Mohon tunggu...
Hadi Santoso
Hadi Santoso Mohon Tunggu... Tukang Nulis

Pemungut kisah dari lapangan. Pencerita. Pewawancara. Pernah sewindu bekerja di "pabrik koran". The Headliners Kompasianival 2019. Nominee 'Best in Specific Interest' Kompasianival 2018. Saya bisa dihubungi di email : omahdarjo@gmail.com.

Selanjutnya

Tutup

Bola Artikel Utama

London, "Home Sweet Home" Bayern Munchen di Liga Champions

26 Februari 2020   09:40 Diperbarui: 26 Februari 2020   13:23 1777 5 3 Mohon Tunggu...
Lihat foto
London, "Home Sweet Home" Bayern Munchen di Liga Champions
Robert Lewandowski (tengah) dan pemain-pemain Bayern Munchen, kembali meraih hasil bagus di London. Tadi pagi, Bayern mengalahkan tuan rumah Chelsea 3-0 di London/Foto: https://www.bavarianfootballworks.com

Kota London di Inggris kembali menjadi rumah yang menyenangkan bagi tim Jerman, Bayern Munchen. Selayaknya berada di rumah sendiri, Bayern merasakan kenyamanan, kesenangan, dan ketenangan ketika bermain di London. Dan, bila pemain bola merasa nyaman, senang, dan tenang, kabar gembira dari lapangan, hanya tinggal menunggu waktu.

Seperti itulah gambaran yang terjadi pagi tadi, Rabu (26/2), ketika Bayern yang kembali menyambangi London di laga pertama babak 16 besar Liga Champions, lagi-lagi meraih hasil menggembirakan.

Bertamu ke Stamford Bridge, markas Chelsea di wilayah London Barat, Bayern Munchen sekali lagi merasakan kenyamanan bermain di London. Mereka serasa bermain di rumah mereka sendiri. Rumah tercinta yang nyaman. Home sweet home.

Chelsea, sang tuan rumah yang diharapkan pendukungnya bisa berpesta di rumahnya sendiri, malah dipermalukan 0-3 di pertandingan yang baru berakhir sekira pukul 04.45 pagi waktu Indonesia.

Pertandingan ini sebenarnya sarat memori. Kental nuansa nostalgia. Di masa lalu, keduanya pernah bertemu dalam final Liga Champions 2012. Salah satu final Liga Champions paling dramatis yang digelar di Allianz Arena, markas Bayern.

Kala itu, Frank Lampard yang kini melatih Chelsea, masih menjadi kapten Chelsea. Selebihnya, tidak ada pemain Chelsea di final hebat itu yang masih berkostum The Blues.

Sementara di tim Bayern, tersisa tiga pemain yang hingga kini membela Die Roten. Yakni kiper Manuel Neuer, bek Jerome Boateng dan penyerang Thomas Muller. Ketiganya ikut bermain pagi tadi.

Kita tahu, laga dramatis tersebut berakhir 1-1. Bayern yang mencetak gol di menit ke-83 lewat Muller, merasa akan juara di rumahnya sendiri. Sebuah mimpi sempurna yang lantas dibuyarkan sundulan maut Didier Drogba di menit ke-88. Tidak ada gol lagi hingga akhir perpanjangan waktu.

Laga akhirnya ditentukan lewat adu penalti. Juan Mata yang jadi eksekutor pertama Chelsea, gagal. Sepakannya ditepis Neuer. Sementara tiga penendang Bayern, semuanya berhasil. Termasuk Neuer yang memperdaya Petr Cech.

Yang terjadi kemudian, dua penendang Bayern, Ivica Olic dan Bastian Schweinsteiger gagal. Sepakan Olic diblok Cech. Lalu sepakan Schweini menghantam tiang gawang. Drogba lantas tampil menjadi penentu. Chelsea pun memenangi adu penalti itu, 3-4.

Schweini menangis. Sementara pemain-pemain Chelsea berlarian seperti 'orang kesurupan'. David Luiz malah langsung menaiki gawang. Chelsea jadi tim pertama asal London yang juara Liga Champions.

Chelsea yang Dulu Bukanlah yang Sekarang

Namun, itu cerita dulu. Sudah hampir sewindu (delapan tahun) berlalu. Sekarang, ceritanya sudah sedikit berbeda. Bayern masih tim yang kuat. Mereka masih menjadi salah satu kandidat juara di Eropa.

Sementara Chelsea kini berisikan banyak pemain muda yang minim pengalaman tampil di Liga Champions. Karenanya, tidak mengherankan bila Bayern kali ini bisa menang besar di markas Chelsea.

Meski sebenarnya, Chelsea tidak inferior di kaki-kaki pemain Bayern. Terlebih di babak pertama. Ya, pertandingan tadi pagi sebenarnya menarik ditonton sejak menit awal.

Chelsea dengan skema bermain 3-4-2-1 dan Bayern dengan skema 4-2-3-1, saling serang dan bergantian menciptakan peluang. Namun, tidak ada gol di babak pertama.

Di babak kedua, Bayern langsung mencetak dua gol hanya dalam 4 menit. Penyerang sayap Bayern berusia 24 tahun, Serge Gnabry mencetak gol di menit ke-51 dan 54. Keduanya meneruskan umpan Robert Lewandowski.

Di menit ke-76, giliran Lewandowski mencetak gol usai meneruskan umpan terukur pemain belia kelahiran Liberia yang kini berkewarganegaraan Kanada, Alphonso Davies (19 tahun).

Data statistik pertandingan yang dilansir Soccerway memang menunjukkan Bayern layak menang. Bayern mendominasi permainan dengan penguasaan bola sebesar 63 persen. Lantas melakukan upaya ke gawang lawan sebanyak 11 kali berbanding 10 kali yang dilakukan Chelsea.

Dan, menang dengan skor 3-0 di kandang lawan dalam sistem pertandingan home and away, membuat Bayern bisa dibilang sudah melangkahkan satu kaki ke babak berikutnya.

Cerita Manis Bayern Munchen London

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x