis (12/3) dini hari waktu Indonesia, jumlah tim yang tersingkir dari panggung Liga Champions, akan kembali bertambah. Menariknya, deretan tim pesakitan itu bisa kembali berasal dari Inggris atau Spanyol. 

Ya, salah satu dari Liverpool atau Atletico Madrid yang akan bersua di Anfield pada laga kedua babak 16 besar, akan tereliminasi.

Laga ini akan menjadi "do or die" bagi kedua tim. Do alias lolos atau "die" alias mati (tersingkir). Utamanya bagi sang juara bertahan, Liverpool, yang dihadapkan pada tugas tidak mudah.

Liverpool yang di markas Atletico Madrid pada laga leg pertama tiga pekan lalu, kalah 0-1, kini harus menang dengan selisih dua gol bila ingin lolos ke perempat final.

Bila hanya menang dengan selisih satu gol semisal 2-1, 3-2 dan seterusnya, maka Liverpool akan tersingkir. Sebab, meski agregat gol akan sama, tetapi Atletico diuntungkan karena bisa mencetak gol di kandang lawan.  Sementara bila laga berakhir 1-0 untuk kemenangan Liverpool, maka dilanjutkan perpanjang waktu hingga adu penalti.

Bisakah Liverpool come back?

Bila pertanyaan itu sampean (Anda) sampaikan ke fans Liverpool, jawabannya pasti "bisa". Bahkan intonasinya menjadi lebih kuat: "sangat bisa". Paramaternya adalah come back hebat Liverpool di semifinal Liga Champions musim 2018/19 lalu.

Ketika kalah 0-3 dari Barcelona di kandang lawan pada laga leg pertama, Liverpool lantas come back dengan menang 4-0 di Anfield untuk lolos ke final. Situasi kini mirip dengan laga semifinal tak terlupakan itu.

Malah, situasi kali ini tidak terlalu mengerikan bila dibandingkan musim lalu. Lha wong Liverpool hanya butuh menang dua gol. Bukan empat gol seperti melawan Barcelona.

Lha wong menang 4 gol atas tim sekelas Barca saja bisa, masak menang dua gol atas Atletico tidak bisa. Karenanya, wajar bila fans Liverpool masih sangat optimis, The Reds bakal bisa remontada (bahasa Spanyol nya come back).

Dan memang, bila bermain di Anfield, fans Liverpool pantas percaya diri timnya bisa membalik ketertinggalan di leg I untuk lolos ke babak perempat final. Sebab, dalam 22 pertandingan terakhir di Anfield, Liverpool selalu menang.

Catatan lainnya, Liverpool di Liga Champions musim 2019/20 ini juga pernah keluar dari situasi pelik seperti ini. Di pertandingan terakhir fase grup, Liverpool juga dihadapkan pada laga "do or die" saat away ke Austria, menghadapi Salzburg. Liverpool harus menang bila ingin lolos. Yang terjadi, tim asuhannya Jurgen Klopp menang 2-0 dan lolos ke babak 16 besar sebagai juara grup.

Atletico punya potensi menyulitkan Liverpool

Rentetan bekal apik itulah yang akan menjadi modal bagi Liverpool menyambut Atletico Madrid di Anfield. Namun, bagaimanapun, menang dua gol tidak semudah meneruskan pesan broadcast di WhatsApp. Atletico tentu datang ke Anfield tidak untuk silaturahmi. Ada beberapa hal yang membuat Atletico bisa menyulitkan Liverpool.

Bagaimanapun, Atletico berbeda dengan Barcelona. Tim asuhan Diego Simeone ini punya tipikal bertahan lebih rapat bila dibandingkan Barcelona. Atletico juga tim yang kerapkali mengandalkan "adu fisik" pemain dibandingkan Barca yang lebih teknikal.

Bukan tidak mungkin, Atletico akan keluar menyerang di awal pertandingan untuk berusaha "mencuri gol", lantas 'memarkir bus' di depan gawang mereka. Strategi inipula yang diterapkan Atletico kala mengalahkan Liverpool di Madrid pada 19 Februari lalu.

Atletico punya bekal untuk kembali melakukan strategi itu. Untuk mencuri gol di Anfield. Dalam enam laga terakhir, Atletico selalu bisa mencetak gol baik di laga home maupun away. Kali terakhir Atletico tak bisa mencetak gol adalah saat kalah 0-1 dari Real Madrid pada 1 Februari lalu.

Diego Simeone juga akan mengandalkan beberapa pemain yang pernah bermain di Liga Inggris seperti Alvaro Morata, Diego Costa, Luis Felipe (ketiganya pernah bermain di Chelsea), dan Kevin Trippier yang merupakan eks pemain Tottenham.

Mitos "sial" juara bertahan


Satu lagi, pertemuan Liverpool melawan Atletico Madrid ternyata juga dinaungi 'mitos'. Sebuah mitos yang memihak Atletico dan buruk bagi Liverpool selaku juara bertahan. Mitos apa?

Bahwa, tidak sekali ini, Atletico yang dilatih Simeone bertemu tim juara bertahan di fase knock out. Sebelumnya, Atletico juga pernah bertemu tim juara bertahan. Ternyata, tim juara bertahan yang bersua timnya Simeone, langsung kandas.

Situasi itu terjadi pada musim 2015/16. Kala itu, Atletico bertemu Barcelona yang merupakan juara bertahan di musim 2014/15. Pertemuan itu terjadi di babak perempat final. Hasilnya, Atletico Madrid menyingkirkan Barcelona dengan agregat 3-2.

Namun, 'mitos' itu tidak berlaku bila Atletico bertemu tetangganya, Real Madrid. Nyatanya, dua kali bertemu Real yang berstatus juara bertahan, Atletico yang kandas. Itu terjadi di perempat final musim 2014/15, semifinal musim 2016/17.

Nah, menarik ditunggu, apakah cerita seperti Barcelona atau Real Madrid yang akan dialami Liverpool nanti?

Selain cerita Atletico melawan juara bertahan itu, sampean (Anda) yang mengikuti kabar Liga Champions, pastinya pernah mendengar 'mitos' juara bertahan tidak bisa juara back to back (beruntun).

Bahwa, sejak Liga Champions dipakai menggantikan format lama European Champions pada musim 1992/93, tidak ada tim juara bertahan yang bisa kembali juara di tahun berikutnya.

'Mitos' itu bertahan hingga musim 2014/15 atau selama 22 tahun. Real Madrid kemudian menjadi tim pertama yang bisa juara beruntun di musim 2015/16 dan 2016/17. Bahkan mencatat hat-trick juara. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN